Para trader Bitcoin kini semakin optimistis harga Bitcoin akan menembus angka $80.000 dalam waktu dekat. Menurut Nick Forster, pendiri platform opsi Derive.xyz, pasar derivatif mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 14% dari harga saat ini yang berkisar di sekitar $70.000.
Sentimen positif ini muncul di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih melanda wilayah Timur Tengah. Meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menghambat pasar tradisional seperti saham AS yang terkoreksi, beberapa indikator menunjukkan pasar kripto mulai menunjukkan stabilitas yang lebih baik. Forster mencatat bahwa risiko crash besar pada kripto tampaknya telah berlebihan.
Tiga Alasan Trader Bullish pada Bitcoin
Unwinding posisi short yang berlebihan
Banyak posisi short yang dilepas akibat tekanan awal konflik di Timur Tengah. Pelepasan ini menciptakan tekanan beli yang kuat, sehingga mendorong harga naik secara mekanis.Penurunan aktivitas penjualan dari pemegang jangka panjang
Trader besar dan pemegang jangka panjang mulai menunjukkan kelelahan dalam menjual asetnya. Hal ini mengurangi tekanan jual dan meningkatkan optimisme pasar.- Keunggulan pasar 24/7 dalam merespons kejutan geopolitik
Berbeda dengan pasar saham yang hanya buka pada jam tertentu, pasar kripto beroperasi sepanjang waktu. Ini memungkinkan pasar kripto mencerna berita dan kejutan geopolitik lebih cepat dan responsif, memberi peluang bagi harga Bitcoin untuk bergerak naik lebih awal.
Data dari Deribit menunjukkan terjadi peningkatan signifikan dalam penjualan opsi put dengan harga strike di sekitar $70.000 atau lebih tinggi. Kondisi ini mencerminkan perubahan sikap trader yang tidak lagi fokus melindungi posisi dari penurunan harga, melainkan mulai bertaruh pada kenaikan Bitcoin.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pasar
Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak sempat melonjak hingga $120 per barel, kemudian turun di bawah $90. Kondisi ini menunjukkan volatilitas pasar energi yang tinggi. Beberapa negara anggota International Energy Agency berencana melepas cadangan minyak strategis demi menstabilkan harga. Namun, ancaman penanaman ranjau laut oleh Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, laporan menunjukkan indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan Dow Jones mengalami penurunan sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran. Dalam situasi demikian, Bitcoin justru mencatat kenaikan signifikan, naik lebih dari 4% pada suatu hari meski pasar saham bergejolak.
Strategi dan Investasi Institusional
Beberapa institusi besar mulai menambah kepemilikan Bitcoin dengan agresif. Misalnya, Strategy mengungkapkan pembelian hampir 18.000 Bitcoin senilai sekitar $1,3 miliar dengan harga rata-rata $70.946 per koin. Total aset yang dikelola kini mencapai sekitar $56 miliar dengan biaya rata-rata $75.862 per Bitcoin.
CEO Strategy, Phong Le, menilai instrumen investasi kripto yang mereka kelola lebih stabil dibandingkan saham perusahaan kripto besar, emas, indeks saham, dan obligasi. Ini menunjukkan kepercayaan institusi terhadap pengemasan risiko crypto dalam bentuk produk investasi yang lebih konvensional.
Pergerakan Harga Terbaru
Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin sempat turun sebesar 2,3% ke level sekitar $69.541, sedangkan Ethereum bergerak turun 2,4% ke harga $2.019. Meski demikian, sentimen bullish tetap bertahan berdasarkan data pasar opsi dan aktivitas perdagangan institusional.
Pergerakan harga Bitcoin diprediksi akan terus didorong oleh faktor-faktor teknis dan fundamental yang sudah mulai membaik, terutama saat konflik Timur Tengah mengalami stabilisasi. Trader dan investor kini menaruh perhatian besar pada peluang Bitcoin mencapai level $80.000, dengan potensi realisasi dalam beberapa pekan mendatang.







