Perubahan besar sedang terjadi di pasar server AI. Laporan Counterpoint Research menyebutkan bahwa chip berbasis Arm akan menguasai sekitar 90% server AI yang memakai prosesor kustom pada 2029, sementara x86 dan RISC-V hanya tersisa di area yang lebih kecil.
Pergeseran ini menandai perubahan arah pada infrastruktur komputasi awan dan AI. Jika selama ini Intel dan AMD lewat x86 menjadi tulang punggung server umum, kini hyperscaler besar mulai beralih ke CPU kustom berbasis Arm karena lebih efisien, lebih hemat daya, dan lebih cocok untuk beban kerja AI yang terus berkembang.
Arm Makin Dominan di Server AI Kustom
Counterpoint menilai tren ini didorong oleh strategi para penyedia cloud skala besar atau hyperscaler. Hampir semua pemain utama kini mengembangkan silicon kustom sendiri, bukan hanya untuk akselerator AI, tetapi juga untuk CPU umum yang menjadi pasangan kerja chip AI mereka.
Arm mendapat keuntungan besar karena arsitekturnya dianggap fleksibel untuk desain khusus. Dalam laporan itu, Neil Shah, vice president of research di Counterpoint Research, menyebut transisi dari x86 ke Arm di server AI “bukan perubahan yang terjadi sekaligus,” melainkan berlangsung “generasi demi generasi, konfigurasi demi konfigurasi.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa migrasi ini tidak terjadi secara drastis. Namun, arah perubahannya semakin jelas karena perusahaan cloud besar mengejar efisiensi biaya, konsumsi daya yang lebih rendah, dan integrasi yang lebih rapat antara CPU, GPU, dan ASIC.
Mengapa x86 Mulai Tersisih
x86 masih dominan di server konvensional, terutama melalui prosesor Xeon dari Intel dan EPYC dari AMD. Akan tetapi, kebutuhan server AI berbeda dari server generasi lama karena beban kerjanya lebih intensif pada pemrosesan data dan orkestrasi sistem, bukan sekadar kompatibilitas warisan perangkat lunak.
Berikut faktor yang mendorong pergeseran ke Arm:
- Efisiensi daya yang lebih baik untuk operasi skala besar.
- Biaya operasional yang lebih terkendali di pusat data hyperscale.
- Arsitektur kustom yang lebih mudah disesuaikan untuk beban kerja AI.
- Tidak terlalu bergantung pada kompatibilitas lama seperti pada server tradisional.
Intel dan AMD masih punya posisi penting, tetapi dominasi mereka di server AI kustom mulai tertekan. Situasi ini membuat pasar CPU server tidak lagi hanya soal performa mentah, melainkan juga soal integrasi sistem dan total biaya kepemilikan.
Strategi AWS, Google, Microsoft, dan Meta
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa adopsi Arm terjadi serentak di beberapa hyperscaler besar. AWS memperluas penggunaan Graviton di sistem berbasis Trainium, meski tetap menyimpan x86 di sebagian konfigurasi demi kompatibilitas.
Google juga membangun infrastruktur TPU generasi berikutnya dengan CPU Arm Axion. Di sisi lain, Microsoft sejak awal memasangkan CPU Arm Azure Cobalt dengan akselerator Maia untuk membangun infrastruktur AI yang lebih terintegrasi.
Meta turut masuk ke jalur yang sama dan disebut sebagai pelanggan utama untuk prosesor AGI milik Arm. Langkah dari empat pemain besar ini memperkuat sinyal bahwa pasar server AI sedang bergerak ke arsitektur yang lebih tertutup, lebih khusus, dan lebih terkontrol oleh masing-masing penyedia cloud.
Arah Pasar dalam Beberapa Tahun ke Depan
Counterpoint memproyeksikan CPU berbasis Arm akan mencapai setidaknya 90% dari host CPU di server AI ASIC kustom pada 2029, naik dari sekitar 25% pada 2025. Proyeksi ini menggambarkan lonjakan yang sangat tajam dalam waktu relatif singkat.
Tabel berikut merangkum posisi tiga arsitektur utama di server AI kustom menurut arah tren laporan tersebut:
| Arsitektur | Posisi saat ini | Perkiraan arah pasar |
|---|---|---|
| Arm | Bertumbuh cepat | Mendekati dominasi 90% |
| x86 | Masih dominan di banyak server | Menurun, tapi tetap relevan |
| RISC-V | Masih sangat kecil | Tetap di pinggiran pasar |
Shah mengatakan percepatan adopsi diperkirakan makin kuat pada paruh kedua 2026, didorong oleh penyebaran luas CPU Arm internal bersama platform ASIC generasi baru di hyperscaler utama. Artinya, pasar kemungkinan memasuki fase akselerasi ketika desain chip, software, dan kebutuhan operasional cloud makin selaras.
Dampaknya untuk Intel, AMD, dan Ekosistem Server
Meski Arm diprediksi melonjak, x86 tidak akan hilang begitu saja dari pusat data. Banyak server AI tetap akan memakai EPYC dan Xeon standar, terutama di lingkungan yang masih membutuhkan kompatibilitas luar dan fleksibilitas sistem lama.
AMD sendiri sudah membangun platform AI vertikal yang menggabungkan EPYC, Instinct MI-series, Pensando DPU, dan NIC Pensando. Intel juga mengembangkan Xeon kustom untuk platform AI generasi berikutnya milik Nvidia, yang menunjukkan bahwa perusahaan ini masih mengejar relevansi di pasar AI, meski dengan pendekatan yang lebih spesifik.
Dengan arah pasar yang semakin condong ke Arm, persaingan server AI kini bergeser dari sekadar adu performa prosesor ke adu efisiensi, integrasi, dan kemampuan membangun ekosistem penuh. RISC-V juga ikut disebut, tetapi dalam proyeksi saat ini perannya masih sangat kecil dibanding Arm dan x86, sehingga peta kekuatan server AI ke depan tampak akan ditentukan terutama oleh siapa yang paling cepat menyesuaikan desain chip dengan kebutuhan hyperscaler.









