Meta sempat menegaskan bahwa kacamata pintar Ray-Ban Meta dibuat dengan privasi sebagai inti produk. Namun, laporan investigasi terbaru dan gugatan hukum yang menyusul justru memunculkan pertanyaan besar: apakah data pengguna benar-benar hanya diproses oleh AI, atau juga dilihat oleh manusia?
Kasus ini kembali membuka perdebatan lama tentang perangkat wearable yang merekam lingkungan sekitar secara otomatis. Di tengah dorongan industri teknologi untuk membuat AI makin canggih, isu persetujuan, pengawasan, dan perlindungan orang yang terekam ikut menjadi sorotan utama.
Dari janji privasi ke tuduhan baru
Saat membuka preorder pada September 2023, Meta menyampaikan pesan yang sangat jelas soal keamanan privasi. Pihak perusahaan menyebut Ray-Ban Meta smart glasses “built with privacy at their core”, dan promosi itu membuat perangkat ini terlihat aman digunakan di ruang publik.
Kesan tersebut kini diguncang oleh laporan media Swedia dan gugatan federal di Amerika Serikat. Laporan itu menyebut video dari kacamata pintar tidak hanya dipakai untuk melatih sistem AI, tetapi juga diteruskan ke pekerja kontrak di Kenya untuk pelabelan manual.
Menurut laporan itu, para pekerja melihat konten yang sangat sensitif, termasuk orang yang sedang menanggalkan pakaian, aktivitas di kamar mandi, hingga dokumen keuangan. Salah satu pekerja bahkan menggambarkan isi video yang mereka lihat sebagai “living rooms to naked bodies”.
Apa yang dituduhkan dalam gugatan
Pada 4 Maret, Gina Bartone dan Mateo Canu mengajukan class action lawsuit terhadap Meta Platforms dan Luxottica of America. Mereka menuduh perusahaan melanggar hukum federal dan negara bagian karena tidak secara memadai mengungkap bahwa video yang ditangkap kacamata dikirim ke server lalu diteruskan ke subkontraktor di Kenya untuk pelabelan manual.
Gugatan itu juga menyoroti bagaimana Meta menjual produk dengan pesan aman dan terkontrol oleh pengguna. Di dalam dokumen hukum, para penggugat menilai Meta memahami kekhawatiran publik terhadap privasi dan pengawasan, namun tetap merilis perangkat dengan klaim yang menenangkan.
Berikut inti tuduhannya:
- Video pengguna dikirim ke server Meta.
- Data kemudian diteruskan ke subkontraktor untuk anotasi manual.
- Informasi ini dinilai tidak dijelaskan secara cukup transparan kepada pengguna.
- Klaim privasi dalam promosi dianggap tidak sejalan dengan praktik di balik layar.
Data apa saja yang disebut ikut dilihat
Sumber laporan menyebut bahwa materi yang diproses bukan hanya rekaman wajah atau aktivitas sehari-hari. Subkontraktor Meta juga dilaporkan melihat nomor kartu kredit dan dokumen keuangan yang terekam melalui kacamata pintar.
Satu hal yang paling sensitif adalah soal orang-orang di sekitar pemakai perangkat. Dalam salah satu kasus yang didokumentasikan, kacamata yang diletakkan di meja samping tempat tidur disebut sempat merekam pasangan pengguna yang tidak pernah memberi persetujuan untuk direkam.
Kondisi ini memunculkan persoalan baru dalam etika teknologi. Jika seorang pengguna setuju membagikan data untuk pelatihan AI, itu tidak otomatis berarti setiap orang di dalam frame juga telah memberi izin.
Reaksi hukum dan persoalan regulasi
Pakar privasi dan AI dari Stubbs Alderton & Markiles, Brian Hall, menyebut temuan ini “mengerikan” dan memprediksi masalah serupa akan muncul sejak awal. Ia juga mengingatkan publik pada era Google Glass, ketika kekhawatiran soal perekaman di tempat umum pernah memicu penolakan luas.
Hall menilai persoalan terbesar justru ada pada orang yang terekam tanpa sadar. Ia mengatakan perlindungan hukum saat ini lebih banyak melindungi pemakai perangkat, bukan bystander yang masuk ke dalam rekaman.
Tabel ringkas berikut menunjukkan perbedaan fokus perlindungan yang disorot dalam kasus ini:
| Pihak | Risiko utama | Perlindungan yang disebut |
|---|---|---|
| Pemakai kacamata | Data pribadi dan interaksi AI | Cocok dengan kebijakan privasi yang ada |
| Orang di sekitar | Terekam tanpa persetujuan | Perlindungan hukum dinilai lemah |
| Subjek sensitif | Kamar mandi, tubuh, dokumen keuangan | Berisiko tinggi disalahgunakan |
Mengapa kasus ini penting untuk publik
Meta disebut sudah mengizinkan praktik peninjauan data melalui kontraktor dalam kebijakan privasinya. Namun, Hall menilai bahasa hukum di sana belum cukup tegas untuk menyanggah dugaan yang muncul, sekaligus menilai risikonya bukan hanya legal tetapi juga reputasi.
Ia juga menyoroti kemungkinan penambahan fitur pengenalan wajah pada kacamata tersebut. Jika terjadi, kemampuan identifikasi orang di ruang publik bisa menjadi jauh lebih cepat dan tanpa usaha, termasuk di ruang sensitif seperti ruang sidang.
Meta sendiri belum merespons permintaan komentar dalam laporan tersebut. Sementara itu, perdebatan soal batas antara AI, privasi, dan pengawasan tampaknya akan terus membesar seiring semakin banyak perangkat wearable yang mengandalkan kamera, audio, dan pelatihan data manusia di belakangnya.
