Bitcoin masih berada dalam posisi yang kurang jelas di pasar saat ini, khususnya di tengah sorotan yang lebih besar pada aset-aset ekonomi lama seperti minyak dan logam. Harga Bitcoin berkisar antara $60.000 hingga $75.000 sepanjang tahun ini, berkali-kali mencoba menembus batas atas namun gagal melakukan lonjakan signifikan.
Pasca konflik di sekitar Iran mulai meningkat, Bitcoin sebenarnya mengungguli saham dan emas. Namun, kenaikan ini lebih mencerminkan betapa rendahnya posisi Bitcoin setelah penurunan tajam, yaitu lebih dari 40% dari puncak pada bulan Oktober lalu yang mencapai lebih dari $126.000. Setiap kali Bitcoin naik, kenaikan tersebut biasanya cepat terpangkas kembali karena tekanan pasar yang didominasi oleh volatilitas komoditas.
Pergerakan Harga Bitcoin dan Dinamika Pasar
Pada awal pekan, Bitcoin sempat naik hingga 3,7% sebelum kembali stabil pada kisaran $73.447 di pasar New York. Pola kenaikan ini cenderung singkat dan tidak berkelanjutan. Jasper De Maere, seorang strategis dan trader OTC di Wintermute, menyatakan bahwa pasar Bitcoin menunjukkan dinamika di mana sentimen bearish masih mendominasi, terbukti dari funding rate yang negatif. Kondisi ini berarti para short-seller harus membayar premi untuk mempertahankan posisi mereka, mengindikasikan optimisme yang rendah di antara investor.
Perbandingan dengan akhir tahun 2025 menunjukkan aktivitas trading Bitcoin saat ini jauh lebih tipis. Volume perdagangan yang rendah membuat harga sangat rentan terhadap perubahan drastis dan fluktuasi singkat. Keadaan ini memperlihatkan bahwa momentum untuk mendorong breakout yang solid belum muncul.
Kenaikan Harga Komoditas Jadi Fokus Investor
Sementara Bitcoin terjebak dalam kisaran harga yang sempit, perhatian investor bergeser ke aset fisik seperti minyak, aluminium, dan emas. Harga minyak mentah melonjak hampir 70% setelah eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran. Harga minyak naik dari sekitar $70 per barel menuju puncak sekitar $120 dan kini berada sekitar $100. Aluminium juga menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Di sisi lain, emas tetap stagnan sejak konflik dimulai karena tertekan oleh dolar AS yang menguat dan kenaikan imbal hasil obligasi, padahal tahun sebelumnya emas sempat meroket hingga 65%.
Rotasi dana besar dari aset digital menuju aset keras menandai tren “balas dendam ekonomi lama,” istilah yang digunakan Jeff Currie, Chief Strategy Officer di Carlyle Energy Pathways. Ia menekankan pentingnya memegang aset berat dengan tingkat usang rendah seperti logam, emas, dan minyak dalam portofolio investasi masa depan.
Tantangan Pasokan dan Dampaknya ke Bitcoin
Gangguan pasokan global tidak hanya terjadi pada minyak tetapi juga di sektor gas, pupuk, petrokimia, dan logam. Insiden penyerangan kilang serta risiko pengiriman di Selat Hormuz diperkirakan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Kondisi ini memperkuat argumen peralihan ke aset fisik yang cenderung lebih tahan terhadap ketidakpastian ini.
Menurut Andreja Cobeljic, kepala perdagangan derivatif di AMINA Bank, Bitcoin menghadapi risiko tidak hanya dari ketegangan di Timur Tengah tapi juga tekanan di sektor kredit swasta, inflasi yang menetap, dan ruang terbatas untuk pelonggaran moneter oleh bank sentral. Ia memprediksi reli jangka pendek yang diikuti oleh penurunan siklus kembali, bersamaan dengan pergeseran modal menuju komoditas dan aset lindung inflasi lainnya.
Peran Bitcoin di Tengah Krisis dan Komoditas
Walau Bitcoin mengalami kenaikan sejak konflik di Iran, pasar saham justru melemah. Hal ini menunjukkan Bitcoin semakin matang sebagai aset yang dapat bergerak terpisah dari pasar risiko tradisional. Data Bloomberg mencatat adanya peningkatan permintaan untuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin, dengan arus masuk lebih dari $2 miliar selama tiga minggu berturut-turut.
Namun sejauh ini, Bitcoin belum mampu menandingi performa aset seperti minyak dan logam dalam kondisi pasar yang berfokus pada masalah pasokan dan volatilitas komoditas. Kekurangan Bitcoin bukan pada kelangkaannya yang sudah terprogram secara digital, melainkan pada perubahan preferensi investor yang kini berorientasi pada aset keras yang lebih tangible dan krusial bagi produksi dan kebutuhan global.







