Gold dan Silver Anjlok Rugikan $2 Triliun, Apakah Bitcoin dan Crypto Siap Mengikuti Tren Ini?

Gold dan perak mengalami crash besar pada pembukaan pasar hari Senin, yang menghapus nilai pasar gabungan sekitar $2 triliun. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS dan melemahnya status safe-haven dari logam mulia tersebut.

Situasi ini terkait erat dengan ketegangan geopolitik yang meningkat antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang memicu gejolak di berbagai pasar finansial global. Harga emas dan perak turun tajam hampir 10% pada hari Senin, menandai bahwa kedua komoditas berharga ini telah memasuki pasar bearish setelah terjun lebih dari 22% sejak puncak tertinggi sepanjang masa.

Penurunan Signifikan Harga Emas dan Perak

Emas, yang selama ini dianggap sebagai aset perlindungan utama saat krisis global, kini justru bergerak sejalan dengan aset berisiko seperti saham. Dalam beberapa sesi terakhir, emas anjlok antara 5-7%, dengan kerugian mingguan mencapai sekitar 10%, menandai penurunan terbesar sejak 2011.

Sementara itu, perak menunjukkan performa yang lebih buruk dengan penurunan lebih dari 14% dalam seminggu. Harga perak bahkan sempat menembus level support penting di kisaran $69-$80 per ounce sebelum sedikit terkoreksi kembali.

Faktor penyebab penurunan ini termasuk aksi ambil untung dan likuidasi besar-besaran oleh institusi, serta menguatnya dolar AS yang meningkatkan cost opportunity untuk menyimpan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga seperti emas dan perak.

Kenaikan Imbal Hasil Treasury Sebagai Pemicu Utama

Para analis menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai penyebab utama tekanan pada logam mulia. Imbal hasil yang lebih tinggi membuat investor enggan memegang aset tanpa imbal hasil, mendorong margin call dan penjualan paksa di tengah kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz.

Meski ketegangan di Timur Tengah meningkat, emas gagal menunjukkan reli yang biasa terjadi pada masa perang. Justru harga emas mengikuti pola aset risiko, menunjukkan korelasi yang lebih tinggi dengan pasar saham daripada perannya sebagai aset lindung nilai tradisional.

Dampak pada Bitcoin dan Pasar Cryptocurrency

Sementara logam mulia jatuh pada pembukaan pasar, investor cryptocurrency sudah mengalami tekanan sejak akhir pekan. Bitcoin rebah tajam setelah mantan Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Tehran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam.

Ancaman tersebut memicu ketakutan di pasar risiko, sehingga harga Bitcoin anjlok dari level tertinggi mingguan $75,912 ke $68,241 hanya dalam beberapa jam. Penurunan ini menghapus sekitar 10% dari nilai Bitcoin dan menggugurkan seluruh keuntungan selama seminggu terakhir.

Dalam kurun 24 jam, likuidasi aset kripto mencapai lebih dari $299 juta, dengan posisi long paling banyak dikeluarkan. Altcoin seperti Ethereum juga terdampak, memperparah sentimen risk-off di pasar terkait kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

Bitcoin vs Emas: Perubahan Narasi di Tengah Konflik

Selama enam bulan terakhir, Bitcoin kesulitan bertahan di atas level $70,000 dan sempat tertinggal dari emas. Namun sejak konflik Iran meningkat, peran Bitcoin mulai bergeser. Bitcoin justru menunjukkan performa lebih baik dengan mencatat kenaikan 7–12% di periode penting, sementara emas turun antara 2–10%.

Aliran masuk institusional ke ETF Bitcoin melebihi $1,1 miliar baru-baru ini, dan kemampuan Bitcoin untuk diperdagangkan 24/7 memungkinkan pemulihan yang lebih cepat dibanding pasar konvensional. Beberapa analis bahkan menyebut Bitcoin sebagai “emas digital 2.0” yang lebih mampu menyerap risiko ketimbang emas.

Teori Konspirasi dan Faktor Tambahan

Ada spekulasi di komunitas kripto bahwa operasi penambangan Bitcoin yang didukung negara Iran turut mempengaruhi kenaikan harga Bitcoin sejak Februari. Iran dikabarkan dapat menghasilkan satu Bitcoin dengan biaya sekitar $1,300 dan menjualnya di pasar global dengan harga jauh di atas $70,000, menghasilkan margin keuntungan besar.

Namun, banyak yang skeptis dengan teori ini karena pangsa kontribusi Iran terhadap hashrate Bitcoin global kini hanya di angka rendah satu digit, lebih kecil dibanding tingkat historis sebelumnya.

Tantangan dan Peluang Pasar ke Depan

Kenaikan harga minyak, potensi gangguan pasokan, dan suku bunga tinggi yang berlangsung lama akan terus memberikan tekanan pada aset-aset berisiko. Meski demikian, keunggulan struktural Bitcoin—seperti adopsi ETF, likuiditas sepanjang waktu, dan pergerakan harga yang bisa terlepas dari safe-haven tradisional—menjadi faktor kunci yang bisa membatasi penurunan harga Bitcoin dibanding emas.

Investor disarankan tetap memantau perkembangan geopolitik dan dinamika pasar dengan seksama, karena korelasi pasar bisa berubah cepat dalam situasi krisis yang sedang berlangsung.

Berita Terkait

Back to top button