Bitcoin kembali menjadi bahan perdebatan tajam setelah ekonom Steve Keen, sosok yang dikenal pernah memperingatkan krisis keuangan global, mengatakan aset kripto itu pada akhirnya bisa menjadi tak bernilai dan mendekati nol. Pernyataan itu muncul saat harga Bitcoin masih bertahan di atas $70,000 berkat arus masuk dana institusional dan sentimen pasar yang membaik.
Kritik Keen tidak berdiri sendiri karena sejumlah tokoh pasar lain juga masih memandang Bitcoin dengan sangat pesimistis. Namun, di saat yang sama, data perdagangan terbaru menunjukkan minat investor justru belum surut, sehingga pertanyaan utamanya bergeser dari sekadar arah harga menjadi apakah alasan di balik prediksi “menuju nol” itu benar-benar kuat.
Mengapa Steve Keen Menilai Bitcoin Rentan
Dalam podcast Diary of a CEO yang tayang pada April, Keen menjelaskan bahwa masalah utama Bitcoin ada pada desain dasarnya. Ia menyorot sistem proof-of-work yang membutuhkan energi besar untuk menjaga keamanan jaringan.
Keen mengatakan bahwa ledger publik Bitcoin tetap aman justru karena “memerlukan terlalu banyak energi untuk dibobol”. Menurutnya, inilah kelemahan mendasar karena kebutuhan listrik yang besar membuat Bitcoin mudah diserang secara politik ketika isu efisiensi energi dan iklim makin menjadi perhatian.
Ia juga menilai pemerintah pada akhirnya akan mencari sektor yang paling mudah dipangkas jika tekanan pengurangan konsumsi energi meningkat. Dalam pandangannya, kripto dan perjalanan internasional bisa menjadi sasaran awal karena keduanya sering dipersepsikan sebagai penggunaan energi yang kurang prioritas.
Apakah Argumen Itu Masuk Akal
Secara prinsip, kritik Keen memiliki dasar yang jelas karena konsumsi energi Bitcoin memang menjadi isu lama. Jaringan ini membutuhkan daya komputasi besar agar transaksi tetap tervalidasi dan serangan terhadap sistem menjadi mahal.
Tetapi, argumentasi tersebut tidak otomatis berarti Bitcoin akan menuju nol. Pendukung Bitcoin menegaskan bahwa sebagian aktivitas penambangan kini menggunakan energi terbarukan, sementara konsumsi energi juga dipandang sebagai biaya keamanan yang menopang sistem keuangan terdesentralisasi dan tahan sensor.
Perdebatan ini membuat penilaian terhadap Bitcoin tidak bisa disederhanakan hanya dari satu sisi. Bagi pihak yang menolak, konsumsi listrik adalah beban serius; bagi pihak yang mendukung, konsumsi itu justru bagian dari arsitektur keamanan jaringan.
Prediksi Bearish Lain yang Tak Kalah Keras
Keen bukan satu-satunya figur yang melontarkan pandangan suram terhadap Bitcoin. Mike McGlone, kepala strategi komoditas senior di Bloomberg Intelligence, kembali menyebut Bitcoin bisa turun ke $10,000.
McGlone tetap membuka kemungkinan dirinya salah jika harga mampu bertahan di atas $75,000. Ia menilai volatilitas yang meningkat pada emas dan minyak mentah bisa merembet ke saham dan aset berisiko, termasuk kripto.
Berikut beberapa pandangan bearish yang paling sering muncul di pasar menurut data referensi yang tersedia:
- Mike McGlone: Bitcoin bisa turun ke $10,000 jika tekanan aset berisiko meningkat.
- Peter Schiff: Bitcoin masih menghadapi downside signifikan dan bisa berakhir di $10,000.
- Steve Hanke: Bitcoin punya “zero fundamental value” dan sejak awal dinilai hanya spekulatif.
- Michael Burry: Lonjakan ke level enam digit dianggap sebagai mania spekulatif.
Pandangan pesimistis itu menunjukkan bahwa skeptisisme terhadap Bitcoin belum mereda meski harga sempat menguat tajam. Namun, catatan historis juga memperlihatkan bahwa banyak prediksi kehancuran Bitcoin tidak terbukti dalam jangka panjang.
Data yang Menggambarkan Kontras Pasar
Di saat kritik makin keras, Bitcoin justru menguat setelah pasar merespons gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Presiden Donald Trump. Aset kripto itu sempat menyentuh intraday high di $72,738 sebelum stabil di sekitar $71,900.
Kenaikan itu juga didorong oleh arus masuk dana besar ke produk investasi berbasis Bitcoin. ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat inflow bersih $471 juta pada April 6, angka tertinggi dalam enam minggu, dan itu membantu mendorong reli harga.
Selain itu, likuidasi posisi short di pasar derivatif ikut mempercepat kenaikan. CoinMarketCap menilai pergerakan tersebut menegaskan bahwa Bitcoin makin sensitif terhadap faktor makroekonomi dan geopolitik, sekaligus makin terhubung dengan pasar keuangan tradisional.
Apa Kata Para Pengkritik Lama
Peter Schiff kembali menegaskan bahwa ia melihat risiko penurunan besar pada Bitcoin. Ia menulis di X bahwa jika Bitcoin menutup 2026 di $10,000, maka penurunan 92% akan menjadikannya investasi terburuk bagi sebagian besar pemegangnya.
Schiff juga berulang kali menilai reli harga Bitcoin punya resistensi kuat dan ruang naik yang terbatas dibanding emas. Data dari bitcoindeaths.com mencatat Schiff telah sedikitnya 22 kali menyatakan Bitcoin “mati” sejak 2011, lebih banyak dari kritikus lain yang dilacak situs tersebut.
Steve Hanke juga kembali menyebut Bitcoin tak memiliki nilai fundamental dan hanya merupakan aset spekulatif. Sementara itu, Warren Buffett tercatat telah membuat delapan pernyataan bearish terhadap Bitcoin, dan Jamie Dimon tujuh kali, menurut data yang sama.
Mengapa Kritik Tidak Selalu Sejalan dengan Pergerakan Harga
Riwayat harga Bitcoin membuat banyak prediksi kehancuran terdengar kurang meyakinkan bagi sebagian pelaku pasar. Sejak kritik awal Schiff, Bitcoin justru telah naik lebih dari 4,000 kali lipat, meski tentu kenaikan masa lalu tidak menjamin performa masa depan.
Michael Saylor dari Strategy menyoroti pentingnya kerangka waktu saat menilai Bitcoin. Ia mengatakan bahwa sejak Agustus 2020, Bitcoin merupakan aset utama dengan performa terbaik, dan jarak kinerjanya dengan aset besar lain masih terus melebar.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap Bitcoin sangat bergantung pada horizon investasi. Dalam jangka pendek, volatilitas dan sentimen bisa memukul harga, tetapi dalam jangka yang lebih panjang, narasi kelangkaan dan adopsi institusional sering menjadi penopang utama.
Faktor yang Sedang Menentukan Arah Bitcoin
Arah Bitcoin dalam waktu dekat masih bergantung pada beberapa variabel penting yang saling terkait. Tekanan inflasi di Amerika Serikat, minat institusi, dan reaksi pasar terhadap data makro dapat menentukan apakah reli bertahan atau melemah.
- Data inflasi Amerika Serikat yang bisa mempengaruhi ekspektasi suku bunga.
- Arus masuk atau keluar dari ETF spot Bitcoin.
- Sentimen geopolitik yang mendorong pembelian aset berisiko.
- Pergerakan di level resistensi teknikal yang memicu aksi ambil untung atau pembelian lanjutan.
Analis CCN Abiodun Oladokun menilai Bitcoin belum menembus resistance penting di sekitar $72,766. Jika sentimen memburuk, ia menyebut harga bisa terkoreksi ke $65,071 dan bahkan turun ke $60,000 bila support jebol.
Mengapa Prediksi Nol Tetap Sulit Dibuktikan
Argumen Bitcoin menuju nol biasanya bertumpu pada dugaan bahwa biaya energi, regulasi, dan spekulasi akan menggerus nilai jaringan. Namun, keberadaan suplai terbatas sebanyak 21 juta koin membuat model harga Bitcoin tidak sama dengan aset yang bisa terus dicetak.
Sebuah studi peer-reviewed di Journal of Risk and Financial Management bahkan memproyeksikan skenario ekstrem di mana Bitcoin bisa mencapai $1 million dalam beberapa tahun jika adopsi dan penarikan pasokan terus meningkat. Studi itu menyebut penarikan harian lebih dari 1,000 Bitcoin bisa mulai menekan suplai, sedangkan aliran 2,000 hingga 3,000 koin per hari dapat memicu tekanan yang lebih kuat.
Dalam skenario paling optimistis, model tersebut memproyeksikan Bitcoin bisa mencapai $1 million pada awal 2027, lalu $2 million di akhir tahun yang sama dan berpotensi menyentuh $5 million pada 2031. Meski begitu, para penulis studi juga menekankan bahwa hasil itu sangat sensitif terhadap asumsi permintaan yang berkelanjutan.
Bagaimana Pasar Membaca Situasi Saat Ini
Pasar saat ini tampak menempatkan dua narasi besar secara bersamaan. Di satu sisi, kritik soal energi, nilai fundamental, dan volatilitas masih menggema dari tokoh-tokoh seperti Keen, Schiff, Hanke, McGlone, dan Burry.
Di sisi lain, institusi, ETF, dan minat jangka panjang membuat Bitcoin tetap relevan sebagai aset spekulatif sekaligus instrumen investasi yang kini makin terintegrasi dengan pasar keuangan global. Selama benturan dua narasi ini terus berlangsung, perdebatan tentang apakah Bitcoin bisa benar-benar “menuju nol” kemungkinan masih akan tetap panjang.









