PHK Massal dan Laba Alibaba Anjlok, Strategi Berani All In ke Bisnis AI Mengubah Persaingan Teknologi

PHK massal tengah melanda perusahaan e-commerce raksasa asal China, Alibaba, seiring turunnya laba dan tantangan bisnis yang dihadapi. Sepanjang tahun 2025, Alibaba memangkas jumlah karyawannya hingga sekitar 34%, sebuah langkah signifikan yang mencerminkan restrukturisasi besar-besaran perusahaan.

Perusahaan menutup beberapa unit bisnis ritel offline dan mengalihkan fokus investasi ke bidang kecerdasan buatan (AI). Pada akhir Desember 2025, jumlah karyawan Alibaba tercatat sebanyak 128.197 orang, turun drastis dari 194.320 karyawan setahun sebelumnya. Data ini diungkapkan dalam laporan keuangan Alibaba yang dirilis pada Maret 2026.

Penurunan Laba dan Pendapatan yang Meleset

Laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa laba bersih Alibaba anjlok hingga 67%. Pendapatan perusahaan pun gagal memenuhi ekspektasi pasar, memicu kejatuhan harga saham hingga 6% dalam perdagangan di bursa Hong Kong. Penurunan laba yang tajam ini berdampak langsung pada strategi perusahaan untuk mengurangi beban operasional dan memperbaiki struktur bisnis.

Sebagian besar pengurangan karyawan terjadi pada kuartal pertama 2025, yang bertepatan dengan penjualan aset grup ritel Sun Art pada akhir 2024. Selain itu, Alibaba juga melepas kepemilikan di jaringan department store Intime di periode yang sama. Langkah ini menandai upaya perusahaan untuk keluar dari segmen bisnis ritel yang padat tenaga kerja dan kurang menguntungkan.

Restrukturisasi dan Fokus pada Bisnis AI

Alibaba menempuh jalur restrukturisasi yang cukup radikal dengan mengurangi jumlah karyawan secara signifikan selama beberapa tahun terakhir. Namun, pengurangan terbaru ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pengurangan 11% pada akhir tahun sebelumnya. Sebagai gantinya, Alibaba memusatkan investasinya pada pengembangan kecerdasan buatan dan teknologi cloud computing.

Dalam beberapa tahun ke depan, Alibaba berambisi menjadi perusahaan AI yang menyeluruh. Lingkup bisnis AI yang akan dijalankan meliputi manufaktur semikonduktor, pengembangan model AI, serta layanan komputasi awan. Pada minggu terakhir, perusahaan resmi meluncurkan layanan AI berbasis agen bernama Wukong yang diperuntukkan bagi sektor bisnis.

Peningkatan Harga Layanan Cloud

Selaras dengan fokus baru ini, Alibaba menaikkan harga layanan cloud dan penyimpanannya hingga 34%. Kenaikan harga ini didorong oleh meningkatnya permintaan sekaligus tekanan biaya dalam rantai pasokan. CEO Alibaba, Eddie Wu, menyatakan bahwa perusahaan menargetkan pendapatan dari cloud dan AI bisa melampaui US$100 miliar per tahun dalam lima tahun ke depan.

Pengurangan Karyawan Sebagai Tren Global

Pengurangan karyawan besar-besaran yang dilakukan Alibaba tidak terjadi dalam isolated case. Sejumlah perusahaan teknologi besar di seluruh dunia dari Silicon Valley hingga pusat teknologi di Hangzhou, China, juga melakukan langkah serupa dalam setahun terakhir. Ini merupakan reaksi terhadap kondisi pasar yang menantang dan kebutuhan mendesak untuk beradaptasi dengan tren teknologi baru seperti AI.

Dampak dan Potensi Strategi Alibaba

Meski penyesuaian jumlah tenaga kerja pada awalnya memicu ketidakpastian, upaya Alibaba masuk ke bisnis AI bisa jadi langkah strategis untuk kelangsungan dan pertumbuhan di era digital. Investasi besar di kecerdasan buatan berpotensi membuka peluang baru dan memperkuat posisi Alibaba sebagai pemimpin teknologi di pasar global yang kompetitif.

Pengembangan produk AI seperti Wukong dan layanan cloud yang semakin matang menunjukkan kesiapan Alibaba untuk bersaing di bidang teknologi canggih. Perusahaan tampaknya membidik pertumbuhan pendapatan dari segmen cloud dan AI agar bisa mengurangi ketergantungan terhadap model bisnis lama yang kini dianggap kurang efektif.

Langkah ini juga menjadi cerminan bagaimana industri teknologi sedang bertransformasi secara masif. Perusahaan harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi agar tetap relevan sekaligus bertahan dalam pasar yang sangat dinamis. Alibaba, dengan modal sumber daya dan inovasi yang besar, menjadikan bisnis AI sebagai pusat strategi sekaligus solusi dalam menghadapi tekanan ekonomi saat ini.

Dengan pergeseran fokus dari ritel ke AI, Alibaba diharapkan tidak hanya mempertahankan keunggulan kompetitif, tetapi juga membuka jalan bagi perkembangan teknologi baru yang berdampak luas.Strategi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi terbesar menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi sekaligus membuka peluang baru dalam era digital.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button