Model Stock-to-Flow (S2F) yang dikembangkan oleh analis pseudonim PlanB memproyeksikan harga Bitcoin bisa mencapai rata-rata $500.000 selama siklus pasar saat ini. Proyeksi ini berdasar pada pola kelangkaan Bitcoin yang mirip dengan komoditas langka seperti emas, akibat pengurangan pasokan baru melalui event halving yang terjadi setiap beberapa tahun.
Saat ini, harga Bitcoin berada sekitar $71.000, jauh di bawah target rata-rata model S2F untuk periode 2024–2028. Perbedaan ini memicu diskusi sengit di antara para pelaku pasar dan analis, apakah harga Bitcoin akan melonjak drastis atau model ini sudah tidak relevan di tengah dinamika pasar kripto yang semakin kompleks.
Bagaimana Model Stock-to-Flow Memprediksi Harga Bitcoin?
Model S2F menghitung rasio antara total pasokan yang ada dengan produksi tahunan Bitcoin. Jika rasio ini tinggi, maka aset dianggap lebih langka dan berpotensi memiliki nilai lebih tinggi. Sebagai perbandingan, emas memiliki rasio S2F sekitar 60-70, yang berarti waktu produksi ulang setara hampir 60 tahun dengan tingkat penambangan sekarang.
Bitcoin saat ini memiliki rasio S2F yang meningkat akibat mekanisme halving yang mengurangi pasokan koin baru secara berkala. Dengan lebih dari 20 juta Bitcoin sudah beredar dan pasokan baru berkurang, kelangkaannya mulai menyerupai logam mulia. Model ini memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai antara $250.000 hingga $1 juta dalam siklus ini.
Kontroversi dan Kritik Terhadap Model
Meski sangat populer dan banyak digunakan sebagai alat analisis, model S2F juga mendapat kritik tajam. Banyak ekonom dan analis menilai model ini terlalu fokus pada aspek kelangkaan pasokan saja. Mereka menganggap model mengabaikan faktor penting lainnya seperti kondisi likuiditas pasar, kebijakan makroekonomi, regulasi, dan masuknya dana institusional seperti ETF Bitcoin.
Kritikus berpendapat bahwa keterbatasan model ini terlihat jelas saat harga Bitcoin menyimpang dari prediksi setelah puncak pasar pada 2021. Namun, PlanB menyatakan siap menerima kritik selama tidak disertai dengan perilaku kasar atau penghinaan.
Perubahan Pola Penyimpanan Bitcoin di Pasar
Selain perdebatan soal model harga, data on-chain menunjukkan jumlah Bitcoin yang tersimpan di bursa terpusat menurun drastis ke level yang terakhir terlihat pada 2019. Penurunan ini dimulai sejak akhir 2022 dan makin tajam setelah runtuhnya bursa FTX yang membuat investor menarik dana ke dompet pribadi guna mengurangi risiko.
Selama bulan November 2022, tercatat 325.000 Bitcoin keluar dari bursa. Saat ini sekitar 2,7 juta Bitcoin tersisa di bursa, jumlah yang relatif kecil dibandingkan total pasokan. Binance memegang sekitar 20% dari pasokan tersebut, sedangkan platform institusional seperti Coinbase Advanced menyimpan sekitar 800.000 Bitcoin, meskipun angka ini juga menurun sejak pertengahan tahun lalu.
Implikasi Penurunan Pasokan di Bursa
Berkurangnya Bitcoin di bursa bisa membuat pasokan yang siap diperdagangkan semakin terbatas. Jika permintaan naik sementara pasokan di pasar langsung tipis, harga dapat bergejolak tinggi. Selain itu, kepemilikan oleh investor jangka panjang seperti ETF dan cadangan negara yang tidak aktif diperdagangkan semakin mengurangi persediaan koin likuid.
Namun, keterbatasan pasokan ini belum tentu menjamin kenaikan harga secara instan. Faktor lain seperti sentimen pasar, regulasi, dan kondisi ekonomi tetap memiliki pengaruh besar terhadap dinamika harga Bitcoin ke depan.
Model Stock-to-Flow dari PlanB tetap menjadi acuan penting dalam menganalisis potensi Bitcoin walaupun mendapat pendapat yang beragam. Kondisi terkini yang memperlihatkan kelangkaan pasokan di pasar dan pola penyimpanan yang berubah semakin menambah dimensi diskusi tentang prospek harga cryptocurrency terpopuler ini di siklus mendatang.







