Perbincangan tentang “kiamat HP” makin sering muncul seiring perusahaan teknologi besar kembali mendorong perangkat baru yang dianggap bisa mengambil alih sebagian fungsi smartphone. Sejumlah nama besar seperti Mark Zuckerberg dan Elon Musk sudah memberi sinyal bahwa cara manusia berinteraksi dengan teknologi bisa berubah drastis dalam beberapa tahun mendatang.
Smartphone memang masih menjadi perangkat utama untuk komunikasi, hiburan, dan produktivitas. Namun, gelombang inovasi di smartglasses, chip antarmuka otak, hingga perangkat AI baru membuat posisinya mulai dipertanyakan untuk jangka panjang.
Smartglasses jadi kandidat terkuat
Mark Zuckerberg pernah menyebut dominasi HP akan perlahan digantikan oleh smartglasses atau kacamata pintar. Pandangan itu mendapat dukungan dari banyak pengembangan produk yang kini mengarah ke perangkat ringan yang bisa dipakai harian tanpa perlu sering digenggam.
Dalam beberapa tahun terakhir, Google, Apple, dan Meta sama-sama mencoba mempopulerkan smartglasses. Meski begitu, belum ada satu pun yang benar-benar berhasil membuat pengguna meninggalkan HP sepenuhnya.
Smartglasses dipandang menarik karena bisa menghadirkan akses informasi secara lebih cepat dan natural. Perangkat ini juga berpeluang menggabungkan fungsi komunikasi, tampilan data, dan dukungan kecerdasan buatan dalam bentuk yang lebih ringkas.
Neuralink mendorong gagasan perangkat tanpa layar
Elon Musk juga ikut mengangkat isu ini lewat teknologi chip yang dikembangkan melalui Neuralink. Saat ada warganet bertanya di X apakah antarmuka Neuralink bisa membuat manusia mengontrol HP lewat pikiran, Musk menjawab singkat, “di masa depan tak ada lagi HP, hanya Neuralink”.
Pernyataan itu menunjukkan arah yang jauh lebih radikal dibanding smartglasses. Jika konsep tersebut berkembang, interaksi digital tidak lagi bergantung pada layar sentuh, melainkan pada koneksi langsung antara otak dan perangkat.
Meski masih berada pada wilayah pengembangan awal, pernyataan Musk ikut memperkuat keyakinan bahwa smartphone bukan bentuk final dari perangkat personal. Teknologi yang lebih terintegrasi dengan tubuh manusia diperkirakan akan terus diuji dalam berbagai bentuk.
Jony Ive dan OpenAI ikut dorong perangkat baru
Nama lain yang ikut mendorong perubahan adalah Jony Ive, sosok di balik desain iPhone dan MacBook. Ia dikabarkan menjalin kemitraan dengan OpenAI untuk mengembangkan perangkat baru berbasis AI yang disebut-sebut akan memiliki fungsi mirip HP dalam banyak hal.
Keterlibatan Ive menjadi sorotan karena ia punya rekam jejak kuat dalam membentuk perangkat ikonik yang mengubah kebiasaan pengguna. Jika kolaborasi ini berhasil, maka pasar bisa melihat lahirnya perangkat yang lebih sederhana secara fisik, tetapi lebih cerdas dalam fungsi.
Kehadiran perangkat berbasis AI juga menunjukkan bahwa pengganti HP tidak selalu harus berupa ponsel dengan bentuk baru. Yang lebih penting justru bagaimana perangkat itu bisa menyatukan komunikasi, pencarian informasi, dan asisten digital dalam satu pengalaman yang lebih praktis.
Langkah baru Kering dan Google menambah tekanan
Terbaru, Kering yang menaungi Gucci dilaporkan berencana meluncurkan smartglasses bersama Google pada tahun depan. CEO Luca de Meo mengatakan kepada Reuters bahwa perangkat itu bisa menjadi momen pertama bagi merek fesyen besar masuk ke sektor perangkat teknologi berbasis AI.
Rencana itu juga menempatkan Kering dalam persaingan dengan EssilorLuxottica, produsen smartglasses Ray-Ban lewat kemitraan dengan Meta. Langkah ini memperlihatkan bahwa pasar perangkat masa depan tidak hanya dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi gaya hidup dan fesyen.
Bagi Kering, masuk ke sektor ini bukan sekadar diversifikasi produk. Strategi tersebut juga dinilai dapat memperkuat divisi kacamata dan perhiasan yang selama ini hanya menyumbang sebagian kecil dari pendapatan grup.
Arah industri bergerak ke perangkat yang lebih pribadi
Perubahan arah industri menunjukkan bahwa smartphone mulai menghadapi tekanan dari banyak sisi sekaligus. Smartglasses menawarkan kemudahan visual, Neuralink membawa ide antarmuka langsung dari otak, dan perangkat AI baru bisa menghadirkan fungsi yang lebih terintegrasi.
Namun, HP belum benar-benar kehilangan tempatnya. Hingga kini, belum ada perangkat pengganti yang mampu menyamai kombinasi fleksibilitas, kebiasaan penggunaan, dan ekosistem aplikasi yang sudah melekat kuat pada smartphone.
Karena itu, tanda “kiamat HP” lebih tepat dipahami sebagai proses pergeseran bertahap. Pasar tampak bergerak menuju perangkat yang lebih ringan, lebih pintar, dan lebih menyatu dengan aktivitas pengguna, sementara smartphone perlahan mulai bersaing dengan generasi perangkat baru yang makin sering bermunculan.
Source: www.cnbcindonesia.com