Godzilla El Nino Menggulung Jawa, Suhu Mendidih dan Hujan Kian Langka, Ancaman Krisis Pangan Makin Nyata

Prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa Indonesia bakal menghadapi “Godzilla” El Nino mulai April mendatang. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga Oktober dan dipadukan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang memperkuat efek kekeringan di wilayah Tanah Air.

El Nino menyebabkan pergeseran pola cuaca. Awan dan hujan lebih banyak terkonsentrasi di Samudra Pasifik. Sementara itu, wilayah Indonesia mengalami minim awan sehingga hujan sangat berkurang. Hal ini memicu suhu panas yang melewati batas normal pada pulau-pulau seperti Jawa.

Dampak Suhu Panas dan Kekeringan di Jawa

Prediksi model cuaca BRIN mengindikasikan kemarau kering yang cukup parah di Jawa dan Nusa Tenggara Timur pada periode April hingga Juli. Suhu panas menjulang hingga terasa mendidih, terutama di bagian utara dan selatan Jawa. Hujan pun menjadi sangat jarang. Kondisi ini berpotensi mengancam keberlanjutan produksi pangan, terutama di zona lumbung padi nasional seperti Pantura Jawa.

Menurut periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, kekeringan ini bisa berujung pada masa paceklik air untuk pertanian dan mengganggu ketahanan pangan. Oleh sebab itu, mitigasi ketat sangat diperlukan agar dampak kerugian ekonomi dan sosial dapat diminimalisasi.

Indian Ocean Dipole Positif Memperparah Kondisi

IOD positif muncul akibat pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa. Fenomena ini semakin menyulitkan terjadinya pembentukan awan hujan, sehingga wilayah Jawa semakin kering. Data menunjukkan penurunan curah hujan signifikan yang kemungkinan berlangsung dalam jangka waktu cukup lama.

Efek kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi memperpanjang musim kemarau dan menurunkan kelembapan di Jawa serta sebagian wilayah selatan Indonesia. Hujan yang jarang bahkan dapat berakibat pada berkurangnya ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Perbedaan Kondisi Cuaca di Wilayah Lain

Sementara Jawa diterpa kekeringan ekstrem, daerah Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diprediksi mengalami curah hujan tinggi sepanjang musim kemarau tersebut. Curah hujan yang tidak biasa ini meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.

Selain itu, wilayah Kalimantan dan Sumatra juga patut diwaspadai. Meski wilayah utara kedua pulau tersebut mendapat curah hujan tinggi, sebagian wilayah lainnya berisiko mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ancaman tersebut harus dikelola melalui antisipasi kebakaran yang lebih fokus dan efektif.

Upaya Mitigasi yang Diperlukan Pemerintah

Mengacu pada proyeksi ini, BRIN merekomendasikan beberapa langkah mitigasi penting, antara lain:

  1. Mencegah dan menanggulangi kekeringan yang mengancam lumbung pangan di Pantura Jawa.
  2. Meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.
  3. Menyiapkan sistem mitigasi bencana banjir dan longsor di Sulawesi dan wilayah timur lainnya.
  4. Mengoptimalkan produksi garam di wilayah Selatan Indonesia guna mendukung swasembada garam 2026-2027.

Strategi ini penting agar dampak ekstrem El Nino-IOD positif dapat diminimalkan dan penanganan sumber daya alam serta sosial masyarakat menjadi lebih adaptif.

Pengaruh Terhadap Aktivitas Harian dan Ekonomi

Suhu panas yang terkonsentrasi di Pulau Jawa juga berdampak langsung terhadap kenyamanan dan risiko kesehatan masyarakat, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan. Peningkatan suhu ekstrem dapat memicu gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan heat stroke.

Dalam sektor ekonomi, produktivitas pertanian dan sektor terkait berpotensi turun. Kekurangan air irigasi dan kondisi kering menghambat pertumbuhan tanaman pangan penting seperti padi. Selain itu, turunnya ketersediaan garam laut akibat perubahan musim juga menjadi perhatian utama.

Pemantauan cuaca dan iklim secara terus-menerus, serta sinergi antar lembaga pemerintah dan masyarakat, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan iklim yang makin kompleks ini. Adaptasi cepat dan mitigasi terpadu diharapkan mampu menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi segala dampak fenomena “Godzilla” El Nino.

Dengan data valid dan langkah mitigasi yang tepat, risiko yang timbul akibat musim kemarau panjang dan kondisi cuaca ekstrem dapat dikendalikan, sehingga masyarakat Indonesia bisa lebih siap menyongsong perubahan iklim global yang semakin nyata.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version