Spotify Ubah Listening Lounge Jadi Altar Suara, Sistem Hi-Fi Kustom Ini Mencuri Panggung

Spotify memanfaatkan status lossless yang baru untuk mengubah cara orang mendengar musik di ruang fisiknya. Di pusat Listening Lounge baru di kantor Spotify London, perusahaan itu menempatkan sistem hi-fi bespoke yang diperlakukan seperti instalasi seni, bukan sekadar perangkat audio.

Ruang ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman mendengar yang lebih intim bagi pelanggan Premium dan “top fans” yang diundang. Kapasitasnya hanya 30 kursi, sehingga suasananya memang dibuat eksklusif, tenang, dan fokus pada kualitas suara.

Ruang dengar yang dibuat untuk perhatian penuh

Spotify menyebut Listening Lounge sebagai tempat untuk “intimate listening experiences” sepanjang tahun, dengan agenda yang merujuk pada rilisan baru, album legendaris, hingga perayaan ulang tahun album. Konsep ini mengikuti tren ruang dengar bergaya bar vinyl Jepang dan budaya “intentional listening” yang makin populer di kalangan penikmat musik.

Berbeda dari ruang pamer teknologi yang serba terang, area ini justru menekankan suasana redup, furniture lembut, dan aturan tanpa sepatu luar. Pengunjung bahkan diberi sandal agar nuansa ruang terasa lebih rileks dan tidak mengganggu fokus pada musik.

Sistem yang dipilih, bukan yang biasa

Inti ruangan ini adalah sepasang horn speaker rakitan Friendly Pressure, studio berbasis London yang dikenal membuat sistem pengeras suara bespoke dan merestorasi sistem heritage. Di baliknya ada dua power amplifier Bryston 3B Cubed, preamplifier tabung Prima Luna Evo 400, Prima Luna DAC, serta Bluesound Node Icon yang menjadi sumber streaming Spotify Lossless.

Kombinasi itu menunjukkan arah yang jelas, yaitu membangun sistem two-channel stereo yang serius. Spotify tidak memakai pendekatan spatial audio di lounge ini, melainkan mengandalkan format stereo untuk menonjolkan karakter lossless 24-bit/44.1kHz yang telah tersedia bagi pengguna Premium.

Mengapa speaker itu menjadi pusat perhatian

Founder Friendly Pressure, Shivas Howard-Brown, menjelaskan bahwa sistem ini lahir dari keinginan untuk menunjukkan seperti apa perangkat yang benar-benar bisa menampilkan lossless dengan kualitas terbaik. Dalam percobaan awal bersama Spotify dan Cake Architecture, perbedaan antara file lossless dan non-lossless disebut langsung terdengar jelas di studio.

Howard-Brown juga menekankan pentingnya sinyal berkualitas untuk bagian depan sistem audio. Ia mengatakan, semakin baik sumber yang masuk ke sistem, semakin baik pula hasil akhirnya, baik dari sumber analog maupun digital.

Komponen utama sistem dan fungsinya

  1. Horn speaker Friendly Pressure: dibuat khusus untuk ruang dan menjadi fokus visual utama.
  2. Bryston 3B Cubed: memberi tenaga dan konsistensi untuk speaker sensitif berdaya 95dB.
  3. Prima Luna Evo 400: dipilih karena memberi karakter hangat pada suara.
  4. Prima Luna DAC: digunakan karena tim desain menyukai hasil suaranya.
  5. Bluesound Node Icon: menjadi perangkat streaming untuk Spotify Lossless.

Howard-Brown membangun speaker itu dengan bahan dan elemen yang ia anggap terbaik, mulai dari bass-driver Supravox, super tweeter flagship Fostex, compression driver TAD 4001, hingga horn SOES transparan yang memberi efek visual melayang. Kabinet speaker dibalut aluminium penuh dan kaki penyangganya diberi peredam pasir untuk menjaga stabilitas.

Arsitektur yang diperlakukan seperti altar

CEO Cake Architecture, Hugh Scott Moncrieff, menyebut proyek ini berangkat dari upaya membingkai dua objek monumental, yaitu speaker dan perangkat elektroniknya. Ia mengambil inspirasi dari kuil Shinto dan interior rumah tradisional Jepang untuk menempatkan sistem di atas podium, sehingga ruang itu terasa seperti “altar atau shrine to sound.”

Elemen visualnya dibuat sangat terkontrol. Niche yang dipotong di dinding gelap diberi latar kuning bercahaya, sementara logo Spotify dibuat bernuansa perak agar menyatu dengan perangkat hi-fi di atas dias.

Akustik diatur agar tidak mengganggu musik

Spotify mengatakan setiap material, permukaan, dan konfigurasi ruang dipilih untuk mengurangi distraksi dan mendukung suara. Penanganan akustik dilakukan oleh Ethan Bordeau, akustikus berbasis New York, dengan bantuan tekstil dari brand Denmark Kvadrat untuk membantu menyebarkan frekuensi dan mencegah pantulan menumpuk di sudut ruangan.

Dalam sesi demo, ruangan tidak terasa terlalu mati secara akustik, sesuatu yang penting terutama saat ruang semacam ini berada di bangunan berstatus Grade-II listed di pusat London. Saat beberapa lagu diputar, termasuk Blood Orange, Chaka Khan, dan System of a Down, soundstage terdengar luas, bass terasa dalam, dan dinamika musik tampil sangat tegas.

Pengalaman mendengar jadi nilai jual baru

Sistem horn seperti ini dikenal unggul dalam dinamika dan kecepatan respons, dan hal itu memang menjadi daya tarik utama Listening Lounge. Pada saat yang sama, karakter speaker horn juga bisa memberi sedikit kekerasan di tepi nada jika rekamannya tidak ideal, sehingga kualitas sumber tetap jadi faktor penentu.

Spotify tampak ingin menunjukkan bahwa layanan streaming massal tetap bisa masuk ke ranah audiophile bila didukung ekosistem yang tepat. Dengan ruang kecil, sistem bespoke, dan kurasi mendengar yang ketat, Listening Lounge ini menempatkan Spotify Lossless bukan hanya sebagai fitur teknis, tetapi sebagai pengalaman dengar yang dirancang untuk benar-benar diperhatikan.

Berita Terkait

Back to top button