Bitcoin dan XRP Terjebak Konflik AS-Iran, Harga Crypto Terus Terjun Saat Minyak Meroket

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi penghalang utama bagi reli harga Bitcoin dan XRP. Setiap kali ada eskalasi konflik, pasar kripto mengalami likuidasi besar-besaran, khususnya posisi long yang mendominasi sekitar 85% dari total likuidasi senilai lebih dari $1 miliar dalam 48 jam setelah ultimatum Iran oleh Trump pada 22 Maret. Dampak langsung ini menimbulkan penurunan tajam harga Bitcoin dari puncak $75.000 ke bawah $68.000 dalam waktu singkat.

Bitcoin dan XRP tidak berperan sebagai aset safe haven selama konflik ini berlangsung. Harga keduanya sangat terkorelasi dengan indeks saham S&P 500 hingga 89% saat terjadi penjualan besar-besaran, bahkan XRP menunjukkan pergerakan yang lebih tajam dengan penurunan 2,6% dibanding Bitcoin yang turun 2,2% saat ultimatum diumumkan. Kondisi pasar yang likuid selama 24/7 membuat kripto menjadi yang pertama bereaksi terhadap berita geopolitik, sebelum pasar tradisional saham dan komoditas buka pada hari Senin.

Peran Harga Minyak dalam Dinamika Pasar Kripto

Harga minyak Brent yang bergejolak kuat menjadi kunci utama mengapa harga Bitcoin dan XRP sulit pulih secara berkelanjutan. Sejak awal konflik, harga minyak sering melampaui $100 per barel, bahkan sempat menembus $110 ketika berita eskalasi muncul. Lonjakan harga minyak ini menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga Federal Reserve terpaksa menunda ekspektasi pemotongan suku bunga. Hal ini berdampak pada pergeseran dana dari aset berisiko seperti kripto menuju instrumen keuangan yang lebih stabil.

Penutupan Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia memperburuk kondisi ini. Selama konflik melebar sejak akhir Februari, kelangkaan suplai minyak membuat Brent secara konsisten menahan level tinggi. Kondisi tersebut menahan ruangan gerak The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya membatasi pembentukan reli harga pada Bitcoin maupun XRP.

Pengaruh Pasar 24 Jam pada Volatilitas Kripto

Berbeda dengan pasar tradisional, pasar kripto buka tanpa henti, memungkinkan reaksi instan terhadap berita yang datang kapan saja. Beberapa eskalasi utama, seperti serangan awal pada 28 Februari dan ultimatum 22 Maret, terjadi pada akhir pekan saat pasar konvensional tutup. Akibatnya, pelemahan harga kripto terlihat jauh lebih ekstrim karena volume perdagangan yang lebih kecil dan kerentanan likuiditas.

Bitcoin dan XRP justru mengikuti pola pergerakan indeks saham dan emas pada periode penurunan ini, bertolak belakang dengan harapan investor bahwa kripto dapat menjadi pelindung nilai saat krisis geopolitik. XRP bahkan cenderung memperkuat gerakan harga Bitcoin, akibat korelasi tinggi antar aset kripto utama yang semakin terasa dalam kondisi pasar penuh ketidakpastian.

Faktor yang Dibutuhkan untuk Membalikkan Tren

Untuk memulihkan tren kenaikan harga Bitcoin dan XRP, beberapa syarat fundamental harus terpenuhi. Harga minyak Brent perlu kembali turun ke kisaran $80 sampai $85 per barel, yang menandakan berkurangnya ketegangan di wilayah Timur Tengah dan potensi perdamaian. Penurunan harga minyak ini akan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga, sehingga mendorong aliran modal kembali ke aset berisiko.

Selain itu, sentimen positif yang sudah membangun sebelum konflik—seperti pengakuan SEC atas Bitcoin sebagai komoditas, masuknya dana besar ke ETF XRP senilai $1,44 miliar, serta kemajuan regulasi seperti CLARITY Act—masih tetap ada. Namun, katalis ini belum mampu mendorong pasar kripto tanpa adanya perbaikan makroekonomi global, terutama terkait harga energi dan kebijakan moneter AS.

Adaptasi Pasar Kripto terhadap Gejolak

Meskipun harga Bitcoin dan XRP menurun akibat konflik ini, kedua aset masih menunjukkan stabilitas relatif. Bitcoin mencatatkan level rendah yang lebih tinggi pada setiap penurunan, yaitu dari $64.000 hingga $69.400 dalam beberapa pekan terakhir. XRP tetap bertahan di kisaran $1,35 sampai $1,45 meskipun kondisi pasar penuh tekanan. Pola ini mengindikasikan pasar mulai menyerap guncangan geopolitik yang berulang.

Sementara itu, investor dan pelaku pasar masih mengamati perkembangan terbaru antara AS dan Iran yang kemungkinan akan menentukan arah selanjutnya. Penundaan serangan yang diumumkan oleh Trump dan kemudian dibantah oleh pihak Iran, menambah ketidakpastian, sehingga volatilitas pasar kripto masih akan tinggi sepanjang ketegangan belum mereda.

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran menjadi faktor eksternal yang terus membayangi prospek kripto. Tekanan dari harga minyak dan kebijakan suku bunga The Fed membuat Bitcoin dan XRP sulit mempertahankan tren reli jangka pendek. Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan harga energi dan berita diplomatik sebagai indikator utama dalam mengantisipasi pergerakan pasar kripto ke depan.

Exit mobile version