Perang Saudara Simpanse Pecah, Cermin Kelam Persamaan Mereka Dengan Manusia

Perang saudara di antara simpanse kini menjadi sorotan ilmiah karena memperlihatkan sisi paling dekat dari perilaku sosial primata besar itu dengan manusia. Dalam studi yang terbit di jurnal Science, tim peneliti melaporkan bahwa konflik di komunitas simpanse Ngogo, Taman Nasional Kibale, Uganda, berkembang dari perpecahan sosial menjadi kekerasan antarkelompok yang mematikan.

Peristiwa ini dinilai sangat langka dan disebut hanya terjadi sekali dalam sekitar 500 tahun. Peneliti menilai kasus tersebut penting karena memperlihatkan bahwa keretakan hubungan sosial, perebutan sumber daya, dan perubahan kepemimpinan dapat mendorong kekerasan kolektif, baik pada simpanse maupun pada manusia.

Komunitas besar yang akhirnya terbelah

Komunitas simpanse di Kibale terdiri dari sekitar 200 individu dan selama puluhan tahun hidup sebagai satu kelompok besar. Kawanan ini memiliki dua klaster utama, yakni klaster Pusat dan klaster Barat, yang sebelumnya masih sering berinteraksi, berbagi wilayah, dan membentuk pasangan lintas klaster.

Situasi itu mulai berubah pada 2015 ketika para peneliti melihat tanda-tanda awal ketegangan. Aaron Sandel, primatolog dari University of Texas di Austin, menyaksikan langsung momen ketika simpanse klaster Barat mendekati klaster Pusat, namun interaksi yang biasanya berlangsung damai justru berubah kacau.

Menurut Sandel, kawanan Barat tiba-tiba mendiamkan situasi saat klaster Pusat sedang kawin, lalu mundur dan dikejar oleh kubu lawan. “Hal seperti ini tidak pernah diamati sebelumnya,” kata Sandel, menggambarkan perubahan perilaku yang menandai awal perpecahan besar.

Dari perpecahan sosial ke pembunuhan antarkelompok

Pada 2017, kedua klaster mulai menempati wilayah yang terpisah dan berpatroli untuk menjaga batas masing-masing. Setahun kemudian, konflik terbuka pecah dan serangan mematikan terhadap kelompok lawan mulai terjadi.

Data pengamatan selama 2018 hingga 2024 menunjukkan klaster Barat membunuh 7 simpanse jantan dan 17 anak simpanse dari klaster Pusat. Selain itu, 14 simpanse dewasa dari kubu Pusat dinyatakan hilang, tanpa ditemukan tubuhnya dan tanpa tanda-tanda sakit sebelumnya.

Peneliti menilai kekerasan itu muncul setelah hubungan sosial di dalam komunitas runtuh. Beberapa faktor diduga kuat memicu perpecahan, mulai dari ukuran kelompok yang terlalu besar, persaingan mendapatkan makanan dan pasangan, pergantian individu alfa, hingga hilangnya simpanse dewasa yang sebelumnya berperan sebagai penghubung antarbagian komunitas.

  1. Ukuran kelompok yang membesar meningkatkan tekanan sosial.
  2. Persaingan sumber daya dan pasangan membuat relasi antarindividu melemah.
  3. Pergantian alfa mengubah dinamika kekuasaan di dalam kawanan.
  4. Wabah penyakit ikut mengurangi simpanse dewasa yang menjembatani kelompok.

Kemiripan dengan kasus klasik di Gombe

Fenomena serupa pernah dicatat di Taman Nasional Gombe, Tanzania, pada 1970-an ketika Jane Goodall mengamati perpecahan kelompok simpanse yang kemudian berujung pada pembunuhan antarindividu. Dalam kasus itu, pola yang muncul juga mirip, yakni hubungan sosial yang makin terpisah, kompetisi reproduksi yang ketat, pergantian alfa, serta matinya pejantan yang selama ini menjaga koneksi sosial.

Karena itu, kasus Ngogo dianggap istimewa. Sandel menyebutnya sebagai momen pertama yang membuat perang saudara pada simpanse bisa dipastikan terjadi, bukan sekadar konflik sesaat antarkelompok.

Temuan ini ikut menantang anggapan bahwa perang terutama lahir dari faktor budaya seperti etnis, bahasa, dan agama. Dalam analisis yang dikutip dari Scientific American, studi simpanse justru menunjukkan bahwa kekerasan kolektif juga bisa muncul dari rusaknya jejaring sosial yang semula menjaga kohesi kelompok.

Pelajaran tentang konflik dan perdamaian

Bagi para peneliti, pelajaran terpenting dari kasus ini bukan hanya soal agresi simpanse, melainkan pentingnya menjaga hubungan antarangggota kelompok tetap berjalan. Sandel menekankan bahwa persahabatan yang menghubungkan individu dalam kelompok memiliki peran besar dalam mencegah retaknya komunitas.

Ia juga menilai, bila interaksi tetap inklusif dan ramah, peluang untuk mempertahankan perdamaian akan lebih besar. Dalam konteks manusia, temuan ini memberi gambaran bahwa konflik besar sering kali tidak dimulai dari perbedaan yang tampak di permukaan, melainkan dari melemahnya ikatan sosial yang selama ini menyatukan kelompok.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version