OpenAI resmi menghentikan aplikasi video AI Sora hanya 176 hari setelah peluncuran awalnya. Langkah ini menutup salah satu proyek paling publik dan paling banyak disorot dari OpenAI, sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah dunia memang membutuhkan aplikasi semacam itu?
Keputusan tersebut juga memberi sinyal bahwa tidak semua produk AI yang viral otomatis punya masa depan yang kuat. Dalam kasus Sora, teknologi model videonya memang menarik perhatian, tetapi bentuk aplikasinya tidak berhasil menemukan posisi yang jelas di antara alat profesional dan platform hiburan.
Sora dan masalah sejak awal
Sora dibangun di tengah pasar generatif media yang sangat mahal dan sarat risiko. Untuk menghasilkan video yang layak, pengembang harus menghabiskan banyak sumber daya komputasi, sementara persoalan hak cipta dan moderasi konten tetap membayangi sejak tahap awal.
OpenAI sebenarnya punya dua arah besar yang bisa ditempuh, yaitu membangun alat video AI kelas profesional atau menjadikannya platform sosial baru. Namun Sora tidak benar-benar memilih salah satu secara penuh, sehingga produk akhirnya terasa menggantung di tengah.
Model generasi keduanya memang dinilai impresif dan sempat masuk jajaran alat video AI yang menonjol. Meski begitu, aplikasi dan situsnya tidak memberikan pengalaman pengeditan yang kuat, sementara fitur storyboard yang disiapkan juga belum memenuhi ekspektasi banyak pengguna.
Kurang kuat sebagai alat kerja
Masalah utama Sora adalah posisinya yang tidak cukup mantap sebagai alat profesional. Pengguna tidak mendapat kebebasan pengeditan yang memadai, padahal pesaing seperti Google dan Adobe sudah lebih dulu menanamkan AI ke dalam alur kerja kreatif yang matang.
Google mengembangkan Flow untuk kebutuhan pengeditan profesional berbasis AI. Adobe juga mengintegrasikan AI ke dalam perangkat lunak yang sudah menjadi standar industri, sehingga pengguna tidak perlu berpindah ekosistem untuk mencoba fitur baru.
Sora, sebaliknya, menempatkan model yang kuat di dalam aplikasi yang belum sepenuhnya siap. Hasilnya, kualitas teknologi tidak otomatis berubah menjadi produk yang benar-benar berguna.
Lebih dekat ke meme daripada produk serius
Ketika Sora gagal menjadi alat kerja, fungsi utamanya justru bergeser ke konten ringan dan meme. Di titik itu, OpenAI tampak masuk ke wilayah media sosial, padahal mengelola platform semacam itu menuntut investasi besar, kebijakan moderasi yang rumit, dan tanggung jawab etis yang terus-menerus.
Berbagai platform besar pun sudah berkali-kali menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan konten dan menjaga keamanan pengguna. Karena itu, keputusan OpenAI untuk tidak terus memelihara “aplikasi sosial AI” seperti Sora dinilai lebih masuk akal dibanding memaksa sebuah konsep yang belum menemukan pasar.
Mengapa penutupan ini dianggap tepat
OpenAI disebut tidak pernah memberi Sora prioritas sebesar ChatGPT. Perbedaan itu penting, karena ChatGPT berkembang sebagai produk inti, sementara Sora lebih terlihat seperti eksperimen mahal yang tidak memiliki arah bisnis sejelas layanan utama OpenAI.
Ada sejumlah alasan yang membuat penghentian Sora relevan untuk dibaca sebagai koreksi strategi. Berikut ringkasannya:
- Biaya pengembangan dan komputasi generatif media sangat tinggi.
- Risiko hukum, terutama soal hak cipta, terus membayangi.
- Sora belum menjadi alat profesional yang matang.
- Sora juga gagal tumbuh sebagai platform sosial dengan identitas kuat.
- Fokus OpenAI kini bergeser ke alat AI yang lebih fungsional untuk kerja.
Pergeseran ini selaras dengan tren industri yang makin menekankan AI untuk produktivitas. Anthropic, misalnya, mendorong penggunaan Claude Code dan Cowork sebagai alat kerja, sementara OpenAI juga mendorong Codex untuk bersaing di ranah yang sama.
Dampak bagi arah industri AI
Di sisi lain, penutupan Sora menunjukkan bahwa industri AI mulai menghadapi fase seleksi yang lebih keras. Produk yang sekadar viral tidak lagi cukup jika tidak memberi nilai praktis, apalagi jika biaya operasionalnya tinggi dan manfaatnya terbatas.
Fidji Simo, kepala aplikasi OpenAI, dilaporkan juga telah meminta perusahaan mengurangi “side quests” dan fokus pada alat bisnis. Sinyal itu memperkuat dugaan bahwa OpenAI kini ingin menjauh dari proyek yang lebih dekat ke hiburan sesaat dan bergerak ke produk yang memberi nilai ekonomi nyata.
Ketika banyak perusahaan teknologi berlomba menciptakan konten sintetis, penghentian Sora justru membuka ruang untuk pertanyaan yang lebih penting. AI seperti apa yang benar-benar dibutuhkan pengguna, dan produk mana yang hanya menambah “slop” baru di internet yang sudah penuh sesak?








