AI Makin Dikhawatirkan Jadi Ancaman Kerja, Survei Baru Ungkap Ketakutan yang Meluas

Ketakutan kehilangan pekerjaan akibat kecerdasan buatan makin terasa di Amerika Serikat. Survei terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan 53% warga AS khawatir AI akan menggantikan pekerjaan di rumah tangga mereka.

Kekhawatiran itu muncul di tengah gelombang adopsi AI yang makin luas. Sebanyak 73% warga AS menyatakan khawatir terhadap meningkatnya penggunaan AI, naik dari 68% pada survei Reuters/Ipsos pada 2023.

Di sisi lain, ada kelompok yang belum merasa terancam. Survei enam hari itu mencatat 37% responden tidak khawatir sama sekali, sementara 10% lainnya tidak yakin atau memilih tidak menjawab.

Keresahan terhadap AI tidak hanya muncul di level publik, tetapi juga di dunia kerja. Sejumlah perusahaan besar sudah mengaitkan PHK dengan strategi pengembangan AI, termasuk Intuit yang bulan lalu menyatakan akan memangkas 17% tenaga kerja globalnya untuk merampingkan operasional dan memperkuat investasi AI.

Situasi itu membuat dampak AI terhadap pasar tenaga kerja menjadi sorotan lebih tajam. Meski begitu, kondisi pasar kerja AS secara keseluruhan belum menunjukkan pelemahan besar karena perekonomian masih mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang solid dalam beberapa bulan terakhir.

Kekhawatiran juga hadir dari pengalaman pribadi pekerja. Jennifer Schalhoub, penulis lepas berusia 62 tahun dari Little Ferry, New Jersey, mengatakan baru-baru ini ia kehilangan pekerjaan menulis surat kepada pejabat pemerintah untuk mendukung kebijakan tertentu.

Ia menduga perkembangan AI ikut berperan dalam hilangnya pekerjaan itu. “AI mengambil alih karena orang semakin kurang peduli dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan,” kata Schalhoub kepada Reuters.

Pergeseran ini makin terasa karena AI sudah menjadi bagian dari kebiasaan digital banyak orang. Survei Reuters/Ipsos menemukan 40% warga AS menggunakan AI secara rutin, dan angka itu jauh lebih tinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi.

Sebanyak 50% lulusan perguruan tinggi mengaku rutin memakai AI, sedangkan pada responden tanpa gelar sarjana angkanya hanya 34%. Pola ini menunjukkan teknologi tersebut bukan hanya dikonsumsi, tetapi juga semakin melekat dalam aktivitas sehari-hari kelompok berpendidikan tinggi.

Namun, meningkatnya penggunaan tidak otomatis mengurangi rasa waswas. Kekhawatiran publik ikut dipicu oleh peran AI yang makin luas, mulai dari alat propaganda politik, hiburan, hingga peperangan, yang membuat sejumlah pemimpin dunia termasuk Paus Leo XIV memberi peringatan.

Di ruang akademik pun, respons terhadap AI mulai terasa keras. Bulan lalu, mahasiswa Universitas Arizona bahkan mencemooh mantan CEO Google Eric Schmidt saat ia membahas dampak AI dalam sebuah upacara wisuda.

AI mulai menjadi perhatian luas di Amerika Serikat sejak 2022 ketika OpenAI meluncurkan ChatGPT. Produk itu mampu menjawab pertanyaan layaknya manusia dan mengubah cara orang mencari informasi di internet, sekaligus menantang dominasi mesin pencari Google milik Alphabet.

Di saat yang sama, perusahaan AI lain seperti Anthropic terus memperluas bisnisnya lewat produk seperti asisten pemrograman Claude Code. Anthropic dan OpenAI kini juga menjadi sorotan Wall Street karena rencana mereka menawarkan saham kepada publik.

Kecemasan atas masa depan kerja bahkan mulai masuk ke ruang terapi. Lauren Hayes, psikolog klinis di negara bagian Washington, mengaku khawatir setelah beberapa kliennya mulai berkonsultasi dengan AI di sela-sela sesi terapi untuk membantu mengatasi kecemasan.

“Saya tidak percaya kecerdasan buatan mampu memiliki pemahaman dan kepekaan sekompleks manusia,” kata Hayes. Bagi banyak orang, persoalannya kini bukan lagi apakah AI akan hadir di tempat kerja, melainkan seberapa besar perubahan itu akan menggeser rasa aman dalam mencari nafkah.

[crp] Source: www.cnbcindonesia.com

Terkait