Raksasa China Masuk Daftar Hitam AS, Beijing Murka di Tengah Gencatan Dagang

Gelombang baru daftar hitam Amerika Serikat kembali menargetkan raksasa teknologi China, dan kali ini dampaknya terasa lebih luas. Alibaba, Baidu, BYD, Nio, hingga sejumlah perusahaan chip dan robotika masuk daftar yang dinilai membantu militer Beijing, memicu reaksi keras dari pemerintah dan korporasi China.

Langkah itu datang di tengah hubungan AS-China yang belum benar-benar stabil. Padahal, belum genap sebulan sejak Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Beijing untuk memperpanjang gencatan senjata dagang, Washington justru kembali mengirim sinyal keras lewat pembaruan daftar yang dikenal sebagai 1260H atau daftar CMC.

Daftar yang makin panjang

Versi terbaru yang dipublikasikan pada Senin waktu setempat memunculkan nama-nama yang sebelumnya sudah muncul pada pembaruan Februari. Di antaranya ada dua produsen chip memori besar China, CXMT dan YMTC.

Selain itu, daftar tersebut juga memuat WuXi AppTec di sektor bioteknologi, RoboSense Technology yang membuat robot berbasis AI, serta Unitree, perusahaan robot dan humanoid asal China. Kembalinya nama-nama itu menunjukkan bahwa fokus Washington tidak lagi hanya pada satu industri, melainkan pada ekosistem teknologi yang lebih luas.

Pembaruan daftar hitam ini juga memperkuat sinyal bahwa kekhawatiran AS terhadap keamanan nasional China terus melebar. Tekanan itu tidak hanya menyentuh produsen perangkat keras, tetapi juga perusahaan yang bergerak di bidang bioteknologi, kendaraan listrik, chip memori, hingga robotika canggih.

Reaksi keras dari perusahaan China

Alibaba menolak keras tuduhan bahwa mereka terkait dengan aktivitas militer. Perusahaan itu menyebut tidak ada dasar bagi pemerintah AS untuk memasukkannya ke daftar tersebut dan mengatakan akan menempuh semua tindakan hukum untuk melawan keputusan itu.

WuXi AppTec juga menyebut daftar tersebut keliru dan menyatakan akan mengambil langkah hukum. Baidu memberikan respons serupa dengan menyebut penetapan itu sepenuhnya salah, serta menegaskan akan memakai berbagai opsi yang tersedia untuk menghapus namanya dari daftar.

BYD, CXMT, YMTC, RoboSense, Unitree, BOE Technology Group, Tianma Microelectronics, dan TP-Link Technologies tidak segera memberikan komentar. Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington mengecam langkah AS dan menyebut Washington harus menghentikan praktik yang dinilai diskriminatif terhadap perusahaan-perusahaan China.

Juru bicara kedutaan meminta AS berhenti menciptakan iklim yang tidak adil bagi perusahaan China. Pernyataan itu menambah panjang daftar ketegangan diplomatik yang sudah lama membayangi hubungan dua negara ekonomi terbesar di dunia.

Dampak bisnis dan kontrak pemerintah

Meski daftar ini tidak secara resmi disebut sebagai sanksi, dampaknya tetap serius. Berdasarkan undang-undang AS yang berlaku, Kementerian Pertahanan dilarang mulai akhir bulan ini untuk melakukan kontrak langsung dengan perusahaan dalam daftar, lalu dilarang membeli produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga mulai tahun 2027.

Artinya, risiko bisnis bagi perusahaan yang masuk daftar tidak berhenti pada reputasi. Langkah tersebut juga dapat menimbulkan biaya material bagi perusahaan China maupun mitra bisnis mereka yang bergantung pada kontrak pemerintah AS.

Nio mengatakan dalam pengajuan ke bursa saham Hong Kong bahwa mereka tidak akan terpengaruh oleh pembatasan pengadaan. Alibaba juga menyatakan daftar itu tidak akan memengaruhi kemampuan mereka untuk tetap menjalankan bisnis seperti biasa di AS maupun di negara lain.

Namun, penempatan nama dalam daftar tetap mengirimkan pesan kuat ke pemasok Pentagon dan lembaga pemerintah AS lainnya. Sejumlah perusahaan bahkan telah menggugat pemerintah AS atas pencantuman nama mereka di daftar serupa.

Isyarat persaingan yang makin tajam

Craig Singleton dari Foundation for Defense of Democracies menilai publikasi daftar ini menjadi pengingat keras atas meningkatnya persaingan AS-China setelah pertemuan Trump-Xi. Menurut dia, Washington kini tidak lagi memperlakukan perusahaan-perusahaan tersebut sebagai entitas yang berdiri sendiri.

Ia menyebut AS sedang memandang seluruh lapisan teknologi China sebagai arena yang diperebutkan secara strategis. Karena itu, daftar hitam terbaru ini bukan hanya soal satu atau dua perusahaan, melainkan penanda bahwa kompetisi teknologi antara Beijing dan Washington masih terus mengeras.

Di tengah situasi itu, masuknya perusahaan seperti Unitree juga menarik perhatian karena Nvidia asal AS baru mengumumkan rencana kerja sama dengan Unitree untuk mengembangkan robot penelitian pada 1 Juni 2026. Hubungan bisnis lintas negara seperti ini kini harus berhadapan dengan risiko geopolitik yang semakin tinggi.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version