
Bitcoin saat ini menunjukkan tren yang bertolak belakang dengan pertumbuhan pasokan uang global. Menurut analisis dari CF Benchmarks, meski M2 global meningkat sekitar 12%, harga Bitcoin justru anjlok sekitar 35% dalam periode yang sama. Perbedaan ini merupakan salah satu gap terbesar antara nilai Bitcoin dengan indikator likuiditas global yang selama ini menjadi acuan para analis.
Sebuah model valuasi yang dikutip dalam laporan CF Benchmarks menunjukkan nilai “fair value” Bitcoin berada di kisaran $136.000, jauh di atas harga pasar saat ini yang mendekati $70.000. Secara historis, peningkatan pasokan uang biasanya mendorong aset berisiko, termasuk Bitcoin, yang cenderung bergerak lebih volatile dibanding saham. Namun, situasi kini dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang mengubah pola tersebut.
Pengaruh Kebijakan Moneter AS terhadap Bitcoin
Kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor kunci dalam menjelaskan divergensi ini. The Federal Reserve (Fed) telah memangkas neraca keuangannya dari puncak sekitar $9 triliun menjadi sekitar $6,7 triliun. Selain itu, Fed memperketat suku bunga acuan yang kini berada di level tinggi, sehingga kondisi keuangan tetap ketat meskipun likuiditas global bertambah. Kondisi ini membatasi aliran modal ke pasar dan membuat Bitcoin lebih sensitif terhadap suku bunga riil dan sentimen risiko daripada sekadar pertumbuhan pasokan uang.
Tekanan dari Kenaikan Harga Energi dan Inflasi
Harga energi yang naik juga menjadi penghambat kuat bagi daya beli masyarakat. Kenaikan harga bensin di AS sekitar 81 sen sejak akhir Februari diperkirakan menambah beban biaya hingga $740 per rumah tangga selama setahun. Dampak ini bisa mengurangi efek positif dari pengembalian pajak yang lebih besar, yang pernah diproyeksikan naik rata-rata $1.000 per warga. Selain itu, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz meningkatkan risiko inflasi komoditas minyak global, dengan harga minyak sempat menembus $100 per barel sebelum turun kembali ke kisaran $92.
Kebijakan Federal Reserve Terkini dan Implikasi Pasar
Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50% hingga 3,75%, melanjutkan jeda kebijakan yang dimulai sejak awal tahun. Sikap hati-hati ini diambil karena biaya energi yang tinggi memperumit usaha untuk menyeimbangkan inflasi yang masih tinggi dengan penurunan ketegangan pasar tenaga kerja. Kondisi ini berpotensi menekan pengeluaran konsumsi dan mengurangi aliran modal ke instrumen berisiko termasuk kripto dan saham pertumbuhan.
Potensi Pemulihan Bitcoin di Masa Mendatang
Para ahli masih meyakini bahwa jika kondisi keuangan global melonggar dan konflik di Timur Tengah terkendali, pertumbuhan ekonomi bisa kembali bergeliat. Hal ini akan memberikan dorongan positif untuk aset kripto. Data historis menunjukkan Bitcoin cenderung mengikuti tren likuiditas secara bertahap selama beberapa kuartal, terutama jika Fed mulai menurunkan suku bunga atau memperlambat pengurangan neraca.
Faktor Penyokong Permintaan Struktural Bitcoin
Salah satu kunci pemulihan harga Bitcoin mungkin datang dari permintaan melalui instrumen keuangan tradisional seperti dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis Bitcoin serta pembelian oleh perusahaan besar. Selama ini, pembelian oleh institusi tersebut telah memberikan dukungan mekanis yang belum ada pada siklus sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, dapat menjadi pendorong utama terbaliknya tren penurunan harga Bitcoin.
Bitcoin kini menghadapi tekanan berlapis dari kebijakan moneter ketat, biaya energi yang meningkat, dan ketidakpastian geopolitik. Namun, dinamika pasar kripto tetap dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan kondisi ekonomi global. Pemantauan terhadap faktor-faktor tersebut menjadi penting untuk memahami potensi pergerakan harga Bitcoin ke depan.









