Selisih Biaya Perang AS-Iran Terungkap, Drone Murah Mengguncang Strategi Pentagon

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menunjukkan satu kenyataan penting dalam perang modern, yaitu biaya untuk menghadapi ancaman murah bisa jauh lebih besar daripada harga senjatanya sendiri. Pentagon dilaporkan harus mengeluarkan dana besar untuk menangkal drone Iran yang nilainya hanya puluhan ribu dolar per unit, sementara sistem pertahanan AS kerap memakai amunisi bernilai jutaan dolar.

Ketimpangan biaya ini membuat strategi militer AS ikut berubah. Di satu sisi, Washington tetap mengandalkan jet tempur dan pesawat pengebom untuk operasi besar, tetapi di sisi lain mulai mendorong penggunaan drone murah dan sistem anti-drone yang lebih hemat agar pengeluaran perang tidak terus membengkak.

Drone murah, respons mahal

Berdasarkan estimasi publik, Iran memakai drone Shahed dengan harga sekitar US$ 20.000 hingga US$ 50.000 per unit. Drone ini disebut mampu menembus pertahanan dan merusak pangkalan militer serta fasilitas terkait AS, sehingga memberi tekanan besar pada metode pertahanan tradisional.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menilai pola seperti itu tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Ia menegaskan, “Kita tidak mampu menembak jatuh drone murah dengan rudal seharga US$ 2 juta. Kita sendiri harus mampu mengerahkan drone serang yang mumpuni dalam jumlah besar.”

Pernyataan itu menggambarkan masalah inti yang dihadapi Pentagon. Saat lawan menggunakan aset murah dalam jumlah banyak, sistem pertahanan yang terlalu mahal dapat menjadi beban strategis, bukan hanya beban anggaran.

Biaya perang yang membengkak

Laporan yang dikutip CNBC International menyebut AS menghabiskan US$ 5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama perang untuk kebutuhan amunisi. Angka itu memperlihatkan betapa cepat biaya operasi militer melonjak ketika pertempuran menuntut penggunaan persenjataan canggih secara terus-menerus.

Kondisi tersebut juga memunculkan dorongan untuk mencari alternatif yang lebih murah. AS mulai melirik teknologi pertahanan dari perusahaan rintisan di Silicon Valley, terutama yang bisa memproduksi sistem drone dan anti-drone dalam skala besar dengan harga lebih rendah.

Daftar biaya yang mencerminkan jurang teknologi

  1. Drone Shahed Iran: sekitar US$ 20.000 hingga US$ 50.000 per unit.
  2. Rudal yang disebut Hegseth: sekitar US$ 2 juta per peluncuran.
  3. Biaya amunisi AS dalam dua hari pertama perang: US$ 5,6 miliar.
  4. Drone LUCAS buatan SpektreWorks: sekitar US$ 35.000 per unit.
  5. Operasional laser Locust X3: di bawah US$ 5 per tembakan.

Industri pertahanan murah mulai naik daun

AS kini telah mengerahkan Low-cost Uncrewed Combat Attack System atau LUCAS, drone buatan SpektreWorks dari Arizona yang dibanderol sekitar US$ 35.000 per unit. Meski menjadi langkah penting, CEO Govini Tara Murphy Dougherty menyebut produksi LUCAS masih dalam jumlah moderat, sehingga kemampuan udara AS tetap banyak bergantung pada platform konvensional.

Di bidang anti-drone, tekanan efisiensi juga mendorong inovasi baru. Aerovironment merilis sistem laser Locust X3 yang diklaim memiliki biaya operasional di bawah US$ 5 untuk setiap tembakan, sementara Anduril, Epirus, dan Axon juga memperluas produksi teknologi pertahanan serupa.

Silicon Valley ikut terdorong masuk ke sektor perang

Lonjakan kebutuhan ini mengubah peta investasi. Data Pitchbook menunjukkan nilai kesepakatan pendanaan venture capital di sektor pertahanan melonjak hampir dua kali lipat menjadi US$ 49,9 miliar dari US$ 27,3 miliar pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, porsi startup masih sangat kecil dalam struktur anggaran pertahanan AS. Data Ronald Reagan Presidential Foundation and Institute menunjukkan belanja untuk startup teknologi pertahanan masih di bawah 1% dari total nilai kontrak pertahanan AS pada 2025, dan 88% dari porsi kecil itu dikuasai oleh Anduril, Palantir, dan SpaceX.

Permintaan terhadap teknologi murah dan efisien dilaporkan meningkat sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari. Beberapa startup bahkan mengaku diminta Pentagon untuk segera memperbesar kapasitas produksi, sementara Chaos Industries menyebut tim manufakturnya bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan tersebut sebelum kontrak resmi turun.

Tekanan menuju perang dengan drone massal

Arah kebijakan ini sejalan dengan target anggaran militer Presiden AS Donald Trump yang diajukan sebesar US$ 1,5 triliun pada 2027. Hegseth juga menargetkan industri pertahanan AS mampu memproduksi dan mengoperasikan 300.000 drone berbiaya rendah secara cepat pada 2027, sebuah angka yang menunjukkan betapa seriusnya Washington mengubah pendekatan perang modern.

Perubahan itu menegaskan bahwa konflik AS-Iran bukan hanya soal serangan dan balasan di lapangan, tetapi juga soal efisiensi biaya, kapasitas industri, dan kecepatan inovasi. Dalam perlombaan antara drone murah dan sistem mahal, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh daya ledak, melainkan juga oleh berapa banyak teknologi yang bisa diproduksi dan dipakai tanpa menguras anggaran militer terlalu cepat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button