Millennials yang menerima kekayaan warisan dalam jumlah besar menunjukkan minat yang meningkat terhadap aset alternatif sebagai pilihan investasi utama mereka. Peralihan besar-besaran ini diperkirakan akan mengubah lanskap keuangan global secara signifikan selama beberapa dekade ke depan.
Menurut laporan Cerulli Associates, sekitar $124 triliun akan berpindah tangan melalui proses yang dikenal sebagai Great Wealth Transfer, dengan hampir $100 triliun berasal dari Baby Boomers dan generasi lebih tua. Dari jumlah tersebut, millennial diperkirakan akan menerima porsi terbesar dalam 25 tahun ke depan.
Minat Millennial pada Aset Alternatif
Survei Bank of America mengungkapkan bahwa 72% investor kaya usia 21 sampai 43 tahun merasa bahwa mengandalkan saham dan obligasi saja tidak cukup untuk mendapatkan hasil investasi di atas rata-rata. Sebaliknya, hanya 28% orang di atas usia 44 tahun yang sependapat. Tren ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih agresif mencari peluang di luar instrumen investasi konvensional.
Erica Grundza, perencana keuangan di Betterment, menyatakan bahwa aset alternatif seperti kredit swasta, properti, aset digital, bahkan kepemilikan saham langsung di perusahaan tempat mereka bekerja, semakin diminati oleh investor muda. Ia memperkirakan bahwa keterlibatan generasi baru ini akan mendorong inovasi produk dan perubahan regulasi dalam pasar aset alternatif.
Diversifikasi Portofolio dan Perlindungan Kekayaan
Paisley Nardini dari Simplify Asset Management menambahkan bahwa korelasi yang semakin meningkat antara saham dan obligasi saat investor mendekati masa pensiun mendorong mereka mengalihkan dana ke aset alternatif. Tujuannya adalah untuk melindungi nilai kekayaan dan menciptakan diversifikasi yang lebih baik demi mengantisipasi potensi gejolak pasar.
Tersedianya berbagai produk aset alternatif kini semakin melimpah. Berbagai platform digital dan ETF yang inovatif memudahkan akses ke kelas aset yang sebelumnya sulit dijangkau. Contohnya, keputusan SEC untuk menyetujui spot bitcoin ETF tahun ini membuka kesempatan bagi investor untuk membeli kripto dengan kemudahan seperti membeli indeks saham.
Inovasi dan Regulasi di Pasar Aset Alternatif
ETF alternatif mengalami lonjakan signifikan, dengan hampir 1.000 ETF aktif diluncurkan tahun lalu, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 584. Morgan Stanley memprediksi produk yang menyediakan akses ke private equity, private credit, dan properti swasta akan terus berkembang dan semakin mudah diakses oleh publik.
Namun, investasi di aset alternatif juga membawa risiko unik seperti likuiditas terbatas dan transparansi yang rendah. Oleh karena itu, para penasihat keuangan menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pemilihan produk investasi. SEC sendiri telah mengambil langkah dengan melarang produk yang menawarkan pengembalian harian berkali lipat, demi melindungi investor dari risiko berlebihan.
Perubahan dalam Definisi Investor Terakreditasi
Diskusi mengenai perluasan definisi investor terakreditasi sedang berlangsung. Kriteria saat ini mengharuskan individu memiliki kekayaan bersih di atas $1 juta atau pendapatan tahunan tinggi. Edward Jones mendukung penambahan syarat bagi mereka yang bekerjasama dengan penasihat keuangan profesional, guna memastikan investasi di aset swasta dilakukan secara bijaksana.
Masa Depan Investasi dengan Teknologi Tokenisasi
Tokenisasi aset menggunakan teknologi blockchain untuk merepresentasikan kepemilikan aset nyata secara digital. Paisley Nardini meyakini bahwa pendekatan ini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan investasi alternatif di dekade mendatang, serta menarik minat generasi muda yang lebih terbuka pada inovasi dan teknologi.
Steve Rueschhoff dari Edward Jones juga menyoroti tren kemunculan kemitraan publik-swasta antara manajer aset tradisional dan swasta. Kolaborasi ini menghasilkan produk yang menggabungkan investasi publik dan privat dalam satu paket, memberikan alternatif yang lebih seimbang bagi investor.
Ketertarikan pada Investasi Berkelanjutan dan ESG
Millennials menunjukkan minat yang lebih besar terhadap investasi berkelanjutan (ESG) dibandingkan generasi sebelumnya. Sarah Norman dari Merrill Lynch menyebutkan bahwa kekayaan warisan yang mereka terima memungkinkan mereka mengejar strategi investasi yang memprioritaskan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial. Strategi ini bisa diterapkan di berbagai kelas aset, termasuk saham, obligasi, dan alternatif.
Transformasi signifikan dalam pola investasi generasi millennial ini mencerminkan peralihan struktural dalam cara membangun dan mempertahankan kekayaan. Dengan semakin berkembangnya teknologi, inovasi produk, dan peraturan, pasar aset alternatif diperkirakan akan terus mengalami evolusi yang membawa peluang baru sekaligus tantangan baru bagi para investor masa depan.
