Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase baru setelah kelompok Houthi di Yaman ikut menyerang Israel secara langsung. Langkah ini menandai perluasan konflik yang sebelumnya banyak berpusat pada Iran dan Israel, lalu kini merambat ke jalur strategis Laut Merah.
Serangan Houthi terjadi saat Amerika Serikat memperkuat postur militernya di kawasan. Washington disebut menyiapkan opsi yang lebih luas, termasuk kemungkinan operasi darat, di tengah kekhawatiran bahwa perang akan semakin sulit dikendalikan dan memukul stabilitas regional.
Houthi buka front baru dalam perang kawasan
Merujuk laporan Reuters, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran meluncurkan serangan pertama ke Israel pada Sabtu, 28 Maret 2026. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, kemudian menyatakan bahwa serangan itu bukan yang terakhir dan pihaknya akan melanjutkan aksi berikutnya.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan perubahan besar dalam pola konflik. Houthi sebelumnya lebih dikenal sebagai kelompok yang menekan Israel dan sekutunya melalui ancaman di Laut Merah, bukan lewat serangan langsung ke wilayah Israel.
Masuknya Houthi juga memperbesar risiko terhadap perdagangan dunia. Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb menjadi jalur vital menuju Terusan Suez, sehingga setiap gangguan di area itu berpotensi memengaruhi pengiriman energi, barang konsumsi, dan logistik internasional.
AS siapkan opsi militer lebih luas
Di saat yang sama, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Ribuan marinir telah dikirim ke kawasan, dengan gelombang pertama tiba menggunakan kapal serbu amfibi.
The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon juga menyiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran. Opsi itu disebut dapat melibatkan pasukan khusus hingga infanteri konvensional, meski keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Donald Trump.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan Washington sebenarnya dapat mencapai tujuannya tanpa operasi darat. Namun, pengerahan pasukan dilakukan agar Trump memiliki ruang manuver lebih besar dalam menentukan langkah berikutnya.
- Pengiriman marinir untuk memperkuat posisi AS di kawasan.
- Penyiapan opsi operasi darat terbatas jika situasi memburuk.
- Fleksibilitas strategi tetap ditentukan oleh keputusan presiden.
Pertempuran melebar ke berbagai titik
Di sisi lain, konflik tidak hanya berhenti pada Iran, Israel, dan Houthi. Israel dilaporkan menyerang fasilitas produksi senjata di Teheran dan target di Lebanon, yang menewaskan jurnalis serta tentara.
Serangan lanjutan juga menghantam tim penyelamat yang datang membantu korban. Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel dan sejumlah wilayah Teluk, sementara drone dilaporkan terdeteksi di Irak, termasuk di dekat kediaman tokoh penting Kurdi.
Rangkaian serangan itu menegaskan bahwa perang telah berubah menjadi konflik multi-front. Setiap tambahan aktor membuat risiko salah hitung dan eskalasi tak terkendali semakin besar.
Dampak ekonomi global ikut terdorong naik
Perang yang dimulai sejak 28 Februari melalui serangan AS dan Israel ke Iran telah menewaskan ribuan orang. Konflik ini juga mengguncang ekonomi global karena pasokan energi terganggu, terutama melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Jika jalur ini makin terancam, pasar energi bisa menghadapi tekanan baru, sementara harga dan distribusi komoditas ikut bergejolak.
Ancaman kini bertambah karena Bab el-Mandeb juga berpotensi terganggu jika Houthi memperluas serangannya. Kombinasi dua jalur maritim itu menjadikan konflik Timur Tengah bukan hanya persoalan keamanan regional, tetapi juga ancaman langsung bagi rantai pasok global.
Upaya diplomasi masih berjalan di tengah tekanan
Meski situasi memburuk, jalur diplomasi belum tertutup sepenuhnya. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan dengan menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk mencari cara meredakan ketegangan regional.
Namun, perdamaian masih tampak jauh karena Iran menegaskan akan membalas dengan keras jika infrastruktur atau pusat ekonominya diserang. Dalam situasi seperti ini, pergerakan Houthi, respons AS, dan balasan Israel akan menjadi penentu arah konflik dalam beberapa pekan ke depan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com








