Perplexity kembali menjadi sorotan setelah sebuah gugatan class-action menuding fitur “Incognito” milik perusahaan itu tidak benar-benar melindungi privasi pengguna. Gugatan yang diajukan seorang pengguna di Utah tersebut menyebut percakapan pengguna justru diduga diteruskan ke Meta dan Google, termasuk saat mode privat diaktifkan.
Kasus ini penting karena menyangkut jenis data yang sangat sensitif, mulai dari urusan keluarga, pajak, hingga strategi investasi pribadi. Jika tudingan itu benar, maka masalahnya bukan sekadar pelacakan iklan, melainkan potensi kebocoran isi percakapan AI yang seharusnya bersifat rahasia.
Apa yang dituduhkan dalam gugatan
Dalam dokumen gugatan setebal 140 halaman, penggugat anonim yang disebut “John Doe” menuduh Perplexity memasang pelacak tersembunyi di perangkat pengguna. Teknologi itu disebut bisa menangkap transkrip penuh percakapan lalu mengirimkannya ke Meta dan Alphabet, perusahaan induk Google.
Gugatan itu juga menyebut aliran data tetap berlangsung meski pengguna memilih mode Incognito. Penggugat mengklaim ia memakai Perplexity untuk membahas pajak, keuangan keluarga, dan investasi pribadi, lalu mendapati sebagian transkrip percakapan tersebut diduga dibagikan ke pihak ketiga.
Data apa saja yang diduga ikut terkirim
Menurut isi gugatan, dugaan pembagian data tidak berhenti pada isi prompt. Saat pengguna mendaftar akun gratis, Perplexity juga disebut membagikan riwayat prompt dan alamat email ke Meta dan Google.
Berikut rangkuman tudingan utama dalam gugatan tersebut:
- Transkrip percakapan AI diduga diteruskan ke Meta dan Google.
- Mode Incognito disebut tidak menghentikan proses pengumpulan data.
- Riwayat prompt dan alamat email juga diduga ikut dibagikan.
- Salah satu contoh menyebut pertanyaan soal perawatan kanker hati bisa dikirim lewat URL yang terdeteksi di browser.
Tabel singkat tudingan dalam perkara ini:
| Isu | Klaim dalam gugatan |
|---|---|
| Mode Incognito | Tidak benar-benar memutus aliran data |
| Isi percakapan | Diduga dikirim penuh ke Meta dan Google |
| Data akun | Riwayat prompt dan email disebut ikut dibagikan |
| Jenis data sensitif | Pajak, keuangan keluarga, investasi, hingga kesehatan |
Mengapa tudingan ini serius
Gugatan tersebut menilai praktik semacam itu bisa memicu iklan yang sangat tertarget dan terasa mengganggu. Dalam dokumen perkara, penggugat juga menyatakan tidak ada orang wajar yang mengira Perplexity akan membagikan percakapan lengkap dengan perusahaan seperti Meta dan Google.
Isu privasi pada layanan AI memang makin sensitif karena pengguna kerap memasukkan informasi yang mereka tidak akan tulis di mesin pencari biasa. Saat chatbot dipakai untuk bertanya soal penyakit, keuangan, dan urusan hukum, ekspektasi privasi menjadi jauh lebih tinggi.
Respons Perplexity dan konteks legal yang lebih luas
Perplexity membantah tudingan tersebut. Jesse Dwyer, kepala komunikasi perusahaan, mengatakan perusahaan belum menerima gugatan yang cocok dengan deskripsi itu dan tidak bisa memverifikasi klaim yang ada.
Perkara ini muncul saat Perplexity juga tengah menghadapi pengawasan hukum lain. Sebelumnya, perusahaan mendapat perintah sementara terkait alat Comet AI, setelah hakim menilai browser itu tidak boleh lagi mengambil data dari situs tertentu tanpa izin.
Sejauh ini, rangkaian gugatan itu menunjukkan bahwa pertanyaan terbesar bukan hanya soal seberapa canggih AI bekerja, tetapi juga seberapa jauh data pengguna bergerak di belakang layar. Bagi pengguna, kasus Perplexity menjadi pengingat bahwa label “private” atau “incognito” tetap perlu dibaca bersama kebijakan data, mekanisme pelacakan, dan pihak mana saja yang bisa mengakses informasi saat percakapan AI berlangsung.









