Iran tampaknya tidak hanya mengandalkan ancaman penutupan Selat Hormuz untuk menekan dunia. Negara itu kini disebut tengah melirik sumber duit baru yang lebih senyap, tetapi berpotensi sama mengganggunya: kabel internet bawah laut yang melintas di selat strategis tersebut.
Langkah ini penting karena Selat Hormuz bukan cuma jalur energi, melainkan juga urat nadi data bagi sejumlah negara Teluk. Banyak kabel bawah laut melewati perairan itu dan menopang konektivitas untuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.
Kabel internet jadi sasaran baru
Wacana pungutan terhadap kabel laut itu muncul dari kalangan yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Tasnim, kantor berita yang berafiliasi dengan IRGC, memuat gagasan ini dalam artikel berjudul Three Practical Steps for Generating Revenue from Straits of Hormuz Internet Cables.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa Iran bisa menarik pendapatan lewat tiga langkah. Skemanya mencakup izin awal dan biaya perpanjangan tahunan bagi pemilik atau operator kabel asing, kewajiban perusahaan teknologi yang memakai kabel bawah laut untuk tunduk pada hukum Iran, serta pengalihan kendali dan pemeliharaan kabel ke perusahaan dalam negeri.
Model semacam itu akan mengubah kabel internet menjadi aset yang bisa dipungut biaya secara langsung. Di saat yang sama, Iran dapat memperluas pengaruhnya atas arus data yang selama ini dianggap vital bagi kawasan.
Risiko gangguan bisa cepat meluas
Fars, media lain yang juga terafiliasi dengan IRGC, turut mendorong gagasan serupa. Media itu menyebut gangguan terhadap kabel internet di Selat Hormuz berpotensi merugikan hingga puluhan atau ratusan juta dolar hanya dalam beberapa hari.
Dampaknya tidak berhenti pada perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat. Bisnis lokal dan perusahaan global lain yang bergantung pada koneksi stabil di kawasan itu juga akan ikut terpukul.
Karena itu, kabel bawah laut di Selat Hormuz kini dinilai memiliki nilai strategis yang setara dengan jalur logistik penting lain di kawasan. Jika akses atau operasinya terganggu, efeknya bisa merambat cepat ke perdagangan digital, komunikasi bisnis, dan layanan yang bergantung pada internet.
Bukan gagasan yang muncul tiba-tiba
Ide ini sebenarnya bukan hal baru. Seorang sumber menyebut Tasnim sudah memetakan kabel internet dalam laporan beberapa bulan lalu, yang menunjukkan pembahasan ini telah berjalan cukup lama di lingkaran terkait.
Laporan itu juga menyoroti pentingnya kabel laut di Selat Hormuz bagi banyak negara yang memiliki hubungan erat dengan Barat. Artinya, setiap perubahan atas jalur data di selat itu berpotensi memicu dampak yang jauh lebih luas dari sekadar isu regional.
Bagi Iran, kabel internet bawah laut bisa menjadi kartu tawar baru di tengah ketegangan yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan minyak. Jika skema pungutan itu benar-benar dijalankan, tekanan terhadap dunia tidak lagi datang hanya dari harga energi, tetapi juga dari arus data yang menopang ekonomi modern.
Source: www.cnbcindonesia.com