Sebuah startup kecerdasan buatan bernama Tesana sedang mencoba mengubah cara game dibuat dengan pendekatan yang sangat sederhana bagi pengguna. Perusahaan ini ingin membuat siapa pun dapat merancang videogame hanya dengan menulis prompt, lalu sistem AI mereka menerjemahkannya menjadi kode game yang terstruktur.
Gagasan itu terdengar ambisius, tetapi Tesana sudah menunjukkan tanda awal pasar. Menurut co-founder Johannes Vermandois, layanan ini menarik sekitar 10.000 pelanggan berbayar hanya dalam beberapa minggu pertama, sebuah sinyal bahwa minat terhadap pembuatan game berbasis AI mulai tumbuh.
AI yang Mengubah Prompt Menjadi Game
Tesana bekerja dengan menggabungkan model AI pihak ketiga seperti Claude dan generator aset visual. Sistem miliknya kemudian menyusun deskripsi tentang lingkungan, mekanik, karakter, dan aturan menjadi bentuk kode game yang bisa dijalankan.
Pendekatan ini menempatkan AI sebagai lapisan perantara antara ide mentah dan prototipe permainan. Bagi sebagian kreator, ini bisa memangkas waktu eksperimen yang biasanya memakan banyak langkah teknis.
Target Besar: Membuka Jalan bagi 100 Juta Kreator Baru
Vermandois melihat alat semacam ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan pintu masuk bagi gelombang baru pembuat game. Ia menyebut harapannya agar “100 million new people” bisa membuat videogame, sebuah target yang menggambarkan skala ambisi Tesana.
Ia menilai AI dapat membantu mempercepat iterasi ide, sehingga lebih banyak orang berani mencoba membuat game tanpa harus memiliki latar belakang teknis yang kuat. Dalam pandangannya, peningkatan jumlah pembuat game akan melahirkan jenis permainan baru yang sebelumnya sulit muncul.
Apa yang Sudah Ditunjukkan Tesana
Di situs resminya, Tesana menampilkan contoh game hasil generasi pengguna awal. Hasilnya belum terlihat rapi, bahkan cenderung kacau dan menyerupai versi ringkas dari game populer lain, tetapi tetap menunjukkan bahwa ide itu bisa diwujudkan ke dalam perangkat lunak yang dapat dimainkan.
Contoh ini penting karena memperlihatkan batas awal teknologi generatif dalam game. AI dapat membuat bentuk dasar dengan cepat, tetapi kualitas desain, keseimbangan gameplay, dan identitas kreatif masih menjadi tantangan besar.
Tantangan Antara Aksesibilitas dan Kontrol Kreatif
- AI memudahkan siapa pun membuat draft game dalam waktu singkat.
- Pengguna berpotensi kehilangan kendali atas detail desain yang presisi.
- Game yang mirip satu sama lain bisa membanjiri pasar.
- Kreativitas manusia tetap dibutuhkan untuk membangun ciri khas.
Isu terakhir menjadi perhatian penting dalam industri. Jika banyak orang memakai alat yang sama untuk menghasilkan game yang serupa, nilai orisinalitas bisa tertekan dan pasar bisa dipadati konten yang sulit dibedakan satu sama lain.
Percaya Diri pada Masa Depan Game Independen
Meski begitu, Vermandois tetap optimistis. Ia menyebut game indie sebagai masa depan industri game dan menilai platform seperti Tesana bisa membantu lebih banyak orang masuk ke dunia tersebut.
Ia juga berpendapat bahwa jumlah game yang lebih banyak justru akan mendorong standar kualitas ikut naik. Logikanya, ketika lebih banyak ide lahir dan lebih banyak kreator bereksperimen, pasar akan memisahkan mana produk yang sekadar cepat dibuat dan mana yang punya visi kreatif kuat.
Persaingan dengan Platform Besar
Tesana tidak bergerak di ruang kosong. Perusahaan ini akan berhadapan dengan platform besar seperti Roblox, yang juga mulai memasukkan fitur AI generatif ke dalam ekosistemnya.
Vermandois mengakui tantangan itu, terutama jika biaya komputasi AI berubah dan model tidak lagi disubsidi seperti sekarang. Namun, ia tetap berharap biaya model justru turun, sehingga layanan seperti Tesana bisa bertahan dan bersaing.
Dalam tahap awal ini, Tesana masih berada di fase eksperimen. Produk yang dihasilkan pengguna pertama belum menjadi game yang menonjol, tetapi arah yang diambil startup ini menunjukkan bagaimana AI mulai diposisikan bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan sebagai mesin pembuka akses kreatif bagi jutaan orang.
