Bitcoin mengalami lonjakan harga sekitar 12% sejak awal Maret meskipun ketegangan geopolitik antara AS dan Israel dengan Iran semakin memanas. Kenaikan ini muncul tidak karena minat beli yang meningkat, melainkan karena posisi short seller yang tertekan, kata Nathan Batchelor, managing partner di platform data trading kripto Biyond.
Batchelor menjelaskan bahwa likuidasi posisi short Bitcoin yang signifikan terjadi di kisaran harga $73.000 hingga $74.000. Peristiwa ini menyebabkan dorongan harga mendadak menuju level tersebut. Model volatilitas saat ini menunjukkan tingkat rendah, yang mendukung dugaan bahwa kenaikan harga ini lebih merupakan "stop-hunt" dibandingkan langkah menuju breakout penting di angka $80.000.
Memahami Short Squeeze dan Dampaknya pada Bitcoin
Strategi short selling adalah cara untuk mendapatkan keuntungan dari penurunan harga aset. Trader meminjam Bitcoin, menjualnya pada harga tinggi, dan berharap bisa membeli kembali pada harga lebih rendah. Namun, jika harga Bitcoin malah naik, mereka harus menutup posisi short dengan membeli kembali di harga lebih tinggi, sehingga kerugian mereka justru mengakibatkan kenaikan harga Bitcoin.
Kenaikan harga Bitcoin ini bertepatan dengan konflik geopolitik yang mengguncang pasar keuangan global, terutama akibat blokade Iran di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur strategis pengiriman minyak dari Timur Tengah, sehingga gangguan di sana memicu harga minyak dunia melejit hingga mencapai $119 per barel dalam beberapa pekan terakhir.
Iran memperingatkan bahwa jika konflik tidak berakhir, harga minyak bisa melonjak sampai $200 per barel. Kondisi ini berpotensi memicu koreksi pasar saham AS sebesar 10% hingga 15%, menurut analis JPMorgan. Lonjakan harga energi ini juga menyulitkan Bitcoin. CEO bursa kripto Ripio dari Argentina, Sebastián Serrano, menyebut bahwa kenaikan biaya energi menaikkan inflasi dan memperlambat keputusan bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Kondisi ini mengurangi likuiditas yang dibutuhkan Bitcoin untuk naik lebih tinggi.
Perkiraan Penurunan Suku Bunga yang Bergeser
Sebelumnya, para bettor dalam platform Polymarket memperkirakan 85% kemungkinan Federal Reserve AS menurunkan suku bunga pada Juli. Namun setelah ketegangan meningkat akibat tindakan militer AS terhadap Iran, prediksi itu bergeser ke Oktober dan Desember dengan peluang 68% dan 78%.
Data dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas pemotongan suku bunga pada Juni turun drastis dari 78% menjadi hanya sekitar 22%. Ben Harvey, peneliti di Keyrock, menyimpulkan bahwa lonjakan inflasi akibat harga minyak membuat ekspektasi penurunan suku bunga bergeser ke Oktober ke depan.
Perilaku Pasar Bitcoin Saat Konflik Geopolitik
Menariknya, meski secara umum Bitcoin dianggap sebagai aset berisiko yang cenderung turun saat krisis, sejak awal perang nilai Bitcoin justru naik. Laurens Fraussen, analis riset di Kaiko, mencatat banyak trader mencoba melakukan short sell di harga antara $60.000 hingga $63.000 saat perang dimulai.
Kenaikan harga agresif ini dilihat Fraussen sebagai fenomena “short squeeze” sementara, yang biasanya diikuti oleh konsolidasi pasar dan pergerakan harga yang lebih stabil di level bawah $60.000. Fenomena serupa pernah terjadi pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina memicu reli harga Bitcoin juga akibat short seller yang terperangkap. Setelah posisi short tertutup, harga Bitcoin justru turun lebih lanjut.
Fraussen menegaskan bahwa kondisi saat ini sangat mirip dan ada potensi terjadinya pola serupa pada Bitcoin di masa mendatang.
Ringkasan Faktor Utama yang Mempengaruhi Bitcoin Saat Ini
- Kenaikan harga dipicu oleh short squeeze di kisaran $73.000–$74.000.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan inflasi global.
- Perkiraan penurunan suku bunga AS bergeser ke Oktober dan Desember akibat inflasi energi tinggi.
- Bitcoin menunjukkan perilaku naik meskipun pasar risiko sedang terguncang.
- Pola short squeeze sementara di masa perang cenderung berakhir dengan konsolidasi harga.
Analisa ini menunjukkan bahwa reli Bitcoin saat ini belum menggambarkan pembalikan tren jangka panjang. Pasar masih menghadapi ketidakpastian dari faktor geopolitik dan ekonomi makro yang dapat membatasi potensi kenaikan signifikan selanjutnya. Model volatilitas rendah mengindikasikan momentum kuat untuk harga lebih lanjut belum terbentuk.
Dengan dinamika ini, para investor dan trader diharapkan tetap waspada terhadap potensi koreksi dan mempertimbangkan faktor makro global yang terus berkembang sebelum mengambil keputusan investasi Bitcoin.







