Bitcoin dan pasar saham mulai menunjukkan tanda stabil setelah mengalami tekanan akibat gejolak geopolitik yang signifikan. Bitcoin (BTC) berhasil pulih ke harga di atas $70,000, menguat hampir 10% dalam pekan ini sementara pasar berusaha mencari titik lantai setelah aksi jual besar-besaran. Namun, pasar obligasi memberikan sinyal bahwa kondisi risk-off belum usai, dengan imbal hasil Treasury AS yang terus naik sebagai respons terhadap ekspektasi inflasi yang lebih tinggi.
Menurut data dari CME Fed funds futures, harapan pasar untuk adanya dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini menurun drastis menjadi di bawah 50%, turun dari hampir 80% sebelum konflik geopolitik mulai memanas. Perubahan sentimen ini dipicu oleh sektor energi, terutama kenaikan harga minyak yang terdorong oleh ketegangan di wilayah Timur Tengah. Kenaikan harga minyak ini membuat pelaku pasar obligasi memprediksi inflasi akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Imbal hasil pada obligasi Treasury AS 10-tahun telah naik selama empat hari berturut-turut, meningkat dari 3,93% menjadi 4,15%. Dalam pasar obligasi, kenaikan imbal hasil biasanya berarti penurunan harga obligasi dan menandakan investor beralih ke aset aman karena kekhawatiran inflasi yang merajalela. Situasi ini menciptakan tekanan negatif bagi aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin. Ketika imbal hasil Treasury yang bebas risiko naik, biaya peluang memegang aset digital yang volatil menjadi lebih besar.
Kondisi pasar ini menimbulkan kekhawatiran bahwa reli “risk-on” yang terjadi pada saham dan kripto selama pekan ini mungkin tidak didukung secara fundamental. Tanpa stabilitas harga energi, sentimen pesimistis dari pasar obligasi cenderung menarik harga aset berisiko ke bawah dalam jangka menengah. Dalam konteks ini, Bitcoin tidak lagi dipandang sebagai lindung nilai non-korelasi (non-correlated hedge) terhadap volatilitas geopolitik.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa korelasi 30 hari antara Bitcoin dan indeks saham S&P 500 meningkat tajam menjadi 0,55. Angka ini menunjukkan bahwa saat ini Bitcoin lebih diperlakukan sebagai aset teknologi ber-beta tinggi oleh institusi keuangan, daripada sebagai “emas digital” yang independen dari pergerakan pasar saham. Hal ini tampak jelas saat indeks S&P 500 merosot ke level terendah multi-minggu di angka 6.718 poin akibat ketegangan di Selat Hormuz, yang diikuti penurunan Bitcoin ke sekitar $65,000. Ketika S&P 500 kembali menguat ke 6.840 poin, pergerakan Bitcoin ke harga dekat $74,000 hampir terjadi bersamaan.
Bitcoin kini sedang berperdagangan dalam pola segitiga simetris pada grafik harian, sebuah pola teknikal yang sering kali menandakan kemungkinan gelombang volatilitas besar di depan. Level dukungan terdekat berada di sekitar harga $65,000, yang berhasil dipertahankan selama penurunan minggu lalu. Jika harga Bitcoin turun menembus dan tutup harian di bawah level ini, maka skenario pemulihan saat ini akan dipatahkan dan kisaran permintaan utama selanjutnya ada di rentang $58,000 hingga $62,000. Level ini sejajar dengan rata-rata pergerakan 200 hari.
Sementara itu, resistensi signifikan Bitcoin berada di level $74,000. Penembusan dan penutupan harga di atas angka ini sangat penting untuk mengonfirmasi kelanjutan tren naik. Namun, para trader harus memperhatikan volume perdagangan saat terjadinya upaya breakout. Pasalnya, kenaikan harga di atas $74,000 tanpa disertai lonjakan volume biasanya menandakan jebakan kenaikan (bull trap) yang sulit berlanjut.
Berbeda dengan Bitcoin dan saham yang mulai menunjukkan pemulihan, pasar obligasi masih memproyeksikan risiko besar akibat inflasi yang sulit dikendalikan. Tingginya imbal hasil obligasi mencerminkan kehati-hatian investor terhadap potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut dan tekanan inflasi yang berlarut. Terlebih kenaikan harga energi yang tidak segera mereda semakin menguatkan pandangan ini.
Berikut adalah poin penting terkait dinamika pasar saat ini:
1. Bitcoin pulih hampir 10% dan stabil di atas $70,000.
2. Korelasi Bitcoin dengan saham S&P 500 meningkat menjadi 0,55.
3. Prediksi pemotongan suku bunga Fed turun drastis ke bawah 50%.
4. Harga minyak melonjak akibat ketidakstabilan di Timur Tengah.
5. Imbal hasil obligasi AS 10-tahun naik dari 3,93% ke 4,15%.
6. Potensi bear trap jika Bitcoin gagal tembus $74,000 dengan volume besar.
7. Support utama Bitcoin di kisaran $65,000, dengan zona demand berikutnya di $58,000-$62,000.
Pergerakan pasar saat ini mencerminkan ketegangan yang masih berlanjut antara harapan pemulihan ekonomi dan kekhawatiran inflasi yang tinggi. Investor dan trader disarankan untuk terus memantau perkembangan harga energi dan pergerakan imbal hasil obligasi sebagai indikator kunci arah pasar ke depan. Meski Bitcoin dan saham menemukan titik lantai, tekanan dari pasar obligasi menunjukkan bahwa risiko penghindaran aset berisiko belum usai dan dapat kembali menguji stabilitas pasar dalam waktu dekat.
