David Martin, Chief Revenue Officer Digital Asset di Clear Street, menyoroti tantangan utama dalam infrastruktur aset kripto institusional saat ini. Meskipun permintaan untuk mengintegrasikan ekosistem kripto dengan produk keuangan tradisional terus meningkat, infrastruktur yang memadai untuk mendukung kebutuhan tersebut belum sepenuhnya tersedia.
Pada sebuah wawancara eksklusif di Liquidity Summit 2026 di Hong Kong, Martin mengungkapkan bahwa investor kripto kini ingin mengakses instrumen keuangan tradisional seperti ETF dan menggunakan posisi tersebut sebagai jaminan margin untuk membeli saham terkait kripto. Namun, sistem pendukung yang memungkinkan perpindahan mulus antar pasar aset digital dan keuangan tradisional belum ada.
Perpindahan Aktivitas Kripto ke Produk Teregulasi
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat pergeseran signifikan dari aktivitas kripto yang semula hanya di pasar spot ke produk-produk teregulasi seperti ETF, treasury aset digital, dan perusahaan publik terkait kripto. Sebagai contoh, BlackRock IBIT yang baru meluncurkan perdagangan opsi pada akhir 2024, berhasil meraih $38 miliar dalam open interest hampir melewati platform Deribit yang sebelumnya dominan sejak 2016.
Pergeseran ini semakin terlihat dengan meningkatnya volume transaksi Bitcoin spot melalui instrumen keuangan tradisional, mencapai sekitar 30% dari total flow. Hal ini menunjukkan institusi mulai mengatur eksposur kriptonya sesuai dengan kerangka risiko dan pelaporan yang ada di pasar tradisional.
Friction Point Antar Aset Kripto dan Keuangan Tradisional
Martin menjelaskan bahwa titik gesekan utama terletak pada segmennya modal antar pasar aset kripto spot, saham, dan derivatif yang masih terpisah. Tidak ada sistem terpadu yang memungkinkan penggunaan satu aset sebagai kolateral untuk transaksi di kelas aset lainnya, misalnya menggunakan saham Coinbase sebagai jaminan untuk perdagangan derivatif Bitcoin.
Manajer portofolio yang mengelola aset di kedua kelas tersebut kini menghadapi keterbatasan operasional karena harus melakukan likuidasi posisi terlebih dahulu sebelum memindahkan modal, sehingga menimbulkan risiko eksekusi dan implikasi perpajakan. Hal ini terjadi karena infrastruktur yang mendukung pergerakan modal lintas aset belum siap menyesuaikan dengan percepatan konvergensi pasar.
Dua Jalan Menuju Integrasi Infrastruktur
Menurut Martin, pembangunan infrastruktur yang mengatasi batasan ini berjalan melalui dua pendekatan. Pertama, dari sisi keuangan tradisional, perusahaan seperti Clear Street menciptakan jalur yang memungkinkan kapital bergerak dengan lancar antar kelas aset dalam satu platform institusional. Kedua, melibatkan tokenisasi berbasis blockchain yang membawa aset tradisional ke ranah on-chain sehingga kolateral dan penyelesaian bisa dilakukan dalam satu sistem terpadu tanpa hambatan.
Tujuan akhirnya adalah menjadikan kripto sebagai salah satu kelas aset pada portofolio keuangan umum yang dapat dikelola dan diperdagangkan setara dengan aset lainnya tanpa batasan struktural.
Perkembangan Portofolio dan Tren Institusional
Martin menambahkan bahwa saat ini manajer portofolio yang awalnya hanya menggunakan aset kripto sudah mulai memasukkan 25-30% aset mereka dalam instrumen TradFi seperti saham dan produk terkait, sebagai respon atas dinamika persaingan. Penyertaan tradisional ini menjadi penting agar manajer tidak kehilangan peluang di tengah pergeseran preferensi pasar.
Namun, kesenjangan antara kebutuhan pengelolaan portofolio modern dan infrastruktur yang tersedia tetap menjadi tantangan utama. Tanpa perbaikan sistem, efisiensi modal dan potensi keuntungan institusional dapat terhambat.
Regulasi DeFi dan Hambatan Akses Institusional
Selain isu modal, ketidakjelasan regulasi mengenai Decentralized Finance (DeFi) juga menjadi hambatan besar. Meskipun DeFi menawarkan peluang inovasi finansial dan potensi imbal hasil tinggi, sebagian besar pelaku institusional enggan terlibat karena keterbatasan kerangka kepatuhan dan risiko regulasi yang belum pasti.
Martin menyoroti inisiatif legislasi seperti Clarity Act di Amerika Serikat sebagai element kunci yang dapat membuka jalan bagi akses institusional ke pasar DeFi secara resmi. Kejelasan regulasi ini berdampak langsung pada kemampuan pengelola aset untuk mengoptimalkan posisinya di seluruh spektrum produk keuangan digital.
Munculnya Manajer Aset On-Chain
Salah satu inovasi mencolok yang diantisipasi Martin adalah lahirnya manajer aset native on-chain, yang beroperasi dalam lingkungan DeFi yang sudah dipenuhi dengan protokol KYC dan kepatuhan institusional. Model ini memungkinkan efisiensi besar dalam pengelolaan portofolio dengan menghilangkan lapisan administratif tradisional dan menyatukan infrastruktur on-chain dan off-chain secara praktis.
Berbeda dengan dana tradisional yang sekadar men-tokenisasi kepemilikan, manajer aset on-chain mengadopsi cara kerja baru yang merevolusi metode pengelolaan portofolio.
Efisiensi Modal sebagai Kunci Dominasi Pasar
David Martin menyimpulkan bahwa kunci utama perkembangan pasar aset digital institusional adalah efisiensi modal. Institusi yang mampu memfasilitasi pergerakan modal tanpa hambatan antar kelas aset dan menutup kesenjangan antara kebutuhan pengelola portofolio dan sistem infrastruktur akan menentukan fase pertumbuhan pasar selanjutnya.
Perpaduan antara peran lembaga tradisional dan platform berbasis blockchain akan mempengaruhi seberapa cepat modal institusional dapat bergerak secara natural di dalam kelas aset yang berkembang sangat cepat ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan inovasi infrastruktur bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mendukung ekosistem kripto yang semakin matang.






