Riot Platforms melepas 3.778 Bitcoin pada kuartal pertama dan meraup $289.5 million dari penjualan itu. Volume tersebut jauh melampaui produksi Bitcoin perseroan yang hanya 1.473 BTC pada periode yang sama, sehingga pasar melihat adanya perubahan strategi yang cukup tajam.
Pada akhir kuartal, Riot masih menyimpan 15.680 BTC di neracanya, turun 18% dari 18.005 BTC pada penutupan tahun sebelumnya. Selisih antara produksi dan penjualan ini memunculkan pertanyaan tentang arah baru perusahaan, terutama karena penjualan tidak berhenti setelah kuartal berakhir.
Perubahan strategi dari akumulasi ke likuidasi
Riot kini bergerak lebih agresif ke bisnis high-performance computing colocation. Peralihan ini membuat perusahaan tidak lagi bergantung hanya pada penambangan Bitcoin, tetapi juga pada infrastruktur hosting yang membutuhkan modal besar.
Pola tersebut menunjukkan bahwa dana hasil penjualan Bitcoin kemungkinan dipakai untuk mendukung ekspansi infrastruktur. Dalam konteks itu, penjualan aset kripto bukan semata untuk menutup biaya operasi, melainkan bagian dari alokasi modal yang lebih luas.
Biaya energi masih menekan margin
Kadan Stadelmann, blockchain developer dan co-founder AI company Compance, menilai kenaikan biaya energi ikut mendorong miner menjual cadangan Bitcoin. Ia menyebut tekanan biaya ini memburuk setelah konflik di Timur Tengah meningkat sejak Februari dan menekan margin industri.
Stadelmann mengatakan kondisi itu dapat menurunkan hashrate dan tingkat kesulitan penambangan. Ia juga menambahkan bahwa situasi seperti ini justru bisa membuat mining lebih menguntungkan bagi operator yang tetap bertahan online.
Data operasional Riot tetap kuat
Di sisi lain, data operasi Riot tidak menunjukkan gambaran perusahaan yang sedang melemah. All-in power cost turun 21% secara tahunan menjadi 3.0¢/kWh, sementara deployed hash rate naik 26% menjadi 42.5 EH/s.
Riot juga mencatat power credits senilai $21.0 million pada kuartal tersebut, lebih dari dua kali lipat dibanding periode tahun sebelumnya. Kombinasi efisiensi energi dan kenaikan kapasitas ini membuat penjualan Bitcoin Riot terlihat lebih seperti keputusan strategis daripada tanda tekanan likuiditas semata.
- Riot menjual 3.778 BTC dan memperoleh $289.5 million.
- Produksi kuartalan hanya 1.473 BTC, jauh di bawah volume penjualan.
- Kepemilikan Bitcoin turun menjadi 15.680 BTC dari 18.005 BTC.
- All-in power cost turun menjadi 3.0¢/kWh.
- Deployed hash rate naik menjadi 42.5 EH/s.
- Power credits mencapai $21.0 million.
Industri penambangan ikut bergerak serempak
Riot bukan satu-satunya perusahaan yang menjual Bitcoin dalam jumlah besar. MARA Holdings, Genius Group, dan Nakamoto Holdings disebut menjual total 15.501 BTC hanya dalam sepekan terakhir.
Genius Group bahkan dilaporkan melikuidasi seluruh simpanan Bitcoin miliknya. Pola ini menunjukkan adanya pergeseran dari strategi menyimpan aset ke pendekatan treasury yang lebih aktif di tengah pasar yang masih bergejolak.
Sinyal dari on-chain dan pasar
Arkham juga mencatat arus keluar 500 BTC dari wallet yang dikaitkan dengan Riot pada Kamis, yang mengisyaratkan penjualan belum benar-benar berhenti. Di saat yang sama, kesulitan mining Bitcoin turun dari sekitar 145 triliun menjadi 133 triliun pada 20 Maret, sementara network hash rate turun dari 1.160 exahash ke sekitar 990 exahash.
Penurunan itu biasanya menandakan miner yang lebih lemah mulai keluar dari jaringan, dan keadaan tersebut dapat menguntungkan perusahaan besar seperti Riot. Namun, tekanan sisi pasokan tetap perlu diperhatikan karena inflows ETF Bitcoin mencapai $1.32 billion pada Maret setelah empat bulan arus keluar.
Pergerakan Riot memperlihatkan bahwa industri mining kini lebih fokus pada efisiensi modal, ekspansi infrastruktur, dan manajemen treasury yang aktif. Selama harga Bitcoin belum pulih kuat, penjualan cadangan oleh miner kemungkinan masih akan menjadi bagian dari strategi bertahan sekaligus bertumbuh.
