Serangga Penyerbuk Dari Afrika Dibawa Ke Indonesia, Sawit Bisa Naik 15% Dalam 6 Bulan

Serangga penyerbuk dari Afrika mulai dimanfaatkan untuk mendongkrak produktivitas kelapa sawit di Indonesia. Salah satu yang diintroduksi dari Tanzania disebut mampu menaikkan hasil sawit tanah air sekitar 10-15 persen.

Program ini berjalan di bawah inisiatif peningkatan produktivitas industri sawit nasional melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki. Ketua Umum Gapki, Eddy Martoni, menjelaskan bahwa pengenalan serangga penyerbuk menjadi salah satu langkah yang sedang dijalankan bersama pengembangan sumber daya genetik baru.

Langkah itu diarahkan untuk membantu proses pembentukan buah sawit agar berjalan lebih sempurna. Jika proses penyerbukan membaik, produksi tandan buah segar juga berpeluang ikut naik.

Dampak Mulai Terlihat dalam Enam Bulan

Eddy menyebut efek pelepasan serangga penyerbuk ini bisa terlihat relatif cepat. Ia memperkirakan hasil awalnya mulai muncul dalam waktu sekitar enam bulan setelah pelepasan dilakukan.

Pelepasan serangga penyerbuk tersebut belum dilakukan secara luas. Saat ini, programnya masih terbatas di lingkungan anggota konsorsium Gapki sebelum nantinya diperluas ke masyarakat.

Model bertahap ini dipakai agar penerapan di lapangan lebih terukur. Dengan begitu, evaluasi dampak pada produktivitas sawit dapat dipantau lebih jelas sebelum masuk ke skala yang lebih besar.

Sumber Genetik Baru Juga Disiapkan

Selain serangga penyerbuk, Gapki juga menyiapkan sumber daya genetik baru untuk mendukung peningkatan produksi. Eddy menilai pendekatan ini berpotensi memberi hasil yang lebih besar dibanding langkah penyerbukan saja.

Ia menyebut kebun sawit yang sebelumnya menghasilkan sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun bisa meningkat dua kali lipat jika sumber genetik baru ini berhasil diterapkan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perbaikan produktivitas tidak hanya bergantung pada penyerbukan, tetapi juga pada kualitas bahan tanam dan pengembangan genetik.

Program tersebut juga sudah dibahas bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Pertemuan itu membahas rencana pelepasan serangga penyerbuk serta sumber daya genetik terbaru yang disiapkan untuk kebun sawit nasional.

Rencana Pelepasan di Medan

Gapki berencana meminta Amran Sulaiman meresmikan pelepasan program itu. Rencana awalnya, pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik dilakukan di Medan, Sumatra Utara, setelah Lebaran pada bulan April.

Tahap pelepasan yang dibuat bertahap memperlihatkan bahwa program ini masih dalam proses pengembangan. Namun, dari penjelasan Gapki, arah kebijakannya sudah jelas, yaitu memperkuat produktivitas sawit melalui kombinasi teknologi hayati dan perbaikan genetik.

Bagi industri sawit, langkah ini penting karena kenaikan produktivitas menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya saing. Jika peningkatan 10-15 persen dari serangga penyerbuk dapat tercapai, dampaknya bisa menjadi tambahan pasokan yang signifikan bagi sektor sawit nasional.

Pada saat yang sama, pengembangan sumber daya genetik dari Tanzania dan proses yang juga sedang berjalan dengan Zambia menunjukkan bahwa upaya peningkatan produktivitas sawit Indonesia masih terus diperluas. Dengan penerapan yang hati-hati dan bertahap, program ini diposisikan sebagai salah satu cara untuk mengerek hasil kebun sawit tanpa harus langsung menambah luas lahan secara besar-besaran.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait