Crypto mulai bergerak dari sekadar aset spekulatif menuju ابزار pembayaran dan infrastruktur finansial yang dipakai sehari-hari. Namun, adopsi massal masih sangat bergantung pada satu hal: pengalaman pengguna harus semudah aset biasa yang sudah akrab di sistem keuangan tradisional.
Jess Houlgrave, CEO WalletConnect, menegaskan bahwa crypto baru akan dipakai luas jika prosesnya tidak lagi terasa rumit, penuh istilah teknis, dan rawan kesalahan. Dalam wawancara dengan CCN, ia menyebut target utama industri seharusnya membuat crypto “as easy as regular assets” agar pengguna tidak perlu memahami detail teknis di balik transaksi.
WalletConnect Berubah Jadi Lapisan Konektivitas Web3
WalletConnect awalnya hanya dikenal sebagai protokol sederhana untuk menghubungkan aplikasi dan dompet crypto. Kini, perusahaan itu berkembang menjadi lapisan konektivitas utama di Web3 yang menjembatani komunikasi antara aplikasi dan wallet secara aman.
Saat ini, WalletConnect terhubung dengan lebih dari 700 wallet dan lebih dari 80.000 aplikasi. Jangkauan itu membuatnya menjadi infrastruktur penting bagi ekosistem yang tersebar di banyak blockchain, terutama ketika pengguna ingin menandatangani transaksi, mengakses DeFi, atau berinteraksi dengan marketplace NFT tanpa repot berpindah-pindah sistem.
Houlgrave menjelaskan bahwa peran WalletConnect bukan sekadar memfasilitasi koneksi. Perusahaan itu juga berfungsi sebagai “communications layer” yang mengirim pesan antara aplikasi dan wallet, sehingga proses seperti konfirmasi pembayaran atau tanda tangan transaksi bisa berjalan lebih mulus.
Masalah Utama Adopsi: Kompleksitas dan Friksi
Banyak pengguna baru masih menghadapi hambatan yang membuat mereka berhenti sebelum selesai bertransaksi. Mereka harus mengetik alamat panjang, memilih jaringan yang tepat, memahami gas fee, hingga menghindari kesalahan yang bisa berujung pada hilangnya dana.
Menurut Houlgrave, friksi seperti itu menjadi penghambat utama adopsi. Jika seseorang harus menyusun setiap transaksi secara manual, banyak orang tidak akan melanjutkannya.
Berikut hambatan yang paling sering ditemui dalam penggunaan crypto harian:
- Proses koneksi wallet yang tidak intuitif.
- Perbedaan banyak chain dan token yang membingungkan.
- Risiko salah kirim karena alamat yang panjang.
- Istilah teknis yang sulit dipahami pengguna awam.
- Kekhawatiran soal keamanan dan penipuan.
Stablecoin Jadi Jembatan ke Penggunaan Sehari-hari
WalletConnect kini juga memperluas fokus ke pembayaran. Salah satu produk yang ditekankan adalah WalletConnect Pay, yang ditujukan agar pembayaran stablecoin lebih mudah digunakan oleh konsumen dan bisnis.
Houlgrave menilai stablecoin dan aset kripto secara lebih luas akan menjadi bagian penting dari infrastruktur keuangan global. Pandangan itu sejalan dengan tren industri yang melihat aset digital, terutama stablecoin, sebagai alat pembayaran lintas batas yang lebih efisien dibanding banyak jalur tradisional.
Ia juga menggambarkan masa depan di mana pengguna dapat melihat saldo dalam format sederhana, bahkan jika dana tersebut tersebar di beberapa chain di belakang layar. Bagi pengguna akhir, yang penting adalah hasil akhirnya: bisa menyimpan, membeli, menjual, dan membelanjakan aset tanpa harus memikirkan lapisan teknis.
Arah Baru Wallet: Dari Satu Ukuran untuk Semua ke Banyak Kebutuhan
Houlgrave menilai tidak ada satu model wallet yang cocok untuk semua situasi. Untuk membeli kopi, pengguna mungkin hanya butuh wallet di ponsel dengan satu sentuhan atau tap to pay.
Namun, untuk tabungan atau aset bernilai besar, pengguna mungkin membutuhkan tingkat keamanan yang lebih tinggi. Itu bisa berupa multi-device signing, batas pengeluaran, atau persetujuan tambahan dari anggota keluarga atau pihak tepercaya.
Di sisi lain, bisnis juga memerlukan wallet dengan aturan kepatuhan yang berbeda. Karena itu, WalletConnect melihat masa depan wallet sebagai spektrum produk yang disesuaikan dengan kebutuhan, bukan satu solusi tunggal untuk semua orang.
Regulasi, Kepatuhan, dan Self-Custody
Masuknya institusi ke pasar crypto menambah kebutuhan akan kepatuhan dan keamanan. WalletConnect tidak berstatus sebagai entitas yang langsung diatur regulator, tetapi teknologinya membantu mitra memenuhi kebutuhan seperti pengumpulan data travel rule dan verifikasi kepemilikan wallet melalui penandatanganan pesan.
Houlgrave menegaskan bahwa self-custody tetap harus menjadi pilihan yang sah di dalam sistem yang teregulasi. Ia memperingatkan bahwa hasil yang buruk akan terjadi jika kendali aset sepenuhnya terdorong keluar dari pengguna.
Baginya, masa depan terbaik adalah ketika wallet custodial milik bank, wallet self-custodial, dan model hibrida bisa hidup berdampingan. Dengan cara itu, pengguna bisa memilih tingkat kendali dan keamanan sesuai kebutuhan tanpa kehilangan akses ke layanan keuangan modern.
Interoperabilitas yang Terasa Sederhana di Permukaan
Interoperabilitas masih menjadi pekerjaan besar bagi industri crypto. Tetapi Houlgrave menilai lalu lintas antarchain tidak harus selalu terlihat rumit oleh pengguna.
Selama pengguna bisa melihat satu saldo dan bertransaksi tanpa memikirkan chain yang digunakan, maka interoperabilitas sudah bekerja dari sisi pengalaman. Di balik layar, teknologi mungkin masih membutuhkan bridge dan mekanisme kompleks lain, tetapi hasil akhirnya harus terasa sederhana.
WalletConnect melihat arah itu sebagai fondasi adopsi massal. Jika crypto ingin benar-benar masuk ke kehidupan sehari-hari, maka pengguna tidak boleh dipaksa memahami semua kerumitan jaringan, stablecoin, dan mekanisme keamanan sebelum bisa melakukan transaksi sederhana.









