Presiden Prabowo Subianto mengaku sempat kaget saat menemukan video palsu dirinya di YouTube yang menampilkan suara merdu seolah-olah sedang bernyanyi. Padahal, Prabowo menyebut dirinya tidak bisa menyanyi dan menilai suara aslinya jelek, sehingga video buatan kecerdasan buatan atau AI generatif itu terasa sangat meyakinkan.
Dalam pernyataannya, Prabowo menyoroti bagaimana teknologi AI kini mampu membuat seseorang terlihat sedang berbicara atau bernyanyi meski hal itu tidak pernah dilakukan. Ia mencontohkan video yang menampilkan dirinya berbicara dalam bahasa Mandarin dan Arab, lalu menyebut konten semacam itu bisa memberi manfaat, tetapi juga berpotensi dipakai untuk menyesatkan publik.
AI Kian Realistis, Konten Palsu Sulit Dibedakan
Kemajuan AI generatif membuat konten audio dan video buatan mesin semakin sulit dibedakan dari rekaman asli. Teknologi ini dapat meniru ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerakan bibir, sehingga pengguna awam sering kesulitan memastikan keaslian sebuah video.
Prabowo mengakui bahwa kemampuan itu sempat membuatnya terkejut karena hasilnya tampak sangat natural. Ia bahkan mengatakan ada video di YouTube yang seolah-olah memperdengarkan suaranya sedang menyanyi dengan kualitas vokal yang bagus, padahal kenyataannya tidak demikian.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa AI kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan kreatif, tetapi juga bisa menciptakan materi manipulatif yang tampak kredibel. Dalam konteks politik dan informasi publik, risiko seperti ini menjadi semakin penting untuk diwaspadai.
Video AI Prabowo Bermodal Suara, Bahasa, dan Presisi Visual
Video palsu yang disebut Prabowo tidak hanya menampilkan dirinya bernyanyi, tetapi juga berpidato dalam sejumlah bahasa asing. Dalam bahan referensi yang disampaikan, video itu memperlihatkan dirinya berbicara bahasa Mandarin dan Arab, dua bahasa yang langsung menarik perhatian karena terdengar seperti penampilan asli tokoh publik.
Berikut rangkuman bentuk manipulasi yang disebut dalam pernyataan Prabowo:
- Video dirinya bernyanyi dengan suara merdu.
- Video dirinya berbicara dalam bahasa Mandarin.
- Video dirinya berbicara dalam bahasa Arab.
- Konten tersebut beredar di YouTube dan tampak sangat realistis.
Kehadiran konten seperti ini menunjukkan bahwa AI generatif sudah mampu memproduksi deepfake yang meyakinkan. Jika tidak disertai literasi digital yang memadai, masyarakat bisa mudah terkecoh oleh informasi yang tampak otentik.
Prabowo: Bisa Menguntungkan, Tapi Juga Berbahaya
Prabowo tidak menutup mata bahwa teknologi AI memiliki sisi positif. Ia menyebut, dalam situasi tertentu, video manipulatif bisa saja dianggap menguntungkan secara politis atau komunikasi publik, terutama ketika isinya tampak mendukung citra seseorang.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa manfaat itu tidak menghapus risiko besar yang menyertai penyalahgunaan teknologi tersebut. Menurut Prabowo, AI dapat digunakan untuk fitnah dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Peringatan itu relevan karena konten buatan AI tidak selalu dibuat untuk hiburan. Dalam praktiknya, video palsu bisa dipakai untuk memelintir pernyataan, memalsukan sikap, atau membentuk opini keliru tentang figur publik.
Mengapa Konten AI Perlu Diwaspadai
Meningkatnya kualitas konten AI membuat verifikasi informasi menjadi semakin penting. Di tengah banjir video pendek dan cuplikan yang mudah tersebar, publik perlu lebih hati-hati sebelum mempercayai sebuah konten hanya karena tampilannya terlihat nyata.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menemukan video yang mencurigakan antara lain:
- Cek sumber unggahan dan kanal resminya.
- Bandingkan isi video dengan pernyataan resmi dari pihak terkait.
- Perhatikan sinkronisasi bibir, suara, dan gerak tubuh.
- Cari pemberitaan dari media kredibel yang mengonfirmasi isi video.
- Hindari menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
Langkah-langkah sederhana ini penting untuk mengurangi penyebaran disinformasi. Semakin meyakinkan teknologi yang dipakai, semakin besar pula kebutuhan publik untuk kritis dan teliti saat menerima informasi visual.
Pernyataan Prabowo tentang video AI di YouTube menunjukkan bahwa isu deepfake kini sudah menyentuh ruang publik secara langsung, termasuk figur nasional. Di tengah perkembangan teknologi yang terus melaju, kemampuan membedakan konten asli dan konten buatan akan menjadi salah satu keterampilan digital yang paling penting bagi masyarakat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com