Google kembali memberi sinyal bahwa ancaman komputasi kuantum terhadap aset digital bukan lagi sekadar skenario teoretis. Dalam whitepaper terbarunya, perusahaan itu menyebut sebuah sistem kuantum berpotensi menyerang transaksi Bitcoin dalam waktu sekitar 9 menit, atau cukup cepat untuk mengejar jendela konfirmasi jaringan.
Peringatan ini muncul setelah Google lebih dulu menetapkan target migrasi ke post-quantum cryptography atau PQC pada 2029. Meski serangan semacam itu belum bisa dilakukan hari ini, risikonya dinilai sudah masuk kategori yang perlu dipersiapkan lebih awal oleh ekosistem kripto.
Apa yang diungkap Google
Google Quantum AI menerbitkan whitepaper berjudul “Securing Elliptic Curve Cryptocurrencies against Quantum Vulnerabilities: Resource Estimates and Mitigations”. Dalam riset itu, peneliti menyoroti bahwa sebagian besar mata uang kripto bergantung pada ECDLP-256, yakni sistem keamanan yang melindungi dompet dan transaksi berbasis kurva eliptik.
Temuan pentingnya cukup mengkhawatirkan karena jumlah sumber daya yang dibutuhkan untuk membobol skema itu ternyata lebih kecil dari perkiraan sebelumnya. Google memperkirakan kurang dari 500.000 qubit sudah bisa cukup untuk memecahkan kriptografi yang dipakai Bitcoin dan Ethereum, dengan penurunan sekitar 20 kali lipat dari estimasi sebelumnya.
Mengapa Bitcoin menjadi sorotan
Dalam praktiknya, ancaman terbesar bukan menyerang dompet lama secara acak, melainkan transaksi Bitcoin yang sedang berjalan. Saat transaksi dibuat, public key akan terlihat untuk waktu singkat, dan komputer kuantum yang cukup kuat dapat memanfaatkan celah itu untuk menurunkan private key.
Riset Google menyebut serangan seperti itu bisa disiapkan terlebih dahulu sebelum dieksekusi, lalu menargetkan transaksi yang sedang menunggu konfirmasi. Karena proses konfirmasi Bitcoin memerlukan sekitar 10 menit, Google menilai peluang sukses serangan tersebut berada sedikit di bawah 41 persen.
Angka yang membuat industri waspada
Google juga menyoroti besarnya eksposur aset kripto yang sudah ada saat ini. Sekitar 6,9 juta Bitcoin disebut sudah rentan terhadap ancaman kuantum, termasuk sekitar 1,7 juta koin dari era Satoshi.
Berikut ringkasan temuan utama dari whitepaper tersebut:
| Temuan | Detail |
|---|---|
| Waktu serangan terhadap transaksi Bitcoin | Sekitar 9 menit |
| Waktu konfirmasi transaksi Bitcoin | Sekitar 10 menit |
| Peluang sukses serangan | Sedikit di bawah 41 persen |
| Kebutuhan qubit | Kurang dari 500.000 qubit |
| Bitcoin yang disebut rentan | Sekitar 6,9 juta BTC |
| Dari era Satoshi | Sekitar 1,7 juta BTC |
Angka-angka itu menunjukkan bahwa ancaman kuantum tidak hanya menyasar teknologi masa depan, tetapi juga aset yang sudah beredar luas. Dalam konteks pasar kripto, skala risiko ini menjadi perhatian karena menyentuh aspek keamanan jaringan, bukan sekadar fluktuasi harga.
Mengapa komputasi kuantum berbeda
Komputer klasik memakai bit biner untuk mewakili nol dan satu, sedangkan komputer kuantum memakai qubit yang dapat menampung kombinasi keadaan secara bersamaan. Sifat itu membuat komputer kuantum berpotensi memecahkan masalah tertentu jauh lebih cepat dibanding superkomputer konvensional.
Fondasi kekhawatiran ini juga tidak muncul tiba-tiba. Pada era 1990-an, matematikawan MIT Peter Shor memperkenalkan algoritma kuantum yang dikenal mampu menembus sistem enkripsi tertentu, dan sejak itu perkembangan komputasi kuantum terus meningkat secara signifikan.
Mengapa migrasi ke PQC menjadi penting
Google mengatakan sudah bekerja sejak 2016 untuk migrasi ke post-quantum cryptography. Perusahaan itu juga mendorong komunitas kripto yang masih rentan untuk memulai transisi tanpa menunggu ancaman benar-benar terjadi.
Transisi ke algoritma PQ memang dapat menekan risiko, tetapi prosesnya tidak sederhana. Jaringan kripto bersifat terdesentralisasi, sehingga perubahan protokol tidak bisa dilakukan secepat pembaruan biasa pada satu sistem tertutup.
- Diskusi komunitas harus lebih dulu mencapai kesepakatan.
- Proposal teknis harus diuji lewat testnet dan validasi keamanan.
- Implementasi jaringan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
- Jika konsensus gagal, kemungkinan fork juga bisa muncul.
Dampak bagi Bitcoin dan jaringan lain
Whitepaper Google menyebut Ether dinilai relatif kurang rentan dibanding Bitcoin karena waktu konfirmasi transaksinya lebih cepat. Meski begitu, bukan berarti jaringan lain aman sepenuhnya, sebab celah utama tetap berada pada sistem kriptografi yang menjadi fondasi transaksi.
Chris Tam, Presiden BTQ Technologies, menilai estimasi ancaman kuantum justru semakin kecil dari waktu ke waktu karena riset di bidang itu bergerak sangat cepat. Ia juga mengingatkan bahwa penurunan kebutuhan qubit dalam whitepaper Google menunjukkan betapa cepat perkembangan teknologi ini mengubah kalkulasi keamanan.
Dalam pandangannya, industri tidak cukup hanya mengakui risikonya. Jaringan juga harus menyiapkan rencana migrasi penuh agar tidak terlambat saat ancaman kuantum benar-benar menjadi praktis.
Langkah yang mulai dibicarakan industri
Beberapa jalur mitigasi kini mulai masuk perbincangan teknis di ekosistem kripto. Salah satu yang disebut Google dan para pakar adalah migrasi ke algoritma tahan kuantum, termasuk rancangan jaringan baru yang sejak awal dibangun dengan keamanan kuantum.
Pilihan yang saat ini ramai dibahas mencakup:
- Migrasi bertahap ke post-quantum cryptography.
- Penguatan sistem tanda tangan digital yang lebih tahan terhadap serangan kuantum.
- Pengurangan eksposur public key pada transaksi yang sensitif.
- Uji coba jaringan alternatif yang kompatibel dengan keamanan kuantum.
BTQ Technologies, misalnya, disebut sedang menguji Bitcoin Quantum sebagai fork Bitcoin yang memiliki fitur quantum-safe. Langkah seperti ini menunjukkan bahwa industri mulai memikirkan skenario perlindungan sebelum serangan kuantum menjadi kemampuan operasional yang luas.
Peringatan Google menempatkan Bitcoin dan aset kripto lain dalam fase baru perdebatan keamanan digital, karena tantangannya bukan lagi hanya soal peretas konvensional, melainkan lompatan komputasi yang bisa mengubah cara enkripsi bekerja. Dengan target migrasi PQC yang sudah dipatok lebih dulu, tekanan terbesar sekarang ada pada seberapa cepat komunitas kripto bisa menyiapkan sistemnya sebelum jendela ancaman kuantum benar-benar terbuka.
