Robot humanoid buatan China kini bergerak dari tahap demo teknologi ke pasar nyata dengan kecepatan yang sulit diabaikan. Salah satu pemain terbesar, Agibot asal Shanghai, mengumumkan telah mengirimkan 5.000 robot humanoid hanya dalam tiga bulan terakhir.
Pencapaian itu menjadi sorotan karena angka yang sama sebelumnya memerlukan waktu jauh lebih lama untuk dicapai. Agibot sempat butuh dua tahun untuk mengirimkan 1.000 unit pertama, lalu satu tahun tambahan untuk mencapai total 5.000 unit, sebelum akhirnya melesat dalam periode singkat.
Lompatan produksi yang mengubah peta pasar
Chief Technology Officer Agibot, Peng Zhihui, menyebut kenaikan pesat itu lahir dari perubahan kemampuan produksi perusahaan. Ia menekankan bahwa rantai pasokan yang makin matang dan proses manufaktur yang lebih terstandarisasi mendorong peralihan dari skala kecil ke permintaan komersial yang lebih besar.
“Penyebaran luas robot Agibot bukan lagi soal membuktikan kelayakan teknis, tetapi memberikan nilai yang dapat diskalakan dan mendorong adopsi embodied AI,” ujar Peng, dikutip dari Forbes melalui CNBC Indonesia.
Pernyataan itu menandai fase baru industri robot humanoid, ketika fokus tidak lagi sekadar pada pamer kemampuan berjalan, mengangkat barang, atau meniru gerakan manusia. Pasar kini mulai menuntut robot yang bisa diproduksi massal, dioperasikan stabil, dan memberi manfaat nyata di lapangan.
China dominan di pabrik robot humanoid
Data riset independen pada Januari menunjukkan Agibot sudah memimpin pasar robot humanoid global. Saat itu, perusahaan diperkirakan telah mengirim hampir 5.200 unit, melampaui Unitree yang berada di sekitar 4.200 unit.
Di sisi lain, beberapa produsen asal Amerika Serikat masih tertinggal jauh, dengan Figure, Agility Robotics, dan Tesla masing-masing baru mengirim sekitar 150 unit. Kondisi ini menunjukkan jurang yang lebar antara ekosistem manufaktur China dan para pesaingnya di Barat.
Dominasi China juga terlihat dari basis produksinya. Hampir 90% robot humanoid dunia dibuat di negara tersebut, sehingga pertumbuhan Agibot berpotensi makin memperkuat posisi China sebagai pusat manufaktur robot berbentuk manusia.
Robot China mulai dipakai di banyak kawasan
Agibot menyebut robotnya sudah digunakan di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Utara, Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Jangkauan itu menunjukkan bahwa robot humanoid asal China tidak lagi hanya beredar di pasar domestik, tetapi mulai masuk ke lingkungan kerja internasional.
Perusahaan juga melihat pola baru dalam permintaan, yakni pergeseran dari proyek uji coba menuju implementasi skala besar yang berulang. Dengan kata lain, pembeli tidak lagi hanya ingin menguji teknologi, tetapi mulai mencari solusi yang bisa dipakai secara rutin.
Berikut gambaran posisi beberapa pemain utama di pasar robot humanoid global berdasarkan data yang dirujuk:
| Perusahaan | Perkiraan pengiriman unit |
|---|---|
| Agibot | hampir 5.200 |
| Unitree | sekitar 4.200 |
| Figure | sekitar 150 |
| Agility Robotics | sekitar 150 |
| Tesla | sekitar 150 |
Persaingan produksi massal makin ketat
Meski pertumbuhannya cepat, pasar robot humanoid masih berada pada fase awal. Sejumlah nama besar seperti Boston Dynamics, Apptronik, dan Agility Robotics masih menahan produksi massal karena ingin memastikan teknologi mereka matang dan aman digunakan dalam jangka panjang.
Strategi hati-hati itu memiliki kelebihan, tetapi juga membawa risiko. Jika terlalu lama menunda, peluang pasar bisa direbut oleh pemain yang lebih cepat mengeksekusi produksi dan memperluas distribusi.
Dalam industri yang sedang bergerak secepat ini, keunggulan tidak lagi hanya datang dari desain robot yang canggih. Kecepatan membangun rantai pasok, menekan biaya produksi, dan mengirim unit dalam jumlah besar kini menjadi faktor penentu siapa yang akan memimpin pasar robot humanoid dunia.
Dengan basis produksi yang kuat, pengiriman yang melonjak, dan jelajah pasar yang semakin luas, robot manusia buatan China kini tidak lagi sekadar eksperimen laboratorium. Teknologi itu mulai masuk ke fase komersial yang lebih serius, dan arah kompetisinya tampak akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengubah inovasi menjadi penerapan massal.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com








