Bos NASA Jared Isaacman menyatakan dukungannya agar Pluto kembali diakui sebagai planet ke-9 Tata Surya. Pernyataan itu ia sampaikan saat rapat dengan Senat soal anggaran pemerintah, ketika senator Jerry Moran menanyakan pandangannya tentang Pluto.
Moran berasal dari Kansas, negara bagian yang juga berkaitan dengan Clyde Tombaugh, astronom yang menemukan Pluto. Isaacman lalu menjawab singkat bahwa dirinya berada di kubu yang ingin “jadikan Pluto planet lagi”.
Mengapa Pluto turun status
Pluto kehilangan status planet pada 2006 setelah International Astronomical Union atau IAU mengubah definisi planet. Keputusan itu memicu perdebatan luas karena Pluto yang selama puluhan tahun dikenal sebagai planet kesembilan mendadak masuk kategori planet kerdil.
IAU menetapkan tiga syarat agar sebuah objek langit disebut planet. Objek itu harus mengorbit Matahari, cukup besar hingga berbentuk bola, dan orbitnya tidak terganggu oleh objek lain.
Pluto memenuhi dua syarat pertama, tetapi gagal pada syarat ketiga. Orbit Pluto dinilai masih “berbagi” wilayah dengan Sabuk Kuiper dan sejumlah planet kerdil lain.
Argumen yang kembali menguat
Pendukung Pluto menilai kriteria ketiga terlalu ketat dan tidak sepenuhnya adil. Mereka juga menyoroti bahwa orbit Bumi dan Jupiter pun memiliki banyak asteroid, sehingga keberadaan benda langit lain di sekitar orbit tidak selalu cukup untuk mencabut status planet.
Isaacman juga menyinggung perlunya membuka kembali pembahasan ilmiah tentang Pluto. Ia mengatakan pihaknya sedang menyiapkan karya ilmiah yang akan diajukan ke komunitas sains yang lebih luas agar isu tersebut didiskusikan kembali.
Dalam pernyataannya, Isaacman menekankan bahwa upaya itu juga bertujuan memberi penghargaan yang layak kepada Clyde Tombaugh. Nama Tombaugh memang melekat erat dengan sejarah Pluto karena ia menemukan objek tersebut berdasarkan gambar yang ditangkap Lowell Observatory di Arizona pada 1930-an.
Peran IAU tetap menentukan
Meski ada dorongan dari dalam NASA, keputusan akhir tidak berada di tangan badan antariksa Amerika Serikat itu. IAU tetap menjadi lembaga yang berwenang menetapkan definisi dan nama objek langit di seluruh dunia.
Artinya, bila NASA dan pihak pendukung Pluto ingin mengubah status itu, mereka harus meyakinkan komunitas astronom internasional. Proses tersebut tidak sederhana karena menyangkut definisi dasar yang dipakai dalam ilmu astronomi modern.
Perdebatan soal Pluto pun kembali menyorot pertanyaan lama tentang batas antara planet dan planet kerdil. Bagi sebagian astronom, keputusan IAU penting untuk menjaga konsistensi klasifikasi benda langit, sementara bagi sebagian lain, Pluto tetap memiliki tempat khusus dalam sejarah penemuan Tata Surya.
Nama Pluto sendiri tetap kuat di ingatan publik meski status ilmiahnya berubah. Dukungan terbuka dari calon pimpinan NASA seperti Isaacman menunjukkan bahwa diskusi tentang Pluto belum benar-benar berakhir, terutama ketika dikaitkan dengan warisan ilmiah Clyde Tombaugh dan perdebatan definisi planet yang masih terus memicu perbedaan pandangan di kalangan astronom.
Source: www.cnbcindonesia.com






