Bitcoin Naik Saat Gencatan Senjata, Bayang-Bayang Erosi Kepercayaan Menguat

Apa itu ‘TACO Trade’ dan mengapa istilah ini kembali jadi sorotan di pasar global? Istilah ini merujuk pada pola berulang ketika pasar jatuh setelah ancaman kebijakan agresif muncul, lalu pulih cepat setelah ancaman itu dilunakkan, ditunda, atau dibatalkan. Dalam beberapa pekan terakhir, pola tersebut ikut menyentuh aset kripto, termasuk Bitcoin, yang melonjak setelah kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memicu kembali selera risiko investor.

Mengapa pasar menyebutnya TACO Trade? TACO merupakan singkatan dari “Trump Always Chickens Out”, istilah yang populer di Wall Street untuk menggambarkan pola kebijakan yang keras di awal lalu melembut di akhir. Frasa ini dipopulerkan oleh kolumnis Financial Times, Robert Armstrong, dan mendapat sorotan besar saat episode tarif pada masa pemerintahan Donald Trump, termasuk kebijakan yang dijuluki “Liberation Day”.

Pola ini bekerja lewat urutan yang cukup konsisten. Ancaman yang agresif memicu aksi jual, lalu kebijakan ditunda atau dikurangi, dan pasar kembali naik karena ketidakpastian mereda.

Dari saham ke kripto Dinamika TACO Trade awalnya banyak dibahas di pasar saham, tetapi sekarang dampaknya merembet ke aset digital. Bitcoin menjadi contoh terbaru ketika harga naik tajam setelah kabar meredanya konflik geopolitik menumbuhkan kembali minat terhadap aset berisiko.

Bloomberg melaporkan Bitcoin sempat naik hingga 4,9% ke $72,738, level tertinggi sejak 18 Maret. Ethereum juga sempat menguat lebih dari 7%, memperlihatkan bahwa sentimen pasar bergerak serempak ke aset berisiko saat kabar gencatan senjata muncul.

Caroline Mauron, co-founder Orbit Markets, mengatakan kepada Bloomberg bahwa lonjakan Bitcoin datang setelah gencatan senjata sementara memberi kelegaan kepada pasar. Ia menilai reli itu mencerminkan perasaan lega karena eskalasi lanjutan berhasil dihindari untuk sementara.

Mengapa analis khawatir pada sisi kepercayaan? Sejumlah analis menilai pola ini bisa menimbulkan efek samping yang lebih besar daripada sekadar reli jangka pendek. Crypto analyst Benjamin Cowen menilai pasar kini mulai terbiasa menunggu pembalikan kebijakan setelah guncangan awal, sehingga investor cenderung membeli saat harga turun dengan asumsi situasi akan segera pulih.

Cowen mengaitkan kondisi ini dengan periode 2022–2023 di pasar kripto, saat narasi yang sangat menonjol sempat menarik perhatian besar sebelum akhirnya kehilangan daya tarik ketika kredibilitasnya menurun. Menurut dia, risiko utamanya bukan pada reaksi instan pasar, melainkan pada titik ketika pelaku pasar berhenti mempercayai sinyal resmi.

Apa dampaknya bagi pasar jika pola ini terus berulang? Ketika investor terus melihat ancaman yang sering tidak dieksekusi penuh, kekuatan sinyal dari pernyataan kebijakan bisa melemah. Dalam jangka pendek, pasar memang dapat terus memanfaatkan pola beli saat turun, tetapi dalam jangka lebih panjang, kelelahan terhadap ketidakpastian dapat menggerus kepercayaan.

Peter Schiff juga memberi pandangan serupa dengan nada skeptis. Ia menilai pasar tampak menganggap ancaman besar hanya sebagai bluff, sehingga aset risiko tidak lagi bereaksi sekeras yang seharusnya jika ancaman itu dianggap serius.

Berikut ringkasan pola TACO Trade yang sering dibahas pelaku pasar:

Tahap Respons Pasar
Ancaman kebijakan agresif Aset berisiko turun
Kebijakan dilunakkan atau ditunda Sentimen membaik
Ketidakpastian mereda Pasar rebound cepat

Bitcoin, gencatan senjata, dan sinyal yang saling bertabrakan Daya tarik Bitcoin saat ini tidak hanya berasal dari berita geopolitik, tetapi juga dari harapan bahwa ketegangan bisa mereda lebih cepat dari perkiraan. Donald Trump sempat mengatakan di Truth Social bahwa Amerika akan “suspend the bombing and attack of Iran for a period of two weeks”, dengan keputusan yang dikaitkan pada permintaan pembukaan Selat Hormuz secara “COMPLETE, IMMEDIATE, and SAFE”.

Namun, sinyal pasar derivatif tidak sepenuhnya mendukung optimisme itu. Analis CCN, Abiodun Oladokun, mencatat rasio long/short Bitcoin turun di bawah 1, yang berarti posisi short mulai lebih dominan meski harga naik.

Menurut Oladokun, kondisi itu menunjukkan sebagian trader justru bersiap menghadapi pullback. Ia menilai jika tekanan beli di pasar spot menguat, Bitcoin bisa menembus batas harian dan bergerak menuju $75,304, tetapi jika sentimen memburuk, harga berisiko menguji support di $65,071 dan bahkan turun ke $60,000.

Mengapa isu ini penting bagi investor kripto? Reli akibat kabar gencatan senjata bisa memberi tenaga baru pada pasar, tetapi reli seperti ini juga mudah berubah jika situasi geopolitik bergeser lagi. Di tengah kondisi tersebut, investor tampaknya tidak hanya memantau harga Bitcoin, tetapi juga membaca apakah pasar masih percaya pada pola yang sama, atau mulai bosan dengan siklus ancaman, koreksi, lalu rebound yang berulang.

Berita Terkait

Back to top button