Bitcoin menunjukkan performa yang cukup tangguh meskipun terjadi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah serangan Amerika dan Israel terhadap Iran, harga Bitcoin hanya sempat turun sebentar ke sekitar $63.000 per koin, kemudian segera pulih ke level rendah $70.000-an. Reaksi pasar ini terbilang terbatas, mengingat volatilitas tinggi yang biasanya melekat pada aset kripto tersebut.
Konflik geopolitik memang menimbulkan ketidakpastian pada pasar keuangan global, tapi dampaknya terhadap Bitcoin tidak seberapa secara langsung. Infrastruktur Bitcoin tetap aman karena operasi penambangan dan platform penyimpanan aset digital ini tidak terpusat di wilayah konflik seperti Iran, Israel, Lebanon, atau negara-negara Teluk. Dengan kata lain, gangguan fisik terhadap jaringan Bitcoin hampir tidak mungkin terjadi.
Risiko Langsung dan Kepemilikan Bitcoin di Wilayah Konflik
Iran kemungkinan menyimpan sejumlah Bitcoin di luar laporan resmi bank sentralnya, namun tidak ada indikasi signifikan bahwa negara-negara yang terlibat konflik memiliki jumlah Bitcoin besar yang dapat memicu jual paksa dan mengganggu harga pasar. Bahkan, tidak ada perusahaan publik terbesar di Timur Tengah yang tercatat sebagai pemegang Bitcoin besar dalam jajaran 40 besar pemilik aset kripto global.
Adanya arus masuk modal ke Exchange-Traded Funds (ETFs) Bitcoin juga menandakan kepercayaan investor terhadap aset ini tetap tinggi walau situasi geopolitik memburuk. Pada minggu pertama bulan Maret, ETFs Bitcoin mencatat aliran masuk bersih sekitar $619 juta, meski harga minyak sempat melonjak dan pasar mengalami gejolak.
Dampak Makroekonomi yang Berpotensi Mengancam
Namun demikian, risiko makro ekonomi tidak dapat diabaikan begitu saja. Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pengiriman gas alam cair dan 31% dari seluruh minyak mentah dunia, memicu ketegangan pasar energi. Menurut Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih, penutupan jangka panjang selat ini dapat memicu resesi global. Resesi biasanya memaksa investor untuk melepas aset berisiko seperti Bitcoin, yang walaupun cukup resilien, tetap dianggap volatil dan spekulatif.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Bagi pemegang Bitcoin jangka panjang, konflik ini tidak mengubah fundamental aset digital tersebut. Bitcoin masih dianggap sebagai komponen penting dalam portofolio kripto dan semakin banyak portofolio tradisional juga menambahkannya. Namun bagi pembeli baru, tidak disarankan untuk menginvestasikan jumlah besar secara sekaligus dalam kondisi pasar yang tidak stabil seperti sekarang.
Berikut adalah beberapa poin yang perlu diperhatikan oleh investor terkait Bitcoin di masa konflik ini:
- Infrastruktur Bitcoin aman dari gangguan fisik lokal.
- Tidak ada pemegang besar di wilayah konflik yang bisa mengganggu pasar secara signifikan.
- Risiko makro global dari konflik energi berpotensi menekan harga aset berisiko.
- Investor jangka panjang dapat mempertahankan posisi mereka.
- Investor baru sebaiknya menunda pembelian besar hingga situasi lebih jelas.
Hingga saat ini, resolusi damai atas konflik tersebut masih menjadi kemungkinan yang lebih besar dibandingkan perang berkepanjangan. Oleh sebab itu, penundaan investasi dan pengawasan kondisi pasar menjadi langkah bijak bagi calon investor baru.
Mempertimbangkan fakta bahwa Bitcoin kini tetap menjadi instrumen investasi dengan potensi jangka panjang, keputusan untuk membeli atau menjual harus dilakukan dengan menimbang risiko global yang sedang berlangsung, termasuk ketidakpastian geopolitik dan gejolak pasar energi. Pendekatan hati-hati dengan horizon investasi yang jelas menjadi kunci mencermati peluang sekaligus menghindari kerugian akibat volatilitas ekstrim.









