
Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan merilis laporan ketenagakerjaan bulan Maret pada pukul 8.30 pagi ET, tepat pada Jumat Agung. Momen ini menempatkan salah satu data ekonomi paling penting di tengah hari libur pasar saham AS, sehingga aset kripto bisa menjadi pasar besar pertama yang bereaksi.
Kondisi tersebut jarang terjadi karena bursa saham utama di AS tutup saat rilis berlangsung. Di saat yang sama, perdagangan spot kripto tetap berjalan, membuat Bitcoin dan aset digital likuid lain berpotensi menangkap respons awal atas data pekerjaan tersebut.
Data tenaga kerja yang biasanya menggerakkan pasar
Laporan pekerjaan bulanan dari BLS sering menjadi rujukan utama bagi investor, pelaku pasar, dan pembuat kebijakan. Data ini memengaruhi ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan Federal Reserve.
Dalam kondisi normal, reaksi pasar biasanya langsung terlihat di saham, obligasi, dolar AS, dan aset berisiko. Namun pada Jumat Agung, respons dari pasar saham tunai harus menunggu karena Wall Street tidak beroperasi.
Mengapa kripto bisa jadi yang pertama bereaksi
Karena pasar saham AS libur, trader akan mencari indikator paling cepat dari sentimen risiko. Dalam situasi seperti ini, pergerakan Bitcoin dan aset digital yang paling likuid berpotensi menjadi sinyal awal sebelum pasar tradisional dibuka kembali.
Kripto memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak pasar lain, yaitu perdagangan tanpa henti. Jika angka payrolls mengejutkan ekspektasi, baik lebih kuat maupun lebih lemah dari perkiraan, harga aset digital bisa lebih dulu mencerminkan perubahan cara pandang pelaku pasar terhadap suku bunga dan pertumbuhan.
Peran CME dan jadwal libur pasar
CME menyatakan bahwa penyelesaian pasar Bitcoin dan kripto tetap berlangsung pada 3 April di bawah jadwal libur mereka. Bursa itu juga mengatakan akan menjalankan siklus kliring intraday dan end-of-day, serta semua perdagangan dengan tanggal transaksi 3 April akan ditransmisikan melalui CME Globex dan ClearPort.
Di sisi lain, kalender libur NYSE menunjukkan Jumat Agung sebagai hari libur pasar, dan jadwal libur opsi Cboe juga mencantumkan “None” untuk jam perdagangan reguler maupun global pada hari itu. Perbedaan jadwal ini membuat pasar kripto tampak lebih menonjol dibanding instrumen lain yang terdampak penutupan bursa.
Hal yang bisa dicermati trader
- Besaran selisih data payrolls dibanding ekspektasi pasar.
- Respons Bitcoin sebagai aset digital paling likuid.
- Pergerakan aset kripto utama lain yang biasanya mengikuti arah sentimen risiko.
- Likuiditas pasar yang bisa lebih tipis karena hari libur, sehingga volatilitas berpotensi lebih tajam.
Meski perdagangan tetap berjalan, suasana libur dapat membuat pergerakan harga lebih berisik daripada sesi pasar penuh. Itu berarti reaksi awal di kripto belum tentu rapi, tetapi tetap penting sebagai petunjuk awal tentang bagaimana pasar menilai data tenaga kerja.
Uji nyata untuk klaim pasar kripto yang selalu aktif
Situasi ini juga memberi panggung bagi klaim lama industri kripto bahwa pasar yang tidak pernah tutup lebih berguna saat venue tradisional berhenti beroperasi. Pada 3 April, klaim itu akan diuji secara langsung ketika data makro besar dirilis saat Wall Street tidak bisa merespons secara real time.
Momentum ini menjadi lebih menarik karena CME juga berencana memperluas futures dan opsi kripto ke perdagangan 24/7 mulai 29 Mei, masih menunggu tinjauan regulasi. Arah ini menunjukkan bahwa bursa teregulasi besar mulai bergerak mendekati model perdagangan non-stop yang sejak awal menjadi ciri pasar spot kripto.









