Usai Jual Bitcoin Rp17 Triliun, MARA Pangkas 15% Karyawan Demi Arah Baru AI

Popular miner MARA Holdings memangkas sekitar 15% tenaga kerjanya di berbagai divisi hanya beberapa hari setelah menjual 15.133 BTC senilai sekitar $1.1 billion. Langkah ini menunjukkan tekanan besar yang sedang menghantam industri penambangan Bitcoin, sekaligus mempercepat pergeseran perusahaan ke bisnis energi digital dan infrastruktur AI.

Pemutusan hubungan kerja itu dilakukan bertahap, dan para karyawan terdampak disebut akan menerima cuti berbayar satu bulan hingga 30 April, pesangon 13 minggu, serta akumulasi PTO. Seorang juru bicara MARA mengonfirmasi kebijakan tersebut dan menyebut perusahaan sedang menjalankan “evolusi strategis” dari penambang Bitcoin murni menjadi perusahaan energi dan infrastruktur digital.

Tekanan di bisnis penambangan Bitcoin makin berat

Industri penambangan Bitcoin kini menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus. Margin menyempit setelah halving, biaya energi naik, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan persaingan antarpenambang juga semakin ketat.

Dalam situasi itu, sejumlah pemain besar mulai mencari model bisnis yang lebih stabil. Core Scientific, Riot Platforms, dan Cipher Mining termasuk perusahaan yang sudah mengarah ke penyewaan kapasitas pusat data untuk operator AI, karena skema itu dinilai memberi pendapatan yang lebih tinggi margin dan lebih mudah diprediksi dibanding menambang Bitcoin.

MARA tampaknya ingin menempuh jalur serupa. Perusahaan itu menegaskan bahwa penyesuaian organisasi diperlukan agar sumber daya bisa diarahkan ke strategi yang lebih luas, termasuk energy and digital infrastructure.

Penjualan Bitcoin untuk memperkuat neraca keuangan

Keputusan PHK datang tidak lama setelah MARA melepas sebagian besar cadangan Bitcoinnya. Antara 4 Maret dan 25 Maret, perusahaan menjual 15.133 BTC dan memperoleh sekitar $1.1 billion dari transaksi tersebut.

Sebagian besar hasil penjualan itu dipakai untuk membeli kembali sekitar $1 billion obligasi senior konvertibel berbunga 0% yang jatuh tempo pada 2030 dan 2031. Fred Thiel, chairman sekaligus CEO MARA, mengatakan transaksi itu memberi “flexibility” keuangan yang lebih besar dan menambah “strategic optionality” saat perusahaan memperluas fokus ke digital energy dan infrastruktur AI/HPC.

Namun langkah itu juga mengubah posisi MARA sebagai penyimpan Bitcoin. Penjualan tersebut memang memperkuat neraca di atas kertas, tetapi memangkas treasury Bitcoin perusahaan sekitar 28% dari posisi sebelumnya.

Posisi cadangan dan kinerja keuangan MARA

Per 3 April, MARA tercatat masih memegang 38.689 BTC. Angka itu tetap besar, tetapi jauh lebih kecil dibanding sikap perusahaan yang selama ini dikenal agresif mengakumulasi aset digital tersebut.

Tekanan finansial MARA juga terlihat dari hasil keuangannya. Perusahaan melaporkan rugi sekitar $1.7 billion pada kuartal keempat, terutama karena penurunan nilai wajar non-kas pada aset digital.

Pendapatan kuartalan juga turun ke $202 million, atau sekitar 6% lebih rendah dibanding periode yang sama sebelumnya, meski hashrate meningkat. Kondisi ini menegaskan bahwa kenaikan kapasitas tambang tidak otomatis menghasilkan profit yang lebih baik di tengah biaya yang tinggi dan harga yang bergejolak.

Fakta penting yang mencerminkan arah baru MARA

  1. MARA memangkas sekitar 15% tenaga kerja di beberapa departemen.
  2. Perusahaan menjual 15.133 BTC senilai sekitar $1.1 billion.
  3. Dana penjualan dipakai untuk membeli kembali sekitar $1 billion surat utang.
  4. MARA masih menyimpan 38.689 BTC per 3 April.
  5. Perusahaan melaporkan rugi sekitar $1.7 billion pada kuartal keempat.

Sinyal bahwa industri bergerak ke arah baru

Perubahan yang dilakukan MARA memperlihatkan bahwa penambang Bitcoin besar tidak lagi hanya bergantung pada produksi kripto. Banyak perusahaan kini mengevaluasi ulang aset, utang, tenaga kerja, dan penggunaan lahan atau listrik agar bisa masuk ke bisnis yang lebih tahan terhadap siklus harga Bitcoin.

Bagi pasar, kombinasi penjualan BTC, pelunasan utang, dan efisiensi organisasi memberi sinyal bahwa MARA sedang menyiapkan struktur yang lebih ramping untuk ekspansi berikutnya. Pada saat yang sama, langkah itu menunjukkan bahwa transisi dari penambang murni ke perusahaan infrastruktur digital tidak hanya soal strategi bisnis, tetapi juga penyesuaian besar pada tenaga kerja dan portofolio aset.

Berita Terkait

Back to top button