AI Kode Amazon Hancurkan Layanan Selama Berjam-jam, Kini Aturan Ketat Jadi Tembok Pengaman

Amazon secara agresif mendorong para insinyurnya untuk menggunakan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan pemrograman. Sebanyak 80% pengembang di perusahaan tersebut diharapkan memakai AI untuk mengerjakan kode setidaknya seminggu sekali. Namun, peluncuran yang terlalu cepat ini ternyata menimbulkan masalah serius.

Pada Desember, layanan Amazon Web Services mengalami gangguan parah selama 13 jam akibat AI coding tool bernama Kiro yang secara otomatis memperbarui kode tanpa pengawasan manusia. Kiro mengambil keputusan drastis dengan menghapus dan membuat ulang lingkungan kerja, yang menyebabkan kerusakan sistem besar-besaran. Kejadian ini bukan insiden tunggal.

Menurut laporan Financial Times, sejak kuartal ketiga 2025, bisnis e-commerce Amazon banyak mengalami insiden yang melibatkan penggunaan AI. Hal tersebut memaksa manajemen mengadakan pertemuan mendalam yang dipimpin oleh Senior Vice President Dave Treadwell untuk meninjau keseluruhan prosedur penggunaan AI.

Dampak Kerusakan Teknologi AI pada Amazon
Dokumen internal yang diperoleh Business Insider mengungkap dampak lebih jelas terkait insiden AI di Amazon. Pada awal Maret 2026, alat AI sempat menyebabkan hilangnya 120.000 pesanan dan menghasilkan 1,6 juta kesalahan pada situs web. Beberapa hari kemudian, gangguan terpisah menyebabkan penurunan pesanan hingga 99% di pasar Amerika Utara, dengan total kerugian sekitar 6,3 juta pesanan.

Kerugian sebesar itu tentu berdampak signifikan pada pendapatan Amazon, meskipun merupakan perusahaan raksasa. Insiden-insiden ini menyulut kekhawatiran internal terkait efektivitas dan keamanan penerapan AI dalam proses pengembangan produk dan layanan.

Langkah-langkah Ketat Amazon Pasca Insiden
Sebagai respons, Amazon meluncurkan program reset keamanan selama 90 hari yang menyasar sekitar 335 sistem kritis. Beberapa aturan ketat yang diterapkan meliputi:

  1. Setiap perubahan kode harus mendapat review dari minimal dua orang insinyur.
  2. Wajib menggunakan proses dokumentasi dan persetujuan formal sebelum deployment.
  3. Memanfaatkan berbagai pemeriksaan otomatis yang lebih ketat untuk mendeteksi kesalahan sejak awal.

Amazon menegaskan bahwa kesalahan yang terjadi lebih disebabkan oleh pengguna alat AI, bukan AI itu sendiri. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, risiko kesalahan besar sulit dihindari. Pada dasarnya, keunggulan AI malah bisa memperbesar skala kerusakan jika tidak dibarengi dengan kontrol yang tepat.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana perusahaan besar memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab. Walaupun AI memudahkan pekerjaan pengembangan perangkat lunak, penerapan tanpa prosedur ketat dapat mengakibatkan dampak serius terhadap operasi perusahaan dan pengalaman pelanggan.

Amazon kini tengah berupaya menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan keselamatan sistem agar kejadian serupa tidak terulang. Pengalaman ini juga menjadi peringatan bagi industri teknologi lain agar melibatkan pengawasan manusia dalam proses pengambilan keputusan berbasis AI.

Dengan langkah-langkah baru yang diterapkan, diharapkan pemanfaatan AI tidak menimbulkan gangguan berulang yang dapat merugikan jutaan pelanggan dan bisnis secara keseluruhan. Regulasi internal yang kuat menjadi kunci agar AI dapat menjadi alat yang efektif tanpa menimbulkan risiko yang tidak perlu.

Terkait