Peter Moore, sosok yang sangat dihormati dalam sejarah Xbox, baru-baru ini memberikan tanggapan tegas terkait kritik “gamer CEO” yang dilontarkan oleh Seamus Blackley, salah satu pendiri Xbox. Dalam wawancara eksklusif dengan GamesBeat, Moore menepis anggapan bahwa seorang CEO Xbox haruslah seorang gamer hardcore untuk bisa memimpin dengan baik.
Moore dikenal sebagai figur kunci yang membawa Xbox melewati masa-masa sulit hingga era Xbox 360 yang dianggap sebagai puncak kejayaan merek tersebut. Meskipun ia meninggalkan Microsoft pada 2007, pengaruhnya pada identitas dan perkembangan Xbox tetap sangat terasa hingga kini. Pandangannya mengenai kepemimpinan saat ini sangat relevan untuk membahas posisi Asha Sharma, CEO baru Xbox yang berasal dari latar belakang non-gaming.
Peter Moore tentang Asha Sharma: “Dengarkan dan Pelajari”
Peter Moore mengingatkan bahwa perjalanan masuk ke industri game bisa saja tidak konvensional. Ia sendiri pernah datang dari dunia sepatu olahraga (Reebok) sebelum akhirnya berkarier di SEGA dan Xbox. Menurut Moore, status sebagai “outsider” bukan kelemahan, melainkan bagian alami dari proses adaptasi dan pembelajaran. Ia menyebut fenomena imposter syndrome yang mungkin juga dialami Asha Sharma.
Moore memberikan nasihat praktis bagi Sharma: fokuslah untuk belajar dan mendengarkan dengan rendah hati. Ia menyarankan Sharma untuk melakukan tur mendengarkan (listening tour) dengan bertemu para kepala studio dan eksekutif dalam perusahaan, serta menjelajahi berbagai aspek internal Xbox tanpa terlalu banyak sorotan awal.
Selain itu, Moore mengakui bahwa latar belakang Sharma di bidang kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi tantangan tersendiri. Banyak gamer yang masih skeptis dan waspada terhadap integrasi AI dalam dunia game. Moore menyarankan agar Sharma berhati-hati dalam membahas isu AI, karena bisa menjadi “ladang ranjau” yang sulit dihadapi jika tidak dikelola dengan baik.
Menanggapi Kritik dari Co-Founder Xbox
Seamus Blackley sebelumnya mengungkapkan pandangannya yang cukup keras, menyatakan bahwa “Xbox sedang mengalami sunset” atau dalam kata lain sedang menuju akhir masa kejayaannya. Namun, Blackley kemudian memperjelas bahwa ia tidak benar-benar menganggap Xbox sudah mati.
Moore menanggapi kalimat tersebut dengan sikap yang lebih tenang dan hati-hati. Ia tidak menyerang Blackley secara langsung, tapi berharap bahwa pandangan itu sedikit melenceng dari kenyataan. Sikap tenang Moore mencerminkan kedalaman pengalamannya dan keyakinan terhadap masa depan Xbox.
Peter Moore Membela Phil Spencer dan Mengkritik Paradigma “Gamer CEO”
Dalam wawancara tersebut, Moore juga memberikan pujian kepada Phil Spencer, mantan kepala Xbox yang dianggap telah membangkitkan kembali merek tersebut setelah peluncuran Xbox One yang sulit. Moore menyebut Spencer sebagai sosok yang hebat dan berpengaruh dengan karier yang luar biasa di Microsoft selama 38 tahun.
Moore menolak retorika lama mengenai “gamer CEO” yang kini dianggap usang dan tidak relevan. Ia menegaskan bahwa Xbox membutuhkan pemimpin yang mampu membawa arah positif, bukan mereka yang hanya dinilai berdasarkan apakah mereka menghabiskan waktu bermain game tertentu. Ia menganggap argumen itu lebih sebagai bentuk gatekeeping yang tidak membantu kemajuan industri.
Intisari dan Relevansi bagi Dunia Gaming Saat Ini
- Kepemimpinan di dunia game tidak harus datang dari latar belakang gamer hardcore, seperti dicontohkan oleh Asha Sharma.
- Adaptasi, pembelajaran, dan keterbukaan terhadap budaya perusahaan menjadi kunci sukses seorang CEO di industri ini.
- Kritik dari pendiri Xbox seperti Blackley memang layak didengar, tetapi tidak otomatis mencerminkan kondisi sebenarnya dari platform Xbox.
- Kepemimpinan visioner seperti Phil Spencer dianggap berhasil mengembalikan momentum Xbox meski menghadapi tantangan besar.
- Diskusi tentang kecerdasan buatan dalam gaming harus dilakukan dengan bijaksana mengingat ada kekhawatiran gamer terhadap AI.
Dengan sikap terbuka dan realistisnya, Peter Moore mengajak para penggemar Xbox dan pelaku industri untuk menilai kepemimpinan berdasarkan kinerja dan visi, bukan sekadar latar belakang hobi bermain game. Pandangannya membantu menggeser fokus dari gatekeeping ke penerimaan perubahan dan inovasi yang diperlukan agar Xbox tetap relevan dan kompetitif di masa depan.









