Ketakutan baru terhadap komputasi kuantum kembali memicu perdebatan soal keamanan Bitcoin setelah Google menegaskan percepatan persiapan menuju era post-quantum. Sorotan ini ikut menghidupkan kembali pernyataan Samson Mow yang menilai risiko kuantum tidak berhenti di Bitcoin, tetapi juga mengancam sistem keuangan tradisional dan infrastruktur militer.
Mow, tokoh yang dikenal sebagai pendukung Bitcoin dengan target harga $1 juta, menilai fokus berlebihan pada kripto justru menutupi kerentanan yang lebih luas. Ia menyoroti sistem perbankan yang masih terfragmentasi, banyak memakai teknologi lama, dan memiliki standar keamanan yang tidak seragam.
Mow Seret Bank dan Militer ke Pusat Perdebatan
Dalam pandangannya, jaringan keuangan global jauh lebih rapuh karena tersusun dari banyak sistem lawas yang tidak dibangun dengan arsitektur seragam. Kondisi itu, menurutnya, membuat pembaruan keamanan skala besar jauh lebih sulit dibandingkan Bitcoin yang memiliki basis kode open-source dan dapat diperbarui secara bertahap oleh komunitas pengembang.
Mow bahkan menyatakan bahwa jika orang khawatir terhadap ancaman kuantum pada Bitcoin, perhatian pertama seharusnya tertuju pada sistem keuangan tradisional dan sistem militer. Ia juga menyebut bahwa kerangka komando nuklir bisa menghadapi risiko apabila teknologi kuantum berkembang cukup jauh untuk menembus pertahanan kriptografi yang ada.
Google Menambah Tekanan pada Isu Post-Quantum
Pernyataan Google memperkuat kekhawatiran tersebut ketika perusahaan itu menyebut tahun 2029 sebagai tonggak penting dalam transisi ke post-quantum cryptography atau PQC. Google merujuk pada kemajuan cepat di bidang perangkat keras kuantum, koreksi kesalahan, dan riset kriptografi sebagai alasan utama untuk mempercepat persiapan.
Perusahaan itu juga memperingatkan potensi serangan “store now, decrypt later”, yaitu skema ketika data terenkripsi dikumpulkan hari ini untuk dibuka di masa depan saat kemampuan kuantum sudah cukup matang. Isu ini relevan untuk perbankan, komunikasi sensitif, dan jaringan blockchain yang bergantung pada tanda tangan digital serta enkripsi modern.
Berikut ringkasan poin teknis yang paling sering dibahas dalam ancaman kuantum:
- Komputer kuantum kuat secara teori bisa memecahkan skema enkripsi tertentu.
- Bitcoin memakai elliptic curve cryptography untuk mengamankan dompet dan transaksi.
- Risiko terbesar muncul jika public key sudah terekspos.
- Wallet lama dan alamat yang dipakai berulang lebih rentan.
- Pengembangan solusi tahan kuantum sudah berjalan, tetapi transisinya butuh waktu.
Ancaman Bitcoin Dinilai Ada, tetapi Tidak Merata
Walau perhatian publik meningkat, sejumlah firma riset menilai ancaman kuantum terhadap Bitcoin masih jauh dan bisa dikelola. Galaxy Research menyebut risikonya nyata, tetapi tidak merata, karena sebagian besar Bitcoin tetap aman selama public key belum dibuka saat dana belum dibelanjakan.
Galaxy juga menegaskan bahwa pengembangan solusi tahan kuantum sudah berlangsung, termasuk usulan seperti BIP 360 yang menunjukkan adanya langkah aktif untuk memperbarui kerangka kriptografi Bitcoin. Firma itu menilai jaringan Bitcoin tidak statis karena insentif pengembang, penambang, dan pengguna bergerak ke arah yang sama demi keamanan jangka panjang.
ARK Invest mengambil posisi serupa dengan menyatakan sistem saat ini belum mampu membobol enkripsi Bitcoin dalam skala besar. Meski begitu, perusahaan itu mengakui sebagian Bitcoin bisa terekspos dalam skenario kuantum di masa depan, tetapi timeline tersebut kemungkinan masih dihitung dalam dekade sehingga ekosistem punya ruang untuk beradaptasi.
Kritik Mow ke Peneliti dan Narasi Ketakutan
Mow juga menyerang narasi yang menurutnya terlalu dramatis dan dibangun oleh pihak-pihak tertentu. Ia menanggapi diskusi riset terbaru, termasuk proposal seperti SHRIMPS, dengan menyebut bahwa gelombang kepanikan kuantum ikut didorong oleh kepentingan bisnis dan figur yang tidak netral.
Dalam salah satu unggahan di X, Mow menulis bahwa kepanikan terbaru atas ancaman kuantum datang dari pihak yang terlibat investasi pada perusahaan perlindungan blockchain terhadap ancaman kuantum, serta dari seseorang yang disebutnya sebagai “orang Ethereum yang menyamar sebagai peneliti keamanan Bitcoin.” Ucapannya mencerminkan skeptisisme sebagian pendukung Bitcoin yang menilai isu ini sering dibesar-besarkan.
Meski begitu, perdebatan ini menegaskan satu hal penting: risiko kuantum bukan sekadar isu kripto, melainkan persoalan infrastruktur digital secara luas. Selama pengembangan komputasi kuantum terus bergerak maju, tekanan terhadap sistem perbankan, pertahanan, dan blockchain akan tetap menjadi agenda besar dalam pembahasan keamanan siber global.
