Indonesia masih punya ruang besar untuk mengejar arus investasi digital di kawasan Asia Tenggara. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menilai daya tarik Indonesia tetap kuat karena adopsi digital terus tumbuh, pasar domestik sangat besar, dan infrastruktur digital masih berkembang.
Namun, peluang itu belum otomatis menjadi keunggulan dibanding negara seperti Singapura dan Vietnam. Indonesia masih harus memperkuat kualitas ekosistem agar investor melihat kepastian, efisiensi, dan kesiapan talenta sebagai alasan untuk menanam modal lebih besar.
Mengapa Indonesia masih menarik bagi investor digital
Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia didukung oleh jumlah pengguna yang besar dan kebutuhan layanan berbasis teknologi yang terus naik. Kondisi ini membuat pasar Indonesia tetap relevan bagi perusahaan teknologi, penyedia layanan digital, hingga investor yang mencari basis pertumbuhan jangka panjang.
Edwin menyebut Indonesia memiliki modal penting untuk berkembang, terutama jika infrastruktur digital dan kualitas sumber daya manusia terus dikuatkan. Ia juga menyoroti bahwa negara seperti India, Vietnam, dan Singapura sudah lebih dulu menonjol lewat layanan teknologi informasi dan talenta digital yang kuat.
Tantangan utama: talenta, infrastruktur, dan kepastian usaha
Daya tarik pasar besar saja belum cukup jika ekosistemnya belum matang. Investor biasanya mempertimbangkan kecepatan perizinan, kualitas jaringan, ketersediaan talenta, serta kepastian aturan sebelum memutuskan masuk ke suatu negara.
Dalam konteks ini, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah pada beberapa sisi sekaligus. Peningkatan infrastruktur digital harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi tenaga kerja agar industri tidak hanya tumbuh dari sisi pengguna, tetapi juga dari sisi produksi layanan dan teknologi.
Berikut tiga pekerjaan rumah yang paling sering muncul dalam pembahasan investasi digital Indonesia:
- Memperluas dan memeratakan infrastruktur digital agar akses tidak menumpuk di kota besar.
- Meningkatkan kualitas talenta digital supaya kebutuhan industri bisa dipenuhi lebih cepat.
- Menjaga kepastian regulasi agar investor memiliki panduan yang jelas dalam beroperasi.
Formula 6C yang disorot Komdigi
Komdigi menggunakan formula 6C sebagai kerangka untuk mendorong ekonomi berbasis digitalisasi. Kerangka ini mencakup Connectivity, Capital, Competence Talent, Commerce, Compliance, dan Catalysis.
Connectivity merujuk pada konektivitas digital yang menjadi fondasi utama. Capital menekankan pentingnya modal dan pembiayaan, sedangkan Competence Talent menyoroti kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan relevan.
Commerce berhubungan dengan aktivitas perdagangan digital yang tumbuh melalui platform dan layanan online. Compliance menekankan kepatuhan terhadap regulasi, sementara Catalysis menggambarkan peran pemerintah dan ekosistem dalam mempercepat pertumbuhan.
Posisi Indonesia dibanding Singapura dan Vietnam
Singapura dikenal unggul dalam kepastian regulasi, kualitas infrastruktur, dan ekosistem bisnis yang sangat terhubung dengan pasar global. Vietnam juga terus naik karena agresif membangun industri teknologi dan memperkuat basis talenta digitalnya.
Indonesia punya keunggulan pada besarnya pasar domestik dan tingginya potensi adopsi digital. Tetapi untuk menyamai daya saing Singapura dan Vietnam, Indonesia perlu memberi sinyal kuat bahwa investasi di sektor digital bisa tumbuh dengan stabil, efisien, dan berkelanjutan.
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada potensi konsumen, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukung. Itu sebabnya penguatan infrastruktur, talenta, dan regulasi menjadi faktor penentu agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar besar, tetapi juga pusat pertumbuhan digital yang kompetitif di kawasan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com








