Nvidia mulai menerima kenyataan pahit bahwa posisinya di China semakin melemah. CEO Jensen Huang secara terbuka mengakui perusahaan itu telah “kebobolan besar” di pasar chip AI China ke Huawei.
Pernyataan itu menjadi sinyal paling jelas bahwa pembatasan ekspor chip AI canggih dari Amerika Serikat justru mempercepat pergeseran kekuatan di China. Alih-alih menekan industri lokal, kebijakan Washington mendorong pemain seperti Huawei untuk membangun kemampuan chip AI sendiri.
China makin jauh dari Nvidia
Huang menilai permintaan di China masih sangat besar, tetapi pasar tersebut kini bergerak dengan ekosistem lokal yang semakin solid. Ia menyebut Huawei “sangat, sangat kuat” dan bahkan mencetak rekor tahunan.
Menurut Huang, Nvidia praktis sudah terpinggirkan setelah perusahaan itu meninggalkan pasar tersebut. Ia juga menegaskan bahwa ekosistem chip lokal China berjalan cukup baik karena ruang yang ditinggalkan perusahaan asal AS itu.
Komentar tersebut muncul di tengah kinerja Nvidia yang justru tetap sangat kuat secara global. Perusahaan melaporkan pendapatan melonjak 85% menjadi US$81,62 miliar pada awal 2026 dibandingkan periode sebelumnya.
Nvidia juga mengumumkan rencana buyback senilai US$89 miliar dan menaikkan pembayaran dividen. Meski begitu, Huang tetap menyoroti hilangnya pasar China sebagai kerugian besar bagi perusahaan.
Lisensi ekspor membuat akses makin sulit
Salah satu titik balik utama terjadi ketika pemerintahan Trump memberi tahu Nvidia pada April lalu bahwa perusahaan memerlukan lisensi untuk mengekspor chip ke China dan beberapa negara lain. Sejak itu, Nvidia efektif tersingkir dari salah satu pasar data center terpentingnya.
Pasar China sebelumnya menyumbang setidaknya seperlima pendapatan data center Nvidia. Namun, pembatasan ekspor yang ketat membuat posisi perusahaan itu berubah drastis.
Huang memberi nada sangat hati-hati soal peluang pembukaan kembali pasar China dalam waktu dekat. Ia mengatakan Nvidia sudah meminta investor untuk tidak mengharapkan apa pun terkait persetujuan penjualan chip canggih ke negara tersebut.
“Saya tidak memiliki ekspektasi apa pun,” kata Huang kepada CNBC International. Ia menambahkan bahwa perusahaan telah memberi tahu analis dan investor agar tidak berharap pada persetujuan baru.
Masih berharap kembali jika situasi berubah
Meski nada Huang terdengar pesimistis, Nvidia belum menutup pintu sepenuhnya. Huang mengatakan perusahaan akan sangat senang melayani pasar China lagi jika kondisi memungkinkan.
Ia menegaskan Nvidia masih memiliki banyak pelanggan dan mitra di sana, serta sudah beroperasi di China selama 30 tahun. Pernyataan itu menunjukkan China tetap menjadi pasar yang penting, meski aksesnya kini sangat terbatas.
Di sisi lain, Huang baru saja ikut hadir dalam pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping di Beijing pada pekan lalu setelah diajak di menit-menit terakhir. Namun, kunjungan itu belum memberi kejelasan apakah chip H200 Nvidia akan diizinkan masuk ke China.
Reuters melaporkan pekan lalu bahwa beberapa perusahaan China telah menerima persetujuan dari Kementerian Perdagangan AS untuk membeli chip H200. Perusahaan yang disebut antara lain Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com.
Namun, seorang perwakilan perdagangan AS mengatakan kontrol ekspor chip bukan bagian dari diskusi dalam pembicaraan dengan China pekan lalu. Itu menandakan pelonggaran besar atas pembatasan penjualan H200 masih jauh dari pasti.
Nvidia fokus ke pertumbuhan AI yang lebih luas
Di tengah tekanan geopolitik itu, Nvidia terus memperluas rantai pasokannya secara agresif. Huang menyebut langkah tersebut sebagai peluang pertumbuhan besar dalam ekonomi AI yang lebih luas.
Ia juga mengatakan gagasan perusahaan yang menjadi berkali-kali lebih besar bukanlah hal yang mustahil. Nvidia, menurut dia, berinvestasi di seluruh lapisan industri AI yang ia sebut sebagai “kue lima lapis”.
Lima lapisan itu mencakup energi, chip, infrastruktur, model, dan aplikasi. Huang mengatakan prioritas utama Nvidia saat kas perusahaan terus bertambah adalah mendukung pemasok agar rantai pasok bisa mengikuti lonjakan permintaan.
“Saat kami tumbuh ratusan miliar dolar sekaligus, kami harus mendukung rantai pasokan kami sehingga mereka dapat mendukung pertumbuhan kami,” kata Huang. Dengan begitu, Nvidia tetap membidik ekspansi besar, meski di China perusahaan itu kini harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih sulit.
Source: www.cnbcindonesia.com