Kamera saku kembali menarik perhatian pasar global setelah lama dianggap kalah oleh smartphone. Data terbaru dari Japanese Camera & Imaging Products Association atau CIPA menunjukkan sekitar 2,4 juta unit kamera point-and-shoot berjendela lensa tetap dikirim ke seluruh dunia pada periode terakhir yang dilaporkan, angka tertinggi sejak 2021.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia. Banyak pembeli, terutama pengguna muda, kembali mencari pengalaman memotret yang terasa lebih nyata, mulai dari tombol fisik, kontrol langsung, hingga hasil foto yang punya karakter berbeda dari kamera ponsel.
Kamera saku menemukan momentum baru
Pasar kamera ringkas memang tidak kembali ke masa kejayaannya seperti era film 35mm dan kamera digital awal. Namun, tren kenaikan yang stabil selama hampir setahun membuat segmen ini menjadi salah satu cerita paling menarik di industri imaging saat ini.
CIPA mencatat total pengiriman kamera global berada di sekitar 9,4 juta unit, dengan kamera fixed-lens menyumbang 2,4 juta unit. Angka itu penting karena menunjukkan bahwa kamera saku tidak lagi sekadar kategori sisa, melainkan produk yang benar-benar dicari lagi oleh konsumen.
Perubahan perilaku ini terlihat jelas di media sosial. Banyak pengguna muda memamerkan foto bergaya kasual, grainy, dan tidak terlalu “sempurna”, sesuatu yang justru sulit ditiru secara alami oleh kamera ponsel.
Mengapa tombol fisik kembali dicari
Kamera saku menawarkan pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya digantikan layar sentuh. Tombol rana, cincin kontrol, zoom fisik, dan respon instan memberi rasa kendali yang lebih langsung saat memotret.
Bagi banyak orang, itu menjadi alasan utama untuk beralih dari smartphone. Berikut tiga daya tarik utamanya:
- Pengambilan gambar lebih cepat dan fokus pada objek.
- Kontrol manual lebih mudah dirasakan lewat tombol fisik.
- Hasil foto punya identitas visual yang berbeda dari kamera ponsel.
Di tengah kebiasaan memotret lewat aplikasi, perangkat khusus seperti ini memberi jeda dari notifikasi dan distraksi digital. Kamera saku juga terasa lebih ringan dibawa dibanding kamera sistem yang lebih besar.
Canon, Ricoh, dan Leica memimpin gelombang baru
Salah satu kisah paling menonjol datang dari Canon PowerShot G7 X Mark III. Model yang dirilis pada Juli 2019 itu sempat langka di pasar, lalu kembali meroket permintaannya ketika minat terhadap kamera ringkas meningkat.
Canon kemudian menaikkan produksi, dan pada Agustus model ini dilaporkan memimpin penjualan di Jepang. Kondisi tersebut ikut mendorong pangsa pasar merek itu menjadi lebih dari 25 persen, sebuah pencapaian yang jarang terlihat pada kategori kamera saku dalam beberapa tahun terakhir.
Ricoh juga menikmati momentum serupa lewat lini GR III dan GR IV. Seri ini sudah lama punya pengikut setia karena memadukan bodi ringkas dengan sensor APS-C, sehingga tetap menarik bagi fotografer jalanan dan pengguna yang mengutamakan mobilitas.
Leica ikut menjaga segmen ini tetap hidup melalui D-Lux line yang bersumber dari Panasonic. Kini D-Lux 8 tampil sebagai opsi premium dengan sensor Micro Four Thirds, meski harganya berada di kelas yang lebih tinggi.
Siapa yang paling tertarik membeli kamera kompak
Pasar saat ini tidak hanya digerakkan oleh fotografer berpengalaman. Banyak pembeli baru justru datang dari kalangan muda yang ingin hasil foto lebih estetis dan alat yang terasa lebih personal.
Beberapa kelompok yang paling aktif mendorong tren ini adalah sebagai berikut:
| Segmen pembeli | Alasan utama |
|---|---|
| Pengguna muda | Tertarik pada estetika foto dan tren media sosial |
| Perempuan muda | Mencari perangkat yang berbeda dari smartphone |
| Fotografer profesional | Butuh perangkat ringkas untuk kerja dan dokumentasi cepat |
| Kolektor dan penggemar kamera | Mengejar model ikonik dan bernilai emosional |
Minat ini juga mendorong pasar bekas ikut panas. Harga unit populer sempat melonjak karena stok terbatas, terutama saat permintaan naik lebih cepat daripada produksi.
Peluang untuk produsen kamera
Kebangkitan kamera saku memberi sinyal penting bagi industri. Saat kamera mirrorless makin besar dan lebih mirip sistem profesional, celah untuk produk fixed-lens yang praktis kembali terbuka lebar.
Model seperti Fujifilm X100VI, Ricoh GR, dan Leica D-Lux membuktikan bahwa pasar masih mau membayar untuk pengalaman memotret yang spesifik. Jika produsen berani merilis model baru yang ringkas, sederhana, dan punya karakter kuat, segmen ini bisa terus berkembang di tengah dominasi smartphone.
