FBI Ungkap Kerugian Rp356 Triliun Akibat Penipuan Online, Warga AS Jadi Target Utama

FBI mengungkap lonjakan besar kejahatan siber yang membuat warga Amerika Serikat kehilangan uang hampir US$21 miliar sepanjang 2025. Kerugian itu naik 26% dibandingkan 2024 yang sebesar US$16,6 miliar, menandakan skala ancaman digital di AS semakin sulit dikendalikan.

Laporan Pusat Pelaporan Kejahatan Internet AS atau IC3 juga menunjukkan jumlah keluhan menembus 1 juta kasus pada 2025. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 859.000 laporan pada tahun sebelumnya, sehingga memperlihatkan bahwa penipuan online bukan lagi kasus sporadis, melainkan gelombang besar yang terus meluas.

Modus yang paling banyak menyerang

Mayoritas laporan berasal dari penipuan investasi, penipuan email bisnis, penipuan dukungan teknis, dan pelanggaran data. FBI mencatat phishing menjadi laporan terbanyak dengan 191.000 kasus, disusul pemerasan 89.000 kasus dan penipuan investasi 72.000 kasus.

Jenis serangan lain juga tetap muncul dalam jumlah signifikan. Berikut beberapa modus yang masuk laporan FBI:

  1. Peretasan email bisnis: 24.700 kasus
  2. Pelanggaran data: 3.900 kasus
  3. Serangan ransomware: 3.600 kasus
  4. Penukaran SIM: 971 kasus

Deretan modus itu menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya mengandalkan tipu daya sederhana. Mereka juga memanfaatkan celah teknis, kelemahan sistem, dan kebiasaan pengguna yang terburu-buru saat menerima pesan mendesak.

Kripto dan investasi jadi ladang terbesar

Penipuan investasi menyumbang kerugian finansial sebesar US$8,6 miliar. Sementara itu, penipuan yang menargetkan mata uang kripto mencatat kerugian terbesar, yakni US$11 miliar dari 181.565 laporan yang masuk.

Angka tersebut menegaskan bahwa aset digital masih menjadi sasaran favorit para penipu. Skema yang dipakai biasanya berbentuk ajakan investasi cepat, janji imbal hasil tinggi, hingga manipulasi percakapan agar korban merasa berurusan dengan pihak yang sah.

FBI juga menyoroti kelompok usia lanjut sebagai target paling rentan. Warga AS berusia di atas 60 tahun mengalami kerugian hingga US$7,7 miliar, naik 37% dibandingkan tahun sebelumnya.

AI mulai masuk daftar ancaman

Untuk pertama kalinya, laporan FBI memasukkan penipuan berbasis kecerdasan buatan. Ada 22.300 laporan penipuan AI dengan total kerugian mencapai US$893 juta, yang melibatkan pemalsuan suara, profil palsu, dokumen palsu, dan video deepfake.

Kemunculan pola ini membuat risiko penipuan meningkat karena pelaku bisa meniru identitas secara jauh lebih meyakinkan. Teknologi AI yang semestinya membantu produktivitas justru ikut dipakai untuk mempercepat manipulasi dan menekan korban agar segera mengirim uang.

Infrastruktur penting ikut jadi sasaran

FBI menyebut ada dua kasus yang menargetkan infrastruktur kritis, termasuk bendungan dan fasilitas nuklir. Insiden itu diklasifikasikan sebagai kebocoran data, sementara sektor yang paling banyak dibidik sepanjang 2025 meliputi sistem kesehatan, manufaktur, layanan keuangan, teknologi informasi, dan fasilitas pemerintahan.

Serangan ke sektor-sektor tersebut berbahaya karena dampaknya tidak hanya finansial. Gangguan di satu titik saja bisa memicu efek berantai terhadap layanan publik, operasional industri, dan keamanan data masyarakat.

Langkah FBI dan peringatan untuk publik

FBI mengatakan sudah meningkatkan respons untuk menangkal serangan, memberi notifikasi kepada korban, dan membekukan dana curian di sejumlah kasus. Lembaga itu menjalankan 3.900 intervensi Financial Fraud Kill Chain atau FFKC pada 2025, lalu berhasil membekukan US$679 juta dari US$1,16 miliar yang menjadi target penyerang.

Selain itu, FBI menjalankan program Operation Level Up untuk memberi peringatan dini terhadap calon korban penipuan investasi kripto. Dari 3.780 korban yang diberi notifikasi, 78% ternyata tidak sadar bahwa mereka sudah menjadi target penipuan.

FBI mengimbau masyarakat untuk tidak langsung menuruti permintaan mendesak, terutama jika disertai tekanan waktu atau ancaman. Lembaga itu juga meminta warga memverifikasi setiap komunikasi sebelum mengirim uang atau data, lalu segera melapor ke IC3 jika mencurigai adanya peretasan atau penipuan digital.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version