CEO New Blood Serukan Boikot Nvidia, DLSS 5 Dinilai Bisa Guncang Penjualan Dan Saham

Dave Oshry, co-founder New Blood Interactive, kembali menyorot kontroversi DLSS 5 dari Nvidia dan meminta para pengembang game serta pemain untuk menolak teknologi itu jika dianggap merugikan kualitas visual dan posisi kreator. Dalam pernyataannya, ia bahkan mendorong aksi pasar yang keras dengan kalimat, “Cripple their sales, tank their stock price,” sebagai bentuk tekanan agar Nvidia mendengar keberatan komunitas.

Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan yang makin panas soal generative AI di industri game. Sejumlah eksekutif dari perusahaan besar seperti Capcom dan Bethesda disebut sudah menunjukkan dukungan terhadap teknologi baru ini, tetapi di sisi lain banyak pengembang merasa pendekatan tersebut terlalu mengandalkan otomatisasi dan berpotensi menggeser nilai karya buatan manusia.

Kontroversi DLSS 5 dan kekhawatiran soal arah visual game

DLSS 5 diperkenalkan sebagai teknologi rendering generatif yang bekerja dengan aset game yang sudah ada, lalu mengubah tampilannya agar tampak lebih fotorealistik. Bagi pendukungnya, fitur ini menawarkan cara baru untuk meningkatkan kualitas gambar secara real-time, tetapi bagi para kritikus, hasil akhirnya justru terasa seperti filter AI yang menumpang di atas karya seniman dan desainer game.

Oshry menilai teknologi seperti ini mengubah cara video game terlihat secara mendasar. Ia bahkan menyebut ada kekhawatiran bahwa keputusan-keputusan besar di level bisnis bisa lebih mengutamakan kecepatan produksi dan efisiensi biaya ketimbang kualitas artistik yang dibuat dengan tangan.

Kritik itu tidak hanya datang dari sisi etika, tetapi juga dari sisi praktis. DLSS 5 mendapat sorotan karena demo Nvidia disebut memerlukan dua kartu grafis RTX 5090 untuk ditampilkan, meski Nvidia menyatakan nantinya teknologi itu bisa berjalan dengan satu GPU.

Mengapa New Blood menolak pendekatan ini

New Blood dikenal lewat game retro dan bergaya visual khas, sehingga posisi perusahaan ini konsisten dengan sikap yang menjunjung tinggi identitas artistik. Oshry menjelaskan bahwa satu-satunya pengalaman studio mereka dengan DLSS dan RTX dalam game Amid Evil justru terasa merepotkan, tidak memberi tambahan penjualan, dan malah membuat tampilan game terasa lebih buruk.

Ia juga menegaskan bahwa kritiknya bukan datang dari kepentingan bisnis semata. Menurutnya, kehadiran fitur seperti DLSS, frame generation, dan berbagai teknologi AI lain makin mendorong industri untuk menciptakan game yang bergantung pada alat ekstra mahal dan sulit dijangkau.

  1. Menolak kolaborasi dengan Nvidia jika teknologi dianggap merusak kualitas visual.
  2. Mengkritik penggunaan AI generatif yang dinilai mengabaikan kerja kreatif manusia.
  3. Memilih game dan layanan yang tetap mengutamakan arah seni dan desain manual.
  4. Menggunakan kekuatan belanja untuk memberi tekanan balik ke perusahaan teknologi.

Sikap pemain dan pengembang mulai terbelah

David Szymanski, kreator game seperti Dusk, Iron Lung, dan Gloomwood, mengatakan ia sejalan dengan kritik Oshry. Ia menilai efek pencahayaan dan kontras dari DLSS 5 justru dapat membuat adegan terasa kurang realistis dan kurang meyakinkan, terutama saat dibandingkan dengan presentasi visual game yang memang dirancang secara artistik sejak awal.

Szymanski juga menolak argumen bahwa fitur itu sepenuhnya “opsional”. Menurutnya, banyak teknologi grafis modern awalnya memang disebut pilihan tambahan, tetapi pada praktiknya menjadi fondasi yang membuat game baru sulit berjalan tanpa dukungan fitur tersebut.

Ia menyinggung upscaling, temporal AA, hingga realtime GI sebagai contoh teknologi yang pada awalnya terdengar opsional, namun sekarang sudah sangat melekat dalam desain game modern. Dari sudut pandangnya, industri telah bergerak terlalu jauh ke arah “lateral movements in rendering” yang membuat pemain semakin bergantung pada teknologi tambahan.

Di tengah dukungan dan penolakan, Nvidia tetap jadi pusat sorotan

Di sisi lain, ada pula suara yang membela DLSS 5. Jean Pierre Kellams, lead producer di Epic Games, mengatakan bahwa jika demo yang sama ditunjukkan sebagai reveal hardware generasi baru, banyak orang mungkin akan bereaksi lebih positif.

Pendukung teknologi ini juga menilai DLSS 5 mampu memperbaiki detail visual tertentu, termasuk skin shader, pantulan cahaya pada aksesori karakter, dan efek pencahayaan yang dianggap lebih modern. Namun, perdebatan tetap berjalan karena banyak pihak mempertanyakan apakah peningkatan visual itu sepadan dengan biaya perangkat, beban kreativitas, dan pengaruhnya terhadap arah seni game.

Kritik keras dari New Blood menambah daftar panjang suara yang menilai industri game mulai terlalu nyaman dengan otomasi visual. Bagi para penentangnya, pertanyaan utama bukan lagi soal apakah DLSS 5 bisa berjalan mulus, melainkan apakah game masih akan terasa seperti karya manusia ketika filter AI makin sering ditempatkan di atas rancangan artistik yang sudah dibangun sejak awal.

Exit mobile version