Bitcoin Terjun di Bawah $70K, Pasar Guncang Akibat Lonjakan Harga Minyak, Apa Ini Awal Krisis Baru?

Pasar keuangan global mengalami tekanan signifikan seiring harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melambung mendekati level $97 per barel. Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi penting di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran gejolak geopolitik dan menyebabkan investor menarik diri dari aset berisiko seperti saham teknologi dan mata uang kripto.

Salah satu insiden terbaru adalah serangan rudal yang diluncurkan Iran ke fasilitas di Qatar, yang menjadi pusat ekspor LNG terbesar di dunia. Aksi tersebut merupakan eskalasi terhadap ketegangan yang sudah berlangsung akibat serangan Israel sebelumnya ke ladang gas South Pars milik Iran. Dampak langsung dari situasi ini adalah peningkatan volatilitas pasar dan keputusan Federal Reserve Amerika Serikat untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Dampak terhadap Bitcoin dan Pasar Kripto

Tekanan di pasar minyak serta kekhawatiran geopolitik ikut membebani pasar mata uang digital. Bitcoin, yang dua hari sebelumnya sempat mencapai hampir $76.000, mengalami penurunan tajam dan kembali terjun di bawah level $70.000. Dalam sesi perdagangan awal, nilai Bitcoin turun sebesar 4,2% menjadi sekitar $69.600, menandai hilangnya momentum positif yang sebelumnya diharapkan bertahan di atas $70.000.

Selain Bitcoin, aset kripto lain juga mengalami koreksi serupa. Ethereum turun 4,5% dengan harga mendekati $2.159, sedangkan XRP melemah 2,1% ke level sekitar $1,40. Solana juga tidak luput dari tekanan, tergerus 2,4% menjadi sekitar $88,49.

Kinerja Saham Perusahaan Kripto

Saham perusahaan yang bergerak di sektor kripto juga mencerminkan sentimen negatif pasar. Coinbase, bursa kripto terbesar di AS, merosot 2,71% pada perdagangan sesi awal. Perusahaan investasi besar yang memegang Bitcoin Strategy juga mengikuti tren penurunan sebesar 2,72%. Platform perdagangan Robinhood dan produsen penambang Bitcoin Riot Platforms masing-masing melemah 2,5% dan 2,13%.

Namun, ada indikasi positif pada saham bursa Gemini yang meningkat lebih dari 1% sebelum pasar dibuka. Peningkatan ini terkait dengan pengumuman laporan keuangan kuartal keempat dan tahunan 2025 yang dijadwalkan pada hari tersebut, yang dinantikan oleh pelaku pasar.

Penurunan Target Harga Saham Kripto oleh Citigroup

Pada hari sebelumnya, Citigroup merevisi turunkan target harga sejumlah saham kripto secara signifikan. Penurunan terbesar terlihat pada saham Gemini, dari $13 menjadi $5,5. Target harga Bitcoin Strategy dikurangi sebesar 20%, dari $325 menjadi $260, dan saham Riot Platforms mengalami penurunan target harga dari $23 menjadi $21.

Situasi Pasar Saham Tradisional

Di pasar saham tradisional, sentimen negatif juga terlihat jelas. Kontrak indeks Nasdaq 100 berkontraksi 0,5% sementara S&P 500 turun 0,47%. Hal ini menandai kekhawatiran investor terhadap dampak ketegangan geopolitik dan volatilitas harga minyak terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan global.

Langkah Pemerintah dan Federal Reserve

Menghadapi kondisi yang tidak menentu, Presiden Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan pelonggaran sementara terhadap Jones Act dengan memberikan pengecualian selama 60 hari. Langkah ini memungkinkan kapal asing untuk mengangkut minyak dan gas antar pelabuhan di AS guna menekan biaya pengiriman dalam negeri.

Sementara itu, Federal Reserve memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan, mengantisipasi efek lanjutan dari ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar minyak yang berpotensi mempengaruhi prospek ekonomi AS secara lebih luas.

Dengan latar belakang tersebut, perkembangan harga minyak yang terus meningkat akibat konflik di Timur Tengah berperan signifikan dalam menekan pasar cryptocurrency serta membebani saham teknologi dan energi. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memantau dinamika geopolitik dan kebijakan moneter yang terus berlangsung.

Berita Terkait

Back to top button