Bitcoin Melonjak ke Rekor Mingguan Ditengah Ketegangan Timur Tengah, Apa Rahasia Kekuatan Crypto Ini?

Bitcoin kini mencapai level tertinggi dalam seminggu, meskipun ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut dan memberi tekanan pada pasar saham. Harga Bitcoin naik 2,6% mencapai $71.500, tertinggi sejak awal Maret, dan berhasil memulihkan sebagian kerugian sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari, menurut data CoinGecko.

Gangguan di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak penting yang menangani sekitar 20% pengiriman minyak global, menimbulkan ketidakpastian tentang durasi konflik tersebut. Ketidakpastian ini mendorong volatilitas harga minyak dan memengaruhi berbagai pasar secara signifikan.

Pengaruh Ketegangan Timur Tengah pada Harga Minyak dan Bitcoin
Presiden AS menyatakan bahwa menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir jauh lebih penting daripada harga minyak. Pernyataan ini meningkatkan harga minyak Brent hingga naik 9,2% dan menembus level $100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina. Lonjakan ini juga menjadi kenaikan harian terbesar sejak pandemi Covid-19 di 2020.

Kenaikan harga minyak menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang berkelanjutan. Namun, menurut Nic Puckrin, analis pasar utama Coin Bureau, harapan atas solusi cepat konflik membuat investor tidak terlalu mengkhawatirkan gangguan likuiditas jangka panjang. Ini menjadi faktor positif bagi harga Bitcoin saat ini.

Faktor Likuiditas Global dan Kaitan dengan Harga Bitcoin
Puckrin menekankan bahwa faktor penentu utama harga Bitcoin adalah likuiditas global. Jika krisis energi berlarut dan menyebabkan ketatnya likuiditas akibat kebijakan moneter lebih ketat, harga Bitcoin berisiko melemah. Kasus tahun lalu menunjukkan harga Bitcoin sangat sensitif terhadap siklus kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve untuk mengendalikan inflasi.

Meski pasar saham mengalami koreksi signifikan, Bitcoin tetap menunjukkan ketahanan. Indeks S&P 500 turun 1,52%, Dow Jones anjlok 1,56%, dan Nasdaq yang didominasi perusahaan teknologi jatuh 1,73%. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor akan potensi resesi global akibat gangguan pasokan energi.

Permintaan Khusus Pada Produk Investasi Bitcoin Dorong Kenaikan Harga
Ryan McMillin, Chief Investment Officer Merkle Tree Capital, menjelaskan bahwa kekuatan Bitcoin saat ini lebih disebabkan oleh permintaan spesifik di dalam pasar kripto. Produk investasi STRC yang menawarkan imbal hasil 11,5% terkait eksposur Bitcoin telah menarik ratusan juta dolar per hari.

Strategy, penerbit produk STRC, mengungkapkan telah membeli hampir 18.000 BTC senilai sekitar $1,2 miliar. Dengan laju penerbitan STRC yang ada, diperkirakan mereka menambah pemilikan sekitar 4.000–5.000 BTC dalam beberapa hari terakhir. Permintaan produk dengan yield tinggi tersebut mendorong pembelian Bitcoin masif sehingga mengangkat harganya.

McMillin memperingatkan bahwa belum ada bukti kuat bahwa Bitcoin telah benar-benar terlepas dari korelasi dengan aset berisiko tradisional. Tahun lalu, pergerakan harga Bitcoin sempat berlawanan dengan pasar saham saat saham naik sementara Bitcoin turun.

Dinamika Pasar dan Prospek Harga Bitcoin ke Depan
Saat ini, arus modal kripto yang kuat tampaknya lebih dominan dibandingkan korelasi makro global. Namun, jika konflik Timur Tengah berkepanjangan dan kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah AS menurun, potensi risiko terhadap harga Bitcoin bisa meningkat. Selain itu, perilaku Federal Reserve dalam mengelola tekanan inflasi juga akan menjadi faktor penting.

Secara keseluruhan, kenaikan harga Bitcoin di tengah ketegangan geopolitik menunjukkan respons pasar kripto yang kompleks dan multifaktor. Investor perlu tetap memperhatikan dinamika likuiditas global, perkembangan konflik, serta perilaku institusional yang berperan dalam permintaan Bitcoin.

Terkait