Kripto Jadi Jalur Diplomasi Pakistan, Orang Dekat Trump Buka Akses ke Iran?

Pakistan tengah memanfaatkan kripto bukan hanya sebagai instrumen finansial, tetapi juga sebagai alat diplomasi untuk memperluas pengaruh geopolitik. Melalui sosok teknolog muda Bilal bin Saqib, Islamabad membangun jalur komunikasi langsung ke lingkaran dekat Presiden AS Donald Trump.

Saqib disebut menjadi penghubung penting lewat kedekatannya dengan World Liberty Financial, platform keuangan digital yang juga melibatkan keluarga Trump. Langkah ini memperlihatkan bagaimana aset digital kini masuk ke strategi hubungan internasional Pakistan, termasuk dalam negosiasi ekonomi dan politik dengan Washington.

Kripto sebagai jalur diplomasi baru

Pendekatan Pakistan ini kerap disebut sebagai “biplomacy”, yakni perpaduan antara blockchain dan diplomasi. Istilah tersebut muncul dalam laporan Bloomberg yang dikutip Business Recorder, yang menyebut penggunaan diplomasi kripto telah memperkuat hubungan yang berkembang antara Trump dan Munir, kepala angkatan darat Pakistan.

Strategi itu dinilai tidak biasa, tetapi relevan dengan gaya politik Trump yang cenderung menempatkan koneksi personal dalam proses pengambilan keputusan. Dalam konteks itu, Pakistan melihat peluang untuk memperoleh akses yang lebih luas ke pusat kekuasaan di Washington.

Peran Bilal bin Saqib makin meluas

Peran Saqib tidak berhenti pada hubungan dengan lingkaran Trump. Ia juga terlibat dalam mempertemukan Pakistan dengan pemain global lain, termasuk Changpeng Zhao, pendiri Binance yang dikenal luas di industri aset digital.

Selain itu, Saqib ikut membantu menyusun kerangka kerja sama dagang antara Pakistan dan Amerika Serikat. Hasil awal dari pendekatan ini mulai terlihat dalam bentuk sejumlah konsesi dagang, minat investor yang meningkat, serta peluang kerja sama di sektor energi dan teknologi.

  1. Membuka jalur komunikasi dengan lingkaran Trump.
  2. Menghubungkan Pakistan dengan tokoh besar kripto global.
  3. Membantu membangun kerangka kerja sama dagang dengan AS.
  4. Mendorong minat investor di sektor energi dan teknologi.

Kerja sama digital yang jadi sorotan

Pakistan juga telah menandatangani kerja sama dengan afiliasi World Liberty Financial untuk mengembangkan sistem pembayaran digital lintas negara. Kesepakatan ini mempertegas arah baru Islamabad dalam menggabungkan inovasi teknologi dengan kepentingan geopolitik.

Di sisi lain, langkah itu menandai bahwa Pakistan tidak sekadar memanfaatkan kripto sebagai aset spekulatif. Pemerintah tampak ingin menjadikannya bagian dari infrastruktur ekonomi yang lebih luas, terutama untuk memperkuat daya tawar di level internasional.

Risiko tetap membayangi

Meski terlihat menjanjikan, strategi ini tetap menyimpan risiko besar. Pakistan masih memiliki kewajiban utang kepada IMF, dan lembaga itu dikenal berhati-hati terhadap adopsi kripto oleh negara maupun institusi publik.

Karena itu, setiap langkah Islamabad dalam memperdalam keterlibatan berbasis aset digital berpotensi memunculkan pertanyaan soal pengawasan, kepatuhan, dan stabilitas kebijakan ekonomi. Di saat yang sama, negara itu tetap harus menjaga keseimbangan antara ambisi geopolitik dan tuntutan disiplin fiskal.

Saqib sendiri tetap optimistis bahwa arah yang dipilih Pakistan berada di jalur yang tepat. “Ini soal kebetulan yang tepat dan waktu yang pas. Semua bintang selaras,” ujarnya, menggambarkan keyakinan bahwa kripto bisa menjadi jembatan baru dalam hubungan Pakistan dengan Amerika Serikat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button