Pedagang HP ITC Kuningan Tertekan, Penjualan Anjlok 50% di Tengah Krisis Chip 2026

Pedagang HP di ITC Kuningan masuk ke periode penjualan yang berat sejak awal 2026. Kondisi ini dipicu kelangkaan chip memori global yang membuat harga komponen naik dan akhirnya mendorong kenaikan harga ponsel di banyak pasar, termasuk Indonesia.

Dampaknya langsung terasa di lapak-lapak ponsel. Sejumlah pedagang yang ditemui CNBC Indonesia mengaku penjualan mereka merosot tajam dalam beberapa bulan terakhir, bahkan ada yang menyebut turun hingga 50%.

Salah satu pedagang mengatakan situasi itu sudah berlangsung sekitar dua bulan. Ia menyebut penjualan terasa “hancur-hancuran” karena minat beli pelanggan melemah di tengah harga yang terus naik.

Harga ponsel ikut terkerek

Kenaikan harga tidak hanya muncul pada merek tertentu, tetapi hampir merata di pasar. Pantauan CNBC Indonesia menunjukkan Samsung A07 naik sekitar Rp 100-200 ribu, sementara Oppo A6 melonjak sekitar Rp 900 ribu.

Di kelas entry-level, dampaknya terasa lebih keras. Ponsel dengan konfigurasi memori 4/64 GB yang biasanya berada di kisaran Rp 1,4 juta kini tembus Rp 2 juta.

Kenaikan seperti ini membuat pedagang kesulitan menjaga volume transaksi. Meski begitu, sebagian pelanggan tetap membeli karena memang membutuhkan perangkat baru dan tidak selalu menunda pembelian.

Seorang pegawai toko menjelaskan bahwa penjual biasanya memberi informasi ke konsumen soal kondisi pasar. Ia menuturkan, “Kita kasih knowledge saja, semua harga naik,” sambil menambahkan bahwa beberapa toko bahkan sudah menaikkan harga dua kali.

Lebaran tak banyak membantu penjualan

Biasanya, momen Lebaran menjadi periode yang cukup baik bagi pedagang ponsel. Namun salah satu pedagang di ITC Kuningan mengaku kondisi itu tidak terjadi kali ini, karena lonjakan permintaan tidak terlihat signifikan.

Ia mengatakan hanya menjual tidak sampai 30 unit saat periode Lebaran, turun dari sekitar 40 unit pada tahun sebelumnya. Perbandingan itu menunjukkan pelemahan minat beli terjadi bahkan pada masa yang biasanya memberi dorongan penjualan.

Situasi ini memperkuat tekanan bagi pedagang ritel yang bergantung pada perputaran barang cepat. Saat harga naik, pembeli cenderung menahan diri, sementara stok di toko tetap harus bergerak agar modal tidak tertahan terlalu lama.

Efek kelangkaan chip terasa luas

Masalah utama berawal dari kelangkaan chip memori yang dipicu lonjakan permintaan chip AI. Firma riset IDC sebelumnya telah memperkirakan dampaknya bisa meluas ke harga perangkat elektronik, dan kondisi itu kini terlihat di pasar.

Dampaknya juga mengganggu produsen besar di China. Xiaomi dan Oppo disebut menurunkan produksi lebih dari 20%, vivo hampir 15%, sedangkan Transsion yang membawahi Tecno, Infinix, dan Itel mencatat penurunan pengiriman hingga 70%.

Counterpoint juga memangkas proyeksi pengapalan HP global 2026 menjadi minus 2,1%. Untuk sejumlah merek China seperti Honor, Oppo, dan vivo, proyeksi pengiriman berada di kisaran minus 1% hingga kurang dari 4%.

Segmen murah paling tertekan

Laporan Techwire Asia menyebut kelangkaan ini paling berat menekan perangkat low-end. Segmen tersebut kekurangan DRAM dan NAND, sehingga produsen harus memilih antara menaikkan harga atau memangkas fitur standar.

Counterpoint mencatat biaya komponen ponsel berkisar US$200 dan sudah naik 25% dari awal tahun. Kenaikan itu lebih berat dirasakan segmen murah karena margin keuntungannya tipis dan ruang untuk menyerap biaya tambahan sangat terbatas.

Pada saat yang sama, segmen menengah dan atas masih relatif lebih terkendali karena sebagian biaya bisa diteruskan ke harga jual. Namun untuk pasar Asia Pasifik yang banyak bergantung pada ponsel murah, tekanan harga seperti ini tetap menjadi masalah besar.

Kelangkaan chip memori diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat. Counterpoint memperkirakan harga chip memori bisa naik hingga 40% selama Q2-2026, dengan biaya produksi perangkat ikut terdorong naik sekitar 8%-15%.

Bagi pedagang HP di ITC Kuningan, angka-angka itu berarti tantangan belum selesai. Selama harga perangkat terus naik dan konsumen makin selektif, penjualan di pusat ponsel tersebut kemungkinan masih akan bergerak lambat.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait