Pasar minyak kembali menjadi pusat perhatian dalam risiko pasar kripto seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Presiden AS memperkirakan potensi gangguan selama empat minggu, yang dapat berdampak luas tidak hanya pada sektor energi tetapi juga pasar keuangan global.
Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewati jalur sempit antara Iran dan Oman. Perusahaan pengiriman Maersk sudah menghentikan semua transit melalui Selat Hormuz, yang memicu lonjakan premi asuransi kapal tanker dan meningkatkan risiko gangguan pasokan.
Menurut Goldman Sachs, nilai wajar minyak bisa naik antara 1 hingga 15 dolar per barel tergantung pada tingkat keparahan gangguan selama satu bulan. Penutupan lengkap jalur tersebut bisa menambah harga minyak hingga 15 dolar per barel, sementara gangguan parsial diperkirakan berdampak lebih moderat.
Pasar saat ini menunjukkan volatilitas tinggi dengan harga minyak sempat melonjak kemudian turun kembali di bawah 70 dolar per barel. Situasi ini menandakan sentimen pasar yang masih sangat rapuh menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Dampak utama kenaikan harga minyak terhadap kripto bukan berasal dari minyak itu sendiri, melainkan dari sisi likuiditas pasar global. Saat harga minyak naik, investor biasanya pindah ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, emas, dan obligasi, sehingga mengurangi permintaan terhadap aset risiko termasuk saham dan kripto.
Kenaikan harga minyak secara langsung memicu biaya transportasi dan manufaktur yang lebih tinggi. Hal ini berpotensi menaikkan angka inflasi (CPI) sehingga bank sentral mungkin harus menunda rencana pemotongan suku bunga atau pelonggaran kebijakan moneter.
Ketika ekspektasi inflasi naik, imbal hasil obligasi pemerintah biasanya ikut meningkat. Imbal hasil riil yang lebih tinggi membuat likuiditas di pasar menjadi lebih ketat dan menekan aset berisiko seperti Bitcoin yang cenderung bergerak sebagai aset dengan beta tinggi.
Siklus pengetatan likuiditas akibat kenaikan harga minyak berpotensi memicu repricing modal bernilai triliunan dolar. Akibatnya, tekanan harga bukan hanya terjadi pada saham tapi juga pada aset digital secara bersamaan.
Para analis Bloomberg mencatat bahwa pasar kripto yang beroperasi 24/7 mulai merespons ketegangan AS-Iran dengan sikap waspada. Mereka mengantisipasi risiko kontaminasi harga minyak terhadap pasar kripto saat pasar AS dibuka.
Likuidasi posisi leverage di pasar Bitcoin dan altcoin bisa terjadi dengan cepat apabila hasil obligasi dan harga minyak meningkat secara bersamaan. Hal ini memperbesar risiko penjualan paksa yang menekan harga pasar digital.
Mekanisme transmisi tekanan harga minyak ke pasar kripto dapat disederhanakan sebagai berikut:
1. Kenaikan harga minyak
2. Peningkatan inflasi umum
3. Penundaan pemotongan suku bunga oleh bank sentral
4. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah
5. Pengetatan likuiditas pasar
6. Penurunan permintaan dan harga aset berisiko, termasuk kripto
Selain itu, ketegangan geopolitik yang memburuk bisa menyebabkan efek domino lebih luas, misalnya risiko konflik yang menyebar ke Selat Taiwan. Hal ini akan memperdalam ketidakpastian perdagangan global dan memperbesar tekanan makroekonomi.
Dalam empat minggu ke depan, harga minyak akan menjadi indikator utama bagi pasar kripto. Jika ketegangan mereda dan harga minyak stabil, sentimen risiko di pasar digital dapat segera membaik. Namun, jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, pasar kripto kemungkinan akan menghadapi tekanan tajam dari sisi likuiditas.
Dengan bergulirnya dinamika ini, investor dan pelaku pasar kripto perlu terus mengamati perkembangan harga minyak dan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini akan menentukan seberapa besar tekanan yang akan dirasakan aset digital dalam waktu dekat.









